Ilustrasi anak yang mengalami mata juling atau strabismus. (Freepik)
INDOZONE.ID - Strabismus atau dikenal sebagai mata juling, merupakan gangguan pada koordinasi otot mata yang menyebabkan posisi kedua mata tidak sejajar.
Kondisi ini dapat membuat salah satu mata tampak mengarah ke dalam, ke luar, ke atas, atau ke bawah. Sementara mata lainnya, tetap fokus ke satu titik.
Dikutip dari American Optometric Association, normalnya, enam otot yang melekat pada setiap bola mata bekerja secara sinkron di bawah kendali otak. Sehingga, kedua mata bergerak bersamaan dan memandang ke arah yang sama.
Namun, ketika koordinasi otot terganggu, terjadilah penyimpangan posisi mata atau strabismus.
Baca juga: Waspada Retinoblastoma, Kanker Mata pada Anak yang Umum Terjadi
Mata juling dapat terjadi karena gangguan pada otot mata, saraf yang mengatur gerakan mata, atau pusat kendali di otak. Beberapa kondisi kesehatan umum seperti sindrom Down, cerebral palsy, stroke, atau cedera kepala juga dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan ini.
Faktor risiko lainnya meliputi:
Mata juling biasanya muncul pada bayi dan anak-anak di bawah usia tiga tahun, meskipun orang dewasa pun bisa mengalaminya.
Banyak orang tua salah mengira, anak akan ‘sembuh dengan sendirinya’. Padahal tanpa penanganan, kondisi ini bisa memburuk.
Ilustrasi seseorang mengalami gejala mata juling. (Freepik)
Mata juling dibedakan berdasarkan arah pergerakan mata:
Selain itu, mata juling juga dapat diklasifikasikan berdasarkan frekuensi munculnya (terus-menerus atau sesekali), serta apakah selalu terjadi pada mata yang sama atau bergantian antara kanan dan kiri.
Dua jenis mata juling yang paling sering dijumpai adalah:
Beberapa tanda umum strabismus meliputi:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: American Optometric Association