Sering Merasa Jadi Teman yang “Merepotkan”? Hati-Hati, Bisa Jadi Kamu Sedang Dimanipulasi dalam Pertemanan!
INDOZONE.ID - Pertemanan idealnya menjadi ruang yang nyaman untuk saling mendukung, berbagi cerita, dan tumbuh bersama. Namun kenyataannya, tidak semua hubungan pertemanan berjalan sehat.
Banyak orang terjebak dalam toxic friendship tanpa menyadarinya, terutama ketika mereka terus merasa bersalah atas sikap buruk temannya sendiri.
Awalnya, tanda-tandanya sering terlihat sepele. Temanmu mudah marah saat kamu menolak ajakan mereka, ngambek ketika kamu sibuk dengan urusan pribadi, atau hanya datang saat membutuhkan bantuan tetapi menghilang ketika kamu sedang kesulitan.
Baca juga: Cewek Ini Tetap Gas UTBK Meski Diinfus, Datang ke Lokasi Ujian Pakai Ambulance
Yang bikin situasi ini berbahaya, kamu justru mulai menyalahkan diri sendiri. Kamu merasa menjadi teman yang buruk, terlalu sibuk, atau kurang perhatian.
Jika pola ini terus berulang, bisa jadi kamu sedang mengalami manipulasi emosional dalam pertemanan.
Selalu Merasa Bersalah Padahal Kamu Tidak Salah
Dalam pertemanan yang tidak sehat, seseorang bisa secara halus membuatmu merasa bertanggung jawab atas emosi mereka.
Ketika mereka marah karena pesanmu dibalas lama, kamu langsung panik dan meminta maaf.
Baca juga: Kesepian Justru Setelah Bertemu Teman? Bisa Jadi Kamu Ada di Lingkaran Pertemanan Toxic
Saat mereka kecewa karena kamu tidak bisa hadir di acara mereka, kamu merasa harus menebusnya dengan melakukan hal lain.
Bahkan ketika mereka bersikap dingin atau menjauh tanpa alasan jelas, kamu sibuk mencari apa kesalahanmu.
Lama-lama kamu terbiasa menanggung rasa bersalah yang sebenarnya bukan tanggung jawabmu.
Kamu Selalu Ada untuk Mereka, Tapi Tidak Sebaliknya
Salah satu ciri toxic friendship adalah hubungan yang terasa berat sebelah, misalnya:
Baca juga: Temanmu Sering Mencoba Mengubah Dirimu, Bisa Jadi Itu Tanda Toxic Friendship!
- Mereka meminta bantuan tanpa sungkan.
- Mereka sering datang saat punya masalah.
- Mereka curhat berjam-jam dan berharap kamu selalu ada.
- Namun saat kamu sedang kesulitan? Mereka justru sibuk, menghilang, atau meremehkan masalahmu.
Karena sudah terbiasa dimanipulasi, kamu mungkin tetap berusaha menjadi teman yang “baik” dengan selalu membantu mereka. Padahal hubungan pertemanan yang sehat seharusnya berjalan dua arah.
Mereka Sering Menyoroti Kekuranganmu
Manipulasi dalam pertemanan juga bisa muncul lewat komentar yang terlihat seperti candaan, contoh:
Baca juga: Dia Cuma Muncul Saat Butuh Kamu? Waspada, Ini Tanda Kamu Lagi “Dimanfaatkan” Temanmu!
“Kamu tuh terlalu sensitif.”
“Makanya jangan baperan.”
“Untung aku masih mau temenan sama kamu.”
Sekilas terdengar seperti bercanda, tetapi jika terus dilakukan, komentar seperti ini bisa merusak rasa percaya diri. Tanpa sadar, kamu mulai percaya bahwa kamu memang sulit diterima orang lain.
Kamu Merasa Bersyukur Hanya Karena Mereka Mau Berteman Denganmu
Ini salah satu dampak manipulasi yang sering tidak disadari.
Karena terlalu sering dikritik atau dibuat merasa kurang baik, kamu mulai merasa beruntung hanya karena mereka masih mau berteman denganmu.
Saat mereka bersikap baik sekali saja, kamu menganggap itu sebagai sesuatu yang luar biasa. Padahal perlakuan baik, rasa hormat, dan dukungan adalah hal normal dalam pertemanan sehat.
Dampaknya Bisa Serius untuk Kesehatan Mental
Toxic friendship yang berlangsung lama dapat memicu berbagai masalah emosional, seperti overthinking berlebihan, stres, rasa cemas berlebihan, rasa rendah diri, sulit percaya pada orang lain, serta kelelahan emosional.
Dalam beberapa kasus, seseorang bahkan kesulitan membangun pertemanan baru karena trauma dari hubungan sebelumnya.
Baca juga: Ketemu Teman Malah Bikin Kamu Nggak Nyaman? Itu Bisa Jadi Tanda Pertemanan yang Nggak Sehat!
Cara Mengenali Pertemanan yang Sehat
Pertemanan yang sehat tidak membuatmu merasa takut melakukan kesalahan kecil. Teman yang baik tetap bisa memberi kritik, tetapi tidak menjatuhkan harga dirimu.
Mereka menghargai batasanmu, mendukungmu saat sulit, dan tidak membuatmu merasa harus terus membuktikan diri agar diterima.
Jika kamu merasa terus lelah secara emosional setelah berinteraksi dengan seseorang, mungkin sudah waktunya mengevaluasi hubungan pertemanan tersebut.
Ingat, teman sejati tidak membuatmu merasa kecil hanya agar mereka bisa merasa lebih besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline