Minggu, 17 AGUSTUS 2025 • 11:15 WIB

Faktor Genetik Bisa Jadi Penyebab Rabun Jauh, Lho! Berikut Gejala hingga Cara Pengobatannya

Author

Ilustrasi seseorang yang penglihatannya kabur atau buram. (Freepik)

INDOZONE.ID - Rabun jauh atau miopia merupakan gangguan penglihatan yang bikin penderitanya dapat melihat objek dekat dengan jelas. Namun, objek yang berada jauh, justru tampak buram. 

Kondisi ini terjadi ketika bola mata terlalu panjang atau kornea (lapisan bening di bagian depan mata) terlalu melengkung. Sehingga, cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus dengan benar.

Seberapa Umum Miopia?

Di Amerika Serikat, miopia memengaruhi hampir 30 persen populasi. Meskipun penyebab pastinya belum diketahui, bukti menunjukkan, miopia cenderung diturunkan.

Anak dari orang tua yang menderita miopia memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.

Selain faktor genetik, kebiasaan penggunaan mata juga berperan. Aktivitas yang membutuhkan fokus dekat secara intens, seperti membaca, bekerja di depan komputer, atau bermain gim dalam waktu lama, dapat meningkatkan risiko miopia

Penelitian menunjukkan, penggunaan gawai berjam-jam dapat meningkatkan risiko miopia hingga 30 persen. Jika dikombinasikan dengan penggunaan komputer berlebihan, risikonya bisa melonjak hingga 80 persen.

Baca juga: Penyebab hingga Pengobatan Astigmatisme, Gangguan Mata yang Bikin Penglihatan Buram

Faktor Risiko Lain

Selain keturunan dan kebiasaan visual, miopia juga dapat dipicu faktor lingkungan atau masalah kesehatan, di antaranya:

  • Miopia malam hari (night myopia): cahaya redup membuat mata sulit fokus.
  • Miopia semu (pseudo myopia): penglihatan buram sementara akibat penggunaan mata jarak dekat terlalu lama, biasanya membaik setelah istirahat.
  • Kondisi medis: perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes atau tanda awal katarak.

Gejala

Penderita miopia biasanya kesulitan melihat jelas saat menonton film, membaca papan tulis, atau melihat rambu lalu lintas saat mengemudi. 

Miopia umumnya muncul pada masa kanak-kanak dan dapat berkembang hingga usia sekitar 20 tahun, meski pada sebagian orang dewasa, miopia juga bisa muncul akibat stres visual atau penyakit.

Ilustrasi seseorang mengalami gangguan penglihatan. (Freepik)

Diagnosis

Dokter mata menggunakan beberapa tes untuk mendiagnosis miopia, termasuk:

  • Tes ketajaman visual (contoh: 20/40) untuk mengukur seberapa baik mata melihat dari jarak tertentu.
  • Pemeriksaan dengan phoropter untuk menentukan lensa koreksi yang tepat.
  • Retinoskopi atau alat otomatis untuk mengukur kemampuan fokus mata.

Dalam beberapa kasus, tetes mata digunakan untuk mencegah mata mengubah fokus selama pemeriksaan.

Pilihan Pengobatan

Beberapa metode dapat digunakan untuk mengoreksi miopia:

  1. Kacamata – Pilihan paling umum, dapat digunakan penuh waktu atau hanya saat diperlukan.
  2. Lensa kontak – Memberikan pandangan lebih luas dibanding kacamata, tetapi memerlukan perawatan khusus.
  3. Orthokeratology (Ortho-K/CRT) – Lensa kontak khusus yang dipakai sementara, untuk membentuk ulang kornea.
  4. Prosedur laser (LASIK/PRK) – Mengubah bentuk kornea untuk memfokuskan cahaya dengan tepat.
  5. Operasi refraktif lainnya – Pemasangan lensa buatan pada mata bagi penderita miopia berat atau kornea tipis.
  6. Terapi penglihatan – Latihan mata untuk mengatasi miopia akibat ketegangan otot fokus.

Baca juga: Waspadai Degenerasi Makula: Penyebab Utama Gangguan Penglihatan pada Lansia

Pencegahan dan Pengelolaan

Anak-anak yang berisiko tinggi (riwayat keluarga, onset dini, penggunaan mata jarak dekat berlebihan) dapat menjalani terapi.

Hal itu untuk memperlambat progresi miopia, seperti penggunaan kacamata bifokal, lensa kontak khusus, ortho-k, atau obat tetes mata.

Pengelolaan miopia penting dilakukan, karena jika kondisinya sudah tinggi, dapat meningkatkan risiko komplikasi serius, termasuk katarak, glaukoma, dan degenerasi makula miopik. 

Sehingga, dengan deteksi dan penanganan yang tepat, kesehatan mata dapat terjaga hingga usia lanjut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: American Optometric Association

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU