Kamis, 07 AGUSTUS 2025 • 21:50 WIB

Populasi Presbiopia Makin Bertambah Mengintai Mata Tua di Atas 40 Tahun

Author

Ilustrasi presbiopia. (Freepik)


INDOZONE.ID - Populasi presbiopia yang sering dialami orang tua semakin bertambah pesat. Tentunya kasus mata tua ini bisa mengganggu aktivitas seseorang.

Dokter Subspesialis Katarak, Lensa dan Bedah Refraktif JEC Eye Hospitals and Clinics sekaligus Kepala Klinik Utama Mata JEC @ Bekasi Dr. Nashrul Ihsan, Sp.M(K) mengatakan, prevalensi presbiopia secara global terus meningkat, seiring bertambahnya harapan hidup. Terlebih karena intensitas tuntutan penglihatan dekat di era modern, seperti penggunaan ponsel. 

Padahal kalangan 45 tahun ke atas biasanya mulai menjalani usia emas lantaran berada di puncak periode produktif. Atau mereka sedang menikmati masa senior bersama keluarga. 

“Prevalensi presbiopia pada usia 45 tahun ke atas mencapai 83 persen. Di 2030 mendatang, sekitar 2,1 miliar orang akan mengalami presbiopia dan ini bisa mengakibatkan penurunan kualitas hidup,” ujar Dokter Nashrul saat temu media di JEC@Kedoya Jakarta Barat.

Baca juga: 7 Tips Menjaga Kesehatan Mata di Era Layar Digital yang Kamu Harus Tau!

Kenali Gejalanya

Ilustrasi lansia yang mengalami gangguan penglihatan, akibat degenerasi makula. (Freepik)

Presbiopia gejalanya mudah dikenali dalam keseharian. Seseorang akan mengalami kesulitan melihat objek atau tulisan pada jarak dekat.

Mereka juga akan menjauhkan objek tersebut agar dapat terlihat atau terbaca dengan lebih jelas.

Kondisi ini sering disertai dengan gejala sekunder berupa kelelahan mata, sakit kepala setelah membaca atau melakukan pekerjaan detail dengan fokus pandangan jarak dekat. Simpelnya saat memasukkan benang ke jarum atau membaca label barang berhuruf kecil.

Gejala-gejala ini umumnya mulai muncul secara bertahap pada usia 40 tahun ke atas. Karena proses penurunan kemampuan akomodasi lensa mata yang merupakan bagian alami dari proses penuaan.

“Imbas presbiopia melibatkan komponen psikologis karena penyandangnya menganggap opsi kacamata bifokal sangatlah tidak menarik, dan seolah menandai penuaan,” ucapnya. 

Tapi sayangnya, rata-rata penderita presbiopia masih menjalani gaya hidup aktif. Mereka hanya mengandalkan kacamata selama beraktivitas.

Baca juga: 9 Kebiasaan Sehari-hari yang Tanpa Sadar Bisa Merusak Kesehatan Mata

Tindakan RLE

Dokter Subspesialis Katarak, Lensa dan Bedah Refraktif JEC Eye Hospitals and Clinics sekaligus Kepala Klinik Utama Mata JEC @ Bekasi Dr. Nashrul Ihsan, Sp.M(K). (Indozone/Dewi)

Dokter Nashrul menyarankan penderita presbiopia untuk melakukan RLE daripada pakai kacamata, setelah mereka mengalami perubahan penglihatan akibat proses penuaan. Bukan itu saja, RLE juga menjadi satu-satunya pilihan dalam kasus-kasus khusus yang sudah tak tertangani LASIK atau SMILE Pro.

“Dari tingkat keberhasilan tindakan ini, rasionya mencapai 98,5 persen. Risiko 1,5 persen komplikasi operasi biasanya bisa dikoreksi dengan operasi lanjutan. Dari sisi pasien, 95 persen mengaku puas dengan hasil tindakan dan berpendapat RLE telah mengubah hidup mereka," tuturnya. 

Dijelaskan lebih lanjut, RLE merupakan prosedur penggantian lensa alami mata yang sudah tidak berfungsi optimal dengan lensa tanam (intraokular lens/IOL). Di Indonesia, selebriti Krisdayanti dan kakaknya, Yuni Shara sudah mencoba keampuhan RLE ini. 

Prosedur ini efektif untuk mengoreksi presbiopia, serta gangguan refraksi lainnya. Seperti mata minus (miopia), mata plus (hipermetropia), dan silinder (astigmatisme), semuanya dalam satu tindakan. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU