INDOZONE.ID – Nistagmus merupakan kondisi penglihatan di mana mata bergerak berulang-ulang, tanpa terkendali. Gerakan ini bisa berupa ke samping, naik-turun, atau bahkan melingkar.
Akibatnya, penderita nistagmus sulit memandang objek dengan stabil sehingga penglihatan menjadi buram, persepsi kedalaman berkurang, dan dapat mengganggu keseimbangan serta koordinasi.
Penderita nistagmus sering kali menganggukkan atau memiringkan kepala untuk mengompensasi kondisi ini. Secara umum, nistagmus bukanlah penyakit yang berdiri sendiri, melainkan gejala dari gangguan mata atau masalah medis lainnya.
Faktor kelelahan dan stres dapat memperburuk gejala, meski penyebab pastinya sering kali tidak diketahui.
Baca juga: Waspadai Keratitis, Peradangan Kornea yang Dapat Ganggu Penglihatan
Jenis-jenis Nistagmus
- Infantil – Biasanya muncul sejak usia 2–3 bulan. Gerakan mata cenderung horizontal. Sering dikaitkan dengan kondisi lain seperti albinisme, ketiadaan iris sejak lahir, saraf optik yang tidak berkembang sempurna, atau katarak kongenital.
- Spasmus Nutans – Umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 3 tahun, dan biasanya membaik dengan sendirinya pada usia 2–8 tahun. Anak cenderung mengangguk atau memiringkan kepala, dan gerakan mata bisa ke segala arah. Jenis ini biasanya tidak memerlukan pengobatan.
- Didapat (Acquired) – Muncul di masa kanak-kanak atau dewasa. Penyebabnya bisa terkait gangguan sistem saraf pusat, gangguan metabolik, atau efek toksik dari alkohol dan obat-obatan.
Penyebab dan Faktor Risiko
Nistagmus umumnya disebabkan masalah neurologis sejak lahir, atau masa kanak-kanak awal. Sementara itu, nistagmus yang muncul belakangan dalam hidup, dapat menjadi gejala kondisi serius, seperti stroke, multiple sclerosis, atau cedera.
Penyebab lain termasuk:
- Albinisme
- Gangguan kontrol gerakan mata sejak dini
- Kelainan refraksi berat (rabun jauh, astigmatisme)
- Katarak bawaan
- Peradangan telinga bagian dalam
- Penggunaan obat anti-epilepsi
- Penyakit sistem saraf pusat
Gejala Nistagmus
- Gerakan mata yang tidak terkendali (satu atau kedua mata)
- Pandangan buram atau bergoyang
- Kesulitan melihat di malam hari atau sensitif terhadap cahaya
- Gangguan keseimbangan dan pusing
Diagnosis
Nistagmus dapat dideteksi melalui pemeriksaan mata menyeluruh oleh dokter optometri. Pemeriksaan mencakup:
- Riwayat kesehatan pasien, termasuk gejala, obat-obatan, dan faktor lingkungan
- Pengukuran ketajaman penglihatan
- Pemeriksaan refraksi (untuk mengukur kebutuhan lensa kacamata)
- Uji koordinasi gerakan mata untuk menilai kerja sama kedua mata
Jika dicurigai terkait masalah kesehatan lain, pasien bisa dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut seperti tes telinga, pemeriksaan neurologis, atau MRI otak.
Baca juga: Hati-hati! Kopi Instan Dianggap Bisa Tingkatkan Risiko Gangguan Penglihatan hingga Tujuh Kali Lipat
Penanganan
Kacamata atau lensa kontak tidak dapat menyembuhkan nistagmus, namun bisa membantu memperbaiki penglihatan.
Beberapa cara lain yang dapat membantu antara lain menggunakan buku dengan huruf besar, alat pembesar, atau pencahayaan tambahan.
Dalam kasus tertentu, operasi pada otot mata dapat dilakukan untuk mengurangi kebutuhan penderita, dalam memiringkan kepala saat melihat. Namun, operasi ini tidak menyembuhkan nistagmus sepenuhnya.
Jika nistagmus dipicu oleh penyakit lain, pengobatan akan difokuskan pada penyebab utamanya.
Pencegahan
Nistagmus bisa bersifat bawaan maupun akibat kondisi medis lain. Oleh karena itu, pemeriksaan mata menyeluruh sejak dini sangat dianjurkan, untuk mengetahui penyebab dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: American Optometric Association