INDOZONE.ID - Senyum sipu tersimpul dari sudut-sudut bibir mereka, warga pesisir Maluku usai mendapat daging kurban yang baru dipotong pada hari ini, Jumat (29/5/2026). Bukan tanpa alasan, kurban di wilayah pesisir yang minim dengan akses internet ini sangat sekali jarang berlangsung.
Jurnalis INDOZONE berkesempatan mendatangi Desa Rohua, Sepa, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah. Perjalanan dimulai dari wilayah Ambon yang ditempuh cukup jauh.
Bukan lagi melalui daratan, perjalanan harus melawan ombak pantai di Indonesia timur yang cukup tinggi. Terombang-ambing berjam-jam lamanya, tim akhirnya tiba di pelabuhan dilanjut menggunakan mobil untuk tiba di lokasi Desa.
Salat jumat digelar di masjid sedergana mereka yang posisinya ada dipinggir jalan utama. Jemaah tidak terlalu banyak, salat-pun digelar.
Baca juga: Dompet Dhuafa Terjang Ombak, Bawa Sapi untuk Idul Adha Warga di Pedalaman Pulau Tiga Maluku
Sekitar pukul 13.00 WIT lepas salat Jumat, prosesi pemotongan hewan kurban di desa itu tengah dipersiapkan. Sebanyak tiga ekor sapi dari Dompet Dhuafa dieksekusi.
"Total ada tiga ekor sapi. Disini kira baru pertama memberikan. Alasanya karena di sini warganya menengah ke bawah. Yang kaya hanya beberapa saja," ujar Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Cabang Maluku, La Januri saat berbincang di lokasi.
Imam, warga sekitar menuturkan jika pemotongan daging kurban di wilayah ini sangatlah jarang. Pasalnya tidak ada warga yang menyumbang hewan kurban selama ini.
"Kadang-kadang hewan kurban kita dapat itu kambing dari pihak luar itupun tidak setiap hari," kata Imam.
Baca juga: Dompet Dhuafa Maluku Sebar 180 Sapi ke Pelosok di Momen Idul Adha 1447 H
Proses pembagian dengan sasaran 40 KK warga muslim dilakukan. Pembagian daging cukup unik lantaran menggunakan daun pisang dibalut daun kelapa.
Islam Minoritas, Berbagi Hingga Suku Adat
Mengulik lebih dalam dari desa ini, rupanya Islam di sana minoritas. Terdapat sebuah suku di sana yang belum memeluk agama Islam, namun berdampingan.
Suku tersebut memiliki ciri khas tersendiri seperti menggunakan sarung mengatung, ikat kepala berwarna merah hingga rumah adat unit berbentuk panggung.
"Di sini Islam minoritas. Di sini banyak animisme. Kepala Dusun di sini saja dari mereka," ucap Imam.
Seolah tak peduli perbedaan, warga tampak membungkus daging tersebut dan memberikan ke warga adat di sana. Suka cita dan kerukunan tampak dari kedua belah pihak tersebut.
Daging Jadi Makanan Mewah
Di sisi lain, daging sendiri ternyata menjadi makanan mewah disana. Daging sapi jarang mereka makan jika tidak ada momen-momen tertentu.
"Masyarakat sangat bersyukur dengan adanya program ini, tahun ini ada rezeki. Di sini daging sapi itu kadang ada, kadang tidak. Jarang sekali kami komsumsi itu," tutup cerita Imam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan