INDOZONE.ID - Kamu pernah nggak sih ngerasa, “Kok aku bisa ingat hal kecil banget, bahkan yang orang lain udah lupa?” atau malah mikir, “Aduh, kenapa sih kepala aku muter-muter terus mikirin hal itu?”
Nah, ternyata punya ingatan yang tajam itu nggak selalu jadi kelebihan. Di balik kemampuan otak yang bisa nyimpen detail sampai hal remeh, justru ada jebakan, yaitu overthinking alias mikir kebanyakan.
Yup, memori yang super kuat bisa bikin Kamu gampang ke-trigger sama hal-hal kecil, dan akhirnya jadi kepikiran terus. Nggak sehat juga kalau dibiarkan.
Yuk, kita bahas kenapa orang dengan ingatan kuat justru bisa lebih rentan overthinking dan gimana cara menyiasatinya biar kepala nggak meledak sendiri.
Baca juga: Gen Z, Hati-hati! Kecanduan Main Game Online Bisa Percepat Risiko Stroke dan Diabetes
Ingatan ‘Tajam’ Itu seperti Kamera HD
Orang dengan memori kuat biasanya bisa nyimpen detail kecil banget, kayak obrolan santai, ekspresi wajah, atau kata-kata yang diucapkan waktu kejadian dulu.
Ada juga kondisi ekstrem yang namanya hyperthymesia, di mana seseorang punya memori autobiografis yang super tajam dan bisa ingat hampir semua hal yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Meski ini jarang banget, tapi jadi contoh nyata orang yang “ingat segalanya”.
Kalau Kamu nggak sampai sejauh itu, Kamu mungkin sering ngalamin yang namanya flashback otomatis.
Baca juga: 8 Kebiasaan Pagi Orang Sukses Sebelum Jam 7 Pagi, Yuk Ikutin!
Misalnya, tiba-tiba keinget masa lalu, denger kata tertentu langsung kebayang adegan tertentu, atau Kamu nggak sengaja mengulang-ingat hal yang sudah lewat terus-menerus.
Itu tanda kalau memori Kamu memang aktif banget.
Nah, masalahnya, kalau otakmu punya banyak kenangan yang bisa diakses, itu berarti ada banyak “bahan” buat diputar ulang terus-menerus.
Dari sinilah pintu masuk overthinking mulai terbuka lebar.
Baca juga: Sering Bikin Lelah, Begini 7 Cara Ampuh Mengatasi Overthinking Tanpa Drama
Kenapa Ingatan Kuat Meningkatkan Overthinking?
1. Pintu masuk rumination
Orang yang punya ingatan tajam cenderung punya “bahan bakar” lebih banyak buat rumination alias kebiasaan mikir ulang kejadian yang sudah lewat.
Misalnya, kepikiran terus, “Gimana ya kalau dulu aku ambil keputusan lain?” atau “Sebenarnya maksud dia ngomong gitu apa, ya?”
Dalam dunia psikologi, rumination ini sering jadi pemicu utama overthinking negatif.
Bahkan, studi pada pasien depresi nunjukin kalau pola pikir yang terlalu analitis bisa bikin ingatan jadi terlalu umum (overgeneral memory), dan akhirnya memperkuat pikiran yang muter-muter tanpa henti.
Baca juga: Ternyata Ini Alasan Ilmiah Mengapa Kita Sering Déjà Vu
2. Worrying alias mikir yang bikin cemas nyedot energi memori kerja
Pas Kamu lagi khawatir, sebagian kapasitas memori kerja Kamu otomatis dipakai buat mikirin hal-hal yang bikin gelisah bukan buat hal yang produktif.
Jadi bukannya fokus ke solusi, otak malah sibuk muter-muter mikirin masalahnya.
Penelitian juga nunjukin kalau worry bisa nurunin performa memori kerja secara signifikan.
Akhirnya, Kamu bisa kejebak dalam siklus: inget terlalu banyak detail → mulai mikir ada yang salah dari tiap kenangan → makin banyak hal yang dipikirin → kepala makin penuh → stres deh.
Baca juga: Jerawat Membandel? Ternyata Probiotik Bisa Mengatasinya!
3. Otak lebih “doyan” nyimpen hal negatif daripada yang positif
Penelitian meta-analisis nunjukin kalau orang yang punya tingkat kecemasan tinggi cenderung ngalamin memory bias.
Dalam kondisi ini otaknya lebih gampang merekam dan mengulang/mengingat hal-hal yang bernada ancaman atau negatif.
Jadi, dari sekian banyak hal yang pernah kejadian, otakmu bisa lebih “highlight” momen yang memalukan, kesalahan kecil, atau omongan orang yang bikin risau.
Akhirnya, isi kepala pun penuh sama kenangan buruk yang muter terus kayak kaset rusak, bikin Kamu makin overthinking tanpa sadar.
Baca juga: Fenomena Second‑Hand Stress: Kamu Ikut Stres Karena Mereka Juga Panik
4. Terlalu detail = terlalu banyak celah untuk dipikirkan ulang
Karena punya memori yang super detail, Kamu jadi lebih peka melihat “lubang-lubang” kecil dalam cerita kayak, “Kenapa dia ngomong gitu, ya?”, “Kenapa respon aku kayak gitu?”, atau “Jangan-jangan aku salah nangkep maksudnya.”
Nah, celah-celah ini bikin otak Kamu mulai ngarang spekulasi buat ngisi kekosongan.
Di sinilah overthinking muncul, usaha buat ngoreksi ingatan yang mungkin sudah nggak utuh lagi, tapi malah bikin Kamu makin nyangkut di pikiran yang nggak pasti.
Baca juga: Bagaimana Otak Memproses Emosi Negatif vs Positif?
Bagaimana Overthinking Muncul dalam Kehidupan Sehari-hari
Coba bayangkan situasi kayak gini:
Kamu ngobrol sama temen, terus pas malamnya Kamu replay terus obrolan itu di kepala, mikir, “Eh, bener nggak ya dia maksud gitu?”
Ada respon temen yang bikin Kamu ragu, terus kepikiran terus, “Jangan-jangan aku salah nangkep nih.”
Kesalahan kecil yang pernah Kamu buat di masa lalu, Kamu simpen detailnya, terus tiap kali ada pemicu kecil, pikiran itu nongol lagi dan lagi.
Pas mau tidur, bukannya santai, malah pikiran muter terus, “Gimana kalau aku ngelakuin ini atau itu...”
Baca juga: Microplastik Bisa Bikin Tulang Lemah? Fakta Baru yang Bikin Merinding
Orang dengan memori yang nggak terlalu tajam juga bisa overthinking, tapi mereka nggak punya bahan bakar sebanyak itu buat diputar ulang di kepala terus-menerus.
Jadi, memori kuat memang bikin overthinking jadi lebih gampang nyangkut.
Bahaya Overthinking Jangka Panjang
Overthinking yang terus-menerus nggak cuma bikin mental lelah tapi bisa juga berdampak negatif di berbagai aspek.
- Kesehatan mental: stress kronis, kecemasan, depresi.
- Gangguan tidur: sulit tidur nyenyak karena pikiran terus aktif.
- Kesulitan mengambil keputusan: takut salah, terlalu banyak opsi yang dipikirkan.
- Hubungan sosial terganggu: kebanyakan pikiran tentang ucapan orang lain bikin kita sensi, overread, bahkan paranoid.
Baca juga: Jangan Biarkan Kulitmu Rusak Permanen, Ini Penyebab dan Solusi Mengatasi Jerawat Batu
Gimana Cara Mengurangi Overthinking bagi Orang yang Punya Ingatan Kuat?
Berikut beberapa strategi yang bisa dicoba:
- Batasi “waktu berpikir: misalnya tetapkan 10 menit dalam sehari buat merenung, lalu stop.
- Mindfulness / meditasi: latih perhatian ke saat ini, supaya bukan “pikiran masa lalu” yang dominan.
- Tuliskan pikiranmu: journaling bisa jadi outlet agar pikiran nggak terus muter di kepala.
- Alihkan fokus: olahraga, aktivitas kreatif, hobi yang menyerap perhatian.
- Refleksi structural: ketika pikiran negatif muncul, tanyakan ke dirimu: “apa bukti nyata?” “apa interpretasi lain?”
Baca juga: Waspadai! Keracunan Makanan Berulang Picu Dampak Kronis Saluran Cerna
- Cari dukungan profesional: kalau overthinking mulai mengganggu fungsi sehari-hari, psikolog atau terapis bisa bantu.
- Punya ingatan yang tajam memang keren, tapi kalau detail-detail masa lalu terus berputar di kepala, itu bisa jadi pemicu overthinking yang melelahkan.
Masalahnya bukan pada kuatnya ingatan, tapi pada bagaimana kita memproses dan merespons memori tersebut.
Jadi, kalau Kamu sering overthinking dan merasa pikiranmu terlalu sibuk karena ingatan yang begitu detail, bukan berarti Kamu “berlebihan” atau “ada yang salah.”
Itu justru tanda bahwa Kamu perlu mulai belajar mengelola pikiran dengan lebih sehat bisa lewat langkah sederhana seperti journaling, latihan mindfulness, atau jika perlu, bicara dengan tenaga profesional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber