INDOZONE.ID - Penelitian terbaru menemukan, konsumsi satu butir telur per minggu dapat menurunkan risiko Alzheimer hingga 47 persen. Temuan itu dipublikasikan dalam The Journal of Nutrition.
Hal itu tentu saja memberikan angin segar, di tengah kontroversi seputar konsumsi telur dalam dunia kesehatan.
Telur dan Reputasinya di Dunia Kesehatan
Selama ribuan tahun, telur telah menjadi bahan pangan pokok di berbagai belahan dunia. Kaya akan nutrisi, terjangkau, dan mudah diperoleh, telur sempat dicap buruk ketika studi beberapa dekade lalu menunjukkan, kolesterol tinggi dalam darah meningkatkan risiko penyakit jantung.
Sehingga, makanan tinggi kolesterol seperti telur, dianggap perlu dibatasi.
Namun, seiring kemajuan ilmu gizi, diketahui bahwa kolesterol dari makanan tidak terlalu berpengaruh terhadap kadar kolesterol dalam darah.
Berkat pemahaman baru ini, serta sejumlah penelitian yang didukung oleh Egg Nutrition Center (bagian dari American Egg Board), reputasi telur mulai pulih. Meskipun, kandungan lemak jenuh di dalamnya masih menjadi perhatian.
Kini, para ahli gizi memandang telur secara lebih netral. Boleh dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan seimbang, namun tidak dianjurkan dalam jumlah berlebihan setiap hari.
Baca juga: Enggak Nyangka, Terapi Kanker Payudara Bisa Jadi Perisai dari Alzheimer
Telur dan Risiko Alzheimer
Alzheimer merupakan bentuk paling umum dari demensia, dan hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Karena itu, identifikasi faktor gaya hidup yang dapat mengurangi risiko, menjadi sangat penting—termasuk dari segi pola makan.
Penelitian sebelumnya menunjukkan, kolin—zat gizi yang terdapat dalam telur—berperan penting dalam fungsi kognitif, dan berpotensi menurunkan risiko demensia.
Kolin juga merupakan prekursor dari neurotransmiter asetilkolin yang penting bagi fungsi otak, serta berperan dalam menjaga struktur membran sel dan memiliki sifat neuroprotektif.
Selain kolin, telur juga mengandung asam lemak omega-3, yang dikenal baik untuk kesehatan otak seiring bertambahnya usia. Sayangnya, banyak orang dewasa kekurangan asupan kedua zat penting ini.
Studi: Risiko Alzheimer Menurun hingga 47 Persen
Penelitian ini melibatkan 1.024 lansia di Illinois, Amerika Serikat, dengan usia rata-rata 81,4 tahun. Para peserta mengikuti pemeriksaan tahunan dan mengisi kuesioner tentang kebiasaan makan selama periode rata-rata 6,7 tahun. Selama masa studi, sekitar seperempat dari peserta mengalami Alzheimer.
Hasil analisis menunjukkan, konsumsi minimal satu butir telur per minggu, dikaitkan dengan penurunan risiko Alzheimer sebesar 47 persen, dibandingkan mereka yang hanya makan telur kurang dari satu kali per bulan.
Studi ini juga menganalisis jaringan otak pascakematian dari 578 peserta. Hasilnya menunjukkan, orang yang rutin makan telur cenderung memiliki penumpukan protein penyebab Alzheimer yang lebih sedikit.
Efek Sinergis Kolin dan Omega-3
Para peneliti berpendapat, manfaat telur terhadap otak bisa jadi berasal dari efek sinergis antara kolin dan omega-3 yang dikandungnya. Keduanya bekerja sama melindungi fungsi otak, terutama pada usia lanjut.
Presiden dan CEO Anavex Life Sciences, Dr. Christopher U. Missling, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan, sekitar 39–40 persen efek perlindungan berasal dari asupan kolin yang lebih tinggi.
Ia juga menambahkan, asam lemak omega-3 dalam kuning telur memiliki sifat neuroprotektif. Peneliti juga mengacu pada penelitian sebelumnya yang menunjukkan, penderita Alzheimer lebih mungkin kekurangan omega-3 dan kolin.
Baca juga: Tes Darah Kini Bisa Diagnosis Alzheimer? Berikut Penjelasan Peneliti
Keterbatasan Studi dan Implikasinya
Meski menjanjikan, studi ini memiliki keterbatasan. Masa tindak lanjut hanya berlangsung selama 6,7 tahun, jangka waktu yang cukup singkat untuk penelitian penyakit neurodegeneratif.
Selain itu, data dikumpulkan dari populasi lansia dalam satu wilayah di Amerika Serikat. Sehingga, hasilnya belum tentu berlaku untuk kelompok usia lebih muda atau populasi dari budaya dan pola makan berbeda.
Kuesioner konsumsi makanan yang digunakan juga bersifat subjektif dan dapat terpengaruh oleh ingatan peserta yang tidak akurat.
Maddie Gallivan, seorang ahli gizi terdaftar yang juga tidak terlibat dalam studi, mengingatkan, pola makan secara keseluruhan tetap menjadi faktor kunci.
"Tidak ada satu makanan pun yang berdiri sendiri dalam memengaruhi kesehatan otak. Pola makan yang bervariasi, kaya nutrisi, dan berbasis makanan utuh sangat penting dalam menurunkan risiko demensia,” ujarnya.
Oleh karena itu, bagi kamu yang menyukai telur, tidak ada salahnya terus menikmatinya. Selain menjadi sumber protein dan mikronutrien penting, konsumsi telur secara bijak—setidaknya satu kali seminggu—berpotensi membantu menjaga kesehatan otak dan mengurangi risiko Alzheimer.
Jika temuan ini terbukti melalui studi lebih lanjut dan uji klinis, maka konsumsi telur bisa menjadi intervensi yang sederhana, murah, dan mudah diterapkan untuk kesehatan publik, khususnya dalam pencegahan demensia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical News Today