Ilustrasi kondisi yang memerlukan reparenting (freepik).
INDOZONE.ID - Banyak orang mengira healing bisa selesai cepat lewat terapi, journaling, atau meditasi.
Padahal, penyembuhan adalah proses panjang yang penuh naik turun.
Dalam perjalanan itu, banyak orang mengenal reparenting — konsep dari Lucia Capacchione di tahun 70-an.
Intinya: jika di masa kecil kita kurang mendapatkan rasa aman, cinta, dan validasi, inner child tumbuh membawa luka hingga dewasa. Akibatnya, muncul pola dalam bentuk:
Baca juga: Kopi atau Matcha, Mana yang Lebih Aman Diminum saat Menstruasi?
Tanpa sadar, kita berharap orang lain memperbaiki luka itu dan menjadi penyelamat emosional kita.
Padahal, rasa aman yang paling stabil sebenarnya berasal dari hubungan kita dengan diri sendiri. Dan di sinilah reparenting menjadi penting.
Baca juga: Nikotin Merusak Hidupmu! Ikuti 5 Langkah Mudah untuk Berhenti Merokok dan Vaping
Reparenting adalah proses memenuhi kembali kebutuhan emosional yang dulu terabaikan — tapi kali ini, kita sendiri yang memenuhinya.
Ini bukan tentang menyalahkan masa lalu, melainkan tentang mengambil peran sebagai support system terbaik untuk diri sendiri.
Ada dua inti dalam proses ini:
Baca juga: Badan Cepat Pegal dan Punggung Sering Sakit? Ini 7 Penyebab Utamanya
Beberapa ahli menyebut ada 4 fondasi yang membentuk reparenting, yaitu:
bukan untuk menjauh dari orang lain, tapi menjaga diri tetap aman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Positivepsychology.com