Ilustrasi nyeri akibat osteoartritis lutut. (Freepik)
INDOZONE.ID - Osteoartritis merupakan bentuk radang sendi yang paling umum dialami lansia. Kondisi ini biasanya ditandai dengan rasa nyeri dan peradangan pada persendian.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 33 juta orang dewasa di Amerika Serikat, hidup dengan osteoartritis. Risiko kondisi ini meningkat, seiring bertambahnya usia, dengan hampir 40 persen orang di atas 70 tahun di seluruh dunia mengalaminya.
Meskipun bisa menyerang berbagai sendi, osteoartritis paling sering terjadi pada lutut. Kondisi ini menyebabkan nyeri, gangguan berjalan, dan menurunkan kualitas hidup.
Dikutip dari Medical News Today, perawatan osteoartritis yang ada saat ini hanya dapat meredakan gejala, tetapi belum bisa menyembuhkan sepenuhnya.
CDC merekomendasikan beberapa langkah untuk membantu mencegah sekaligus mengendalikan osteoartritis, antara lain:
Baca juga: 6 Jenis Makanan yang Sebaiknya Dihindari oleh Penderita Radang Sendi
Penelitian terbaru dari University of Utah, New York University, dan Stanford University, yang dipublikasikan di The Lancet Rheumatology, menemukan, mengubah sudut kaki saat berjalan, dapat memperlambat perkembangan dan meredakan nyeri osteoartritis lutut.
Dr. David Kruse, dokter spesialis kedokteran olahraga dari Cedars-Sinai Orthopaedics Los Angeles, menilai hasil penelitian ini menjanjikan.
“Intervensi personal yang mengoptimalkan pergerakan sendi, terbukti memberi hasil positif. Fakta bahwa perubahan sederhana dapat memperlambat progres osteoartritis adalah temuan yang sangat menarik,” ujarnya.
Peserta studi berusia 18 tahun ke atas, seluruhnya mengalami osteoartritis lutut tahap awal. Selama 6 minggu, kelompok intervensi dilatih untuk mengubah sudut langkah kaki (toe-in atau toe-out) sekitar 5–10 derajat.
Ilustrasi mengubah cara berjalan yang dapat meredakan nyeri osteoartritis lutut. (Pexels/Emre Kuzu)
Mereka kemudian diminta mempraktikkannya setiap hari setidaknya 20 menit hingga terbiasa.
Setelah satu tahun, hasilnya cukup signifikan:
“Temuan ini sangat menggembirakan karena menunjukkan potensi perlambatan degradasi tulang rawan melalui pelatihan berjalan,” kata Dr. Kruse.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical News Today