INDOZONE.ID - Migrain pada mata atau ocular migraine kerap menimbulkan gejala yang menyerupai kondisi serius lainnya.
Oleh karena itu, sangat penting segera memeriksakan diri ke dokter mata, jika mengalami tanda-tanda gangguan ini.
Penyebab dan Faktor Risiko
Dikutip dari American Optometric Association, ocular migraine umumnya terjadi akibat berkurangnya aliran darah, atau adanya kejang pada pembuluh darah di retina atau bagian belakang mata.
Beberapa faktor risiko yang berperan antara lain:
- Penyebab yang serupa dengan migrain pada umumnya.
- Lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki.
- Paling banyak dialami pada usia 30–39 tahun.
- Riwayat keluarga dengan migrain.
Baca juga: Waspada Tekanan Mata Tinggi: Kondisi yang Bisa Berisiko Glaukoma dan Belum Ada Obatnya
Gejala
Gangguan ini dapat muncul dengan beberapa tanda khas, di antaranya:
- Adanya bintik buta di bagian tengah penglihatan yang dapat dimulai kecil lalu membesar.
- Biasanya berlangsung kurang dari 60 menit.
- Umumnya hanya terjadi pada satu mata.
- Dapat memengaruhi penglihatan samping (perifer).
Diagnosis
Untuk memastikan kondisi ocular migraine, dokter akan melakukan pemeriksaan mata menyeluruh dengan pelebaran pupil. Riwayat medis, termasuk riwayat sakit kepala sebelumnya, untuk menjadi pertimbangan.
Pada beberapa kasus, pemeriksaan neurologis, tes darah tambahan, atau pencitraan, mungkin diperlukan. Hal itu untuk menyingkirkan penyebab lain yang lebih serius.
Penanganan
Perawatan ocular migraine serupa dengan terapi migrain pada umumnya, dan akan disesuaikan berdasarkan rekomendasi dokter. Pilihan pengobatan meliputi:
- Kasus ringan: obat bebas seperti acetaminophen, ibuprofen, atau naproxen.
- Kasus lebih berat: obat resep untuk mengatasi migrain maupun gejala penyerta, seperti mual.
Pencegahan
Upaya pencegahan ocular migraine sama dengan migrain pada umumnya, yaitu menghindari pemicu. Beberapa pemicu yang perlu diperhatikan antara lain stres, perubahan hormon, paparan cahaya terang atau berkedip.
Lalu konsumsi alkohol (terutama anggur merah), perubahan cuaca, melewatkan waktu makan, serta pola tidur yang kurang atau berlebihan.
Tidak hanya itu, mencatat jurnal sakit kepala juga dianjurkan, termasuk informasi tentang aktivitas, makanan, maupun obat-obatan yang dikonsumsi sebelum atau sesudah serangan migrain terjadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: American Optometric Association