INDOZONE.ID - Fenomena working poor atau pekerja yang tetap miskin menjadi salah satu persoalan sosial yang semakin sering dibahas di berbagai negara, termasuk di Indonesia.
Istilah ini merujuk pada kondisi ketika seseorang memiliki pekerjaan, tetapi penghasilannya masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak.
Kondisi ini menunjukkan bahwa memiliki pekerjaan tidak selalu menjamin seseorang terbebas dari kemiskinan. Bahkan di Indonesia sekarang, sebagian masyarakat tetap hidup dalam kemiskinan meskipun mereka bekerja setiap hari.
Baca juga: Tiba-Tiba Hilang Tanpa Kabar? Ini Alasan Psikologis di Balik Fenomena Ghosting
Apa Itu Working Poor?
Working poor adalah pekerja yang penghasilannya berada di bawah garis kemiskinan.
Organisasi buruh internasional menyebut kelompok ini sebagai orang yang bekerja namun tetap hidup dalam rumah tangga dengan pendapatan di bawah standar kemiskinan yang ditetapkan secara nasional atau internasional.
Dengan kata lain, meskipun seseorang memiliki pekerjaan dan aktif dalam dunia kerja, pendapatan yang diperoleh tidak cukup untuk mengangkat dirinya dan keluarganya keluar dari kemiskinan.
Konsep ini juga digunakan untuk mengukur hubungan antara kondisi pekerjaan dan tingkat kemiskinan dalam suatu negara.
Penyebab Fenomena Working Poor
Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang tetap miskin meskipun sudah bekerja:
1. Upah yang Rendah
Banyak pekerjaan menawarkan upah yang tidak sebanding dengan biaya hidup. Pendapatan yang rendah membuat pekerja sulit memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, dan pendidika.
2. Kualitas Pekerjaan yang Rendah
Sebagian pekerja hanya mendapatkan pekerjaan dengan produktivitas rendah, jam kerja tidak stabil, atau tanpa jaminan kerja. Hal ini membuat pendapatan mereka tidak menentu.
3. Tingginya Biaya Hidup
Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya perumahan, dan layanan kesehatan sering kali lebih cepat dibandingkan peningkatan upah pekerja.
4. Minimnya Perlindungan Sosial
Tidak semua pekerja memiliki akses terhadap jaminan kesehatan, asuransi kerja, atau program perlindungan sosial yang dapat membantu ketika terjadi krisis ekonomi.
5. Pendidikan dan Keterampilan yang Terbatas
Pekerja dengan tingkat pendidikan dan keterampilan rendah biasanya memiliki akses terbatas terhadap pekerjaan dengan upah yang lebih tinggi.
Baca juga: Fenomena Alam Langka, Awan Pelangi Terekam Hiasi Langit Aceh Tengah
Dampak bagi Kehidupan Sosial
Fenomena working poor tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada masyarakat secara luas.
Tekanan ekonomi yang terus-menerus dapat memicu stres, kelelahan kerja, serta menurunnya kualitas hidup pekerja dan keluarganya.
Selain itu, kondisi ini juga dapat memperlebar kesenjangan sosial. Ketika sebagian masyarakat tetap berada dalam lingkaran kemiskinan meskipun sudah bekerja, peluang untuk meningkatkan status ekonomi menjadi semakin sulit.
Organisasi Buruh Internasional bahkan menegaskan bahwa pekerjaan tidak selalu menjadi jaminan untuk keluar dari kemiskinan jika kualitas pekerjaan dan tingkat upahnya tidak memadai.
Bagaimana Cara Mengatasi Working Poor?
Lantas, bagaimana mengatasi fenomena working poor? Hal ini membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat.
Beberapa langkah yang sering diusulkan antara lain meningkatkan upah minimum, memperluas akses pendidikan dan pelatihan keterampilan, menciptakan lapangan kerja yang lebih berkualitas, serta memperkuat sistem perlindungan sosial bagi pekerja.
Dengan kebijakan yang tepat, diharapkan pekerjaan tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan hidup pekerja dan keluarganya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ilostat.ilo.org