Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 07 APRIL 2026 • 18:30 WIB

Menkes BGS Dorong Tes Genomik Nasional, Bisa Cegah Penyakit Ganas hingga Risiko Kelainan Bayi

Menkes BGS Dorong Tes Genomik Nasional, Bisa Cegah Penyakit Ganas hingga Risiko Kelainan BayiPress Conference Simposium Peluncuran Next Generation Sequencing (NGS) di Jakarta. (Dewi Kania/Z Creators)

INDOZONE.ID - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mendorong peta jalan sekuensing genomik dengan teknologi UG200, atau dikenal sebagai tes genomik, untuk kesehatan masa depan. Tes genomik ini mampu membaca kode genetik (DNA) guna mencegah berbagai penyakit hingga kelainan pada bayi.

Dalam simposium “Peluncuran Next Generation Sequencing (NGS)” di Jakarta, Senin (6/4/2026), Menkes BGS mengatakan bahwa hadirnya tes genomik di Indonesia menjadi upaya penting dalam memperkuat layanan kesehatan berbasis teknologi. Selain itu, hal ini juga menjadi momentum untuk mempercepat pemanfaatan teknologi genomik dalam layanan kesehatan.

“Dengan teknologi yang lebih terjangkau, masyarakat bisa mendapatkan diagnosis yang lebih akurat dan pengobatan yang lebih tepat,” kata Menkes di Jakarta.

Baca juga: MCU Aja Gak Cukup, Tes Genomik Jadi Kunci Deteksi Risiko Penyakit Sejak Dini

Kementerian Kesehatan RI, lanjutnya, siap melakukan whole genome sequencing dengan melibatkan 200.000 masyarakat Indonesia. Menurutnya, langkah tersebut dapat membantu membangun referensi genom, pengobatan presisi, menekan efek samping obat, memprediksi dan mencegah penyakit, serta melacak sejarah dan penyakit endemik.

Lebih lanjut, Ketua Yayasan Satriabudi Dharma Setia (YSDS), dr. Vincentius Simeon Weo Budhyanto, menjelaskan bahwa tes genomik di Indonesia belum bisa dilakukan secara masif. Jika dibandingkan dengan Thailand, jumlahnya masih jauh tertinggal.

“Di Indonesia ada sekitar 20.000 sampai 40.000 tes per tahun dalam 10 tahun terakhir, jadi tidak banyak. Dibandingkan Thailand yang populasinya lebih sedikit saja, bisa mencapai 900.000 tes per tahun,” ungkap dr. Vincent.

Karena itu, pihaknya serius mengembangkan peta jalan sekuensing genomik di Asia Tenggara dengan bekerja sama dengan perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat, Ultima Genomics, Inc. dr. Vincent juga menyebut bahwa tes genomik memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Di Indonesia, tes genomik sudah digunakan untuk diagnosis kanker, penyakit langka, penyakit menular, hingga mencegah bayi lahir dengan Down syndrome.

“Tes genomik sangat efektif pada ibu hamil usia 10–11 minggu untuk mencegah bayi lahir dengan kelainan. Di luar negeri, jika ditemukan risiko tinggi Down syndrome atau kondisi lainnya, bisa dilakukan terminasi,” ujar dr. Vincent.

Namun, tingginya biaya tes genomik masih menjadi tantangan utama. Biaya sekuensing untuk satu orang bisa mencapai USD800 atau sekitar Rp13,6 juta.

Baca juga: Menkes Budi Gunadi Instruksikan Puskesmas Rutin Periksa Kualitas Udara

Kabar baiknya, dengan pemanfaatan teknologi UG200 yang dikembangkan oleh Ultima Genomics, biaya tersebut dapat ditekan hingga di bawah USD100 atau sekitar Rp1,7 juta.

General Manager Kawasan Asia dari Ultima Genomics, Jason Kang, mengatakan bahwa teknologi ini memungkinkan biaya tes menjadi lebih terjangkau sehingga akses masyarakat terhadap pemeriksaan genomik bisa semakin luas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Menkes BGS Dorong Tes Genomik Nasional, Bisa Cegah Penyakit Ganas hingga Risiko Kelainan Bayi

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!