Sabtu, 28 JUNI 2025 • 10:30 WIB

Dopamine Fasting Diam-Diam Merebak di Kalangan Gen Z, Gaya Hidup Tak Lazim tapi Efektif!

Author

Ilustrasi otak (freepik)

INDOZONE.ID - Jauh dari gawai, tanpa musik, tanpa camilan favorit, bahkan hanya duduk dan menatap dinding. Gaya hidup ini makin digandrungi anak muda.

Aktivitas tersebut bahkan punya nama keren: Puasa dopamin! Apa sih itu puasa dopamin? Kenapa mereka rela “menderita” demi otaknya? Mari kita bahas. 

Hidup di Era Digital yang Banjir Dopamin

Notifikasi, TikTok, makanan cepat saji, game online, bahkan suara notifikasi WhatsApp saja bisa memicu lonjakan dopamin di otak. 

Namun ternyata, hal-hal tersebut justru membuat banyak orang mengalami kelelahan mental tanpa mereka sadari. 

Otak butuh istirahat dari kesibukan yang kita ciptakan sendiri. Inilah yang memicu tren baru dopamine fasting, alias puasa dopamin.

Baca juga: Apa Itu Dopamin, Hormon yang Bisa Membuat Kamu Senang saat Nonton Konten syur

Dopamin merupakan zat kimia di otak yang berperan dalam menimbulkan perasaan puas dan memotivasi kita untuk bertindak. 

Tapi, terlalu sering “dikasih makan” oleh reward instan bikin otak jadi kebal. Hal-hal sederhana yang dulunya bisa menghadirkan kebahagiaan, kini terasa datar dan tak lagi bermakna. 

Itu sebabnya, scrolling TikTok selama 3 jam pun kadang bikin kita makin stres, bukan rileks. Dengan puasa dopamin, otak diberi kesempatan untuk “detoks” dan kembali menghargai kesenangan sederhana, seperti ngobrol langsung, baca buku, atau bahkan tidur siang.

Tapi bukan sekadar detoks gadget. Ini bukan tren sekilas kayak digital detox yang viral di Instagram. 

Dopamine fasting punya makna lebih dalam. Mereka yang menjalaninya rela menjauh dari semua sumber kesenangan instan. 

Baca juga: 5 Hal yang Berubah Drastis Kalau Kamu Berhasil Puasa Medsos Selama 4 Tahun, Bisa Jadi Diri Sendiri!

Artinya: no medsos, no junk food, no hiburan, no chatting. Tujuannya untuk menyegarkan kembali pikiran agar lebih peka terhadap hal-hal kecil yang dulunya terasa menyenangkan, namun kini terasa biasa saja.

Banyak yang Merasa “Lahir Kembali”

Bayangkan satu hari tanpa internet, tanpa musik, tanpa scrolling TikTok. Hanya ada kamu dan alam (atau tembok kamar). Kedengarannya membosankan, bahkan menyiksa. 

Tapi justru dari rasa bosan itulah muncul perubahan, justru dari rasa bosan itulah muncul dorongan untuk berubah. 

Orang yang melakukannya mulai merasa fokus meningkat, tidur lebih nyenyak, lebih bahagia tanpa alasan, meningkatnya motivasi kerja, meningkatnya rasa syukur terhadap hal – hal kecil. 

Banyak dari mereka mulai merasa lebih hidup. Bukan cuma bergerak otomatis mengikuti alur notifikasi.

Tren yang Pelan-Pelan Jadi Gaya Hidup

Tren ini makin marak dibahas di YouTube bahkan TikTok. Banyak Gen Z mulai membuat jurnal, menjadwalkan “puasa dopamin” mingguan, dan bahkan mengajak teman untuk ikut. 

Mereka menghindari stimulan bukan karena takut teknologi, tapi karena ingin mengendalikan kembali cara hidup mereka. 

Baca juga: 3 Penyebab Penyakit Mental Semakin Parah, Salah Satunya Medsos!

Menariknya, tren ini bukan cuma terjadi di kalangan spiritualis atau minimalis ekstrem. Anak-anak muda biasa pun ikut, termasuk mahasiswa, kreator konten, dan karyawan yang merasa burnout.

Mungkin, dopamine fasting bukan sekadar tren. Ini bisa jadi kebutuhan mental manusia modern yang terlalu lama dimanjakan kesenangan cepat. 

Gaya hidup ini muncul bukan karena kebosanan, tapi karena dorongan untuk merasa hidup sepenuhnya, bukan sekadar eksis di dunia maya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Blog.mindvalley.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU