INDOZONE.ID - Survei FINETIKS periode Desember 2025–Maret 2026 menemukan, sebanyak 56 persen karyawan profesional Indonesia tidak punya dana darurat yang memadai.
Sementara 72 persen mengaku kondisi finansial mereka langsung berdampak pada performa kerja.
Stres finansial karyawan bukan lagi masalah pribadi, tapi sudah jadi risiko bisnis.
Survei ini mencakup sektor teknologi, pendidikan, media digital, kreatif, dan fintech.
Hasilnya tekanan finansial sudah jadi bagian dari keseharian banyak pekerja Indonesia.
Sekitar 58 persen responden mengaku pernah menunda kebutuhan penting karena arus kas terbatas. Lebih mengejutkan, 51 persen masih punya utang konsumtif aktif, dari PayLater, kartu kredit, sampai pinjaman online.
Baca juga: Cuti Menikah Berapa Hari? Ini Hak Karyawan dan Cara Pintar Ajukan ke HRD
Baca juga: Kenali 10 Jenis Soal Psikotes Seleksi Kerja dan Fungsinya, Calon Karyawan Wajib Tahu!
Sektor Kreatif Paling Terdampak
Angka paling mencolok datang dari sektor kreatif. Sebanyak 100 persen responden mengaku mengalami stres finansial.
Sektor pendidikan mencatat tingkat utang konsumtif tertinggi, mencapai 69 persen.
Media digital menyusul dengan 74 persen responden yang terdampak tekanan finansial.
Bahkan di sektor fintech, yang secara literasi keuangan relatif lebih baik tekanan finansial tetap ditemukan.
Hal tersebut menunjukkan, pengetahuan saja tidak cukup tanpa sistem dan kebiasaan finansial yang kuat.
Di sektor teknologi, 50 persen karyawan masih punya utang konsumtif aktif, terutama di kalangan milenial.
Dampaknya Hadir tapi Tidak Produktif
Dampaknya ke perusahaan lebih serius. Cameron Goh, CEO FINETIKS, menjelaskan fenomena yang kerap luput dari radar manajemen.
"Dalam banyak kasus, kondisi ini memicu fenomena 'presenteeism', di mana karyawan tetap hadir bekerja namun tidak sepenuhnya produktif. Dalam jangka panjang, situasi ini juga berpotensi meningkatkan risiko turnover yang menciptakan biaya produktivitas tersembunyi yang tidak terlihat dalam laporan kinerja, serta tidak tercapainya target perusahaan akibat rendahnya produktivitas," kata Cameron.
Presenteeism adalah kerugian yang tidak pernah muncul di laporan keuangan, tapi dampaknya nyata.
Pekerja hadir, absensi nol, tapi output jauh di bawah kapasitas sebenarnya.
Satu data yang seharusnya jadi perhatian HR dan manajemen, yakni 93 persen responden menyatakan kebutuhan akan program financial wellness dari perusahaan tempat mereka bekerja.
Cameron menegaskan bahwa pendekatan konvensional sudah tidak cukup.
"Kesehatan finansial karyawan seringkali dipandang sebagai urusan pribadi, padahal dampaknya sangat terasa dalam operasional bisnis sehari-hari, mulai dari produktivitas hingga kualitas pengambilan keputusan. Alhasil, kesehatan finansial karyawan menjadi risiko bisnis 'tersembunyi' yang dampaknya bisa signifikan," ujar Cameron.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Narasumber