Ilustrasi seseorang yang mengalami stress. (freepik/drobotdean)
INDOZONE.ID - Pernah nggak kamu lagi santai, tiba-tiba sekeliling kamu mendadak tegang, panik, atau gelisah, lalu entah kenapa kamu jadi ikutan merasa stres juga? Well, itu bukan hal “ajaib”; ada fenomena psikologis yang namanya second-hand stress atau stres “pasif” yang bisa menular lewat emosi orang lain. Yuk, kita gali lebih dalam, apa itu fenomena second-hand stress!
Second-hand stress itu kayak stres yang menyebar lewat “aura” orang lain. Kamu sendiri nggak lagi ada masalah besar, tapi karena orang di sekitar kamu lagi kalut, tegang, atau panik, kamu jadi ikut-ikutan merasa nggak tenang. Bayangin aja kayak flu, kalau ada yang batuk atau bersin di dekat kamu, besar kemungkinan kamu ketularan juga. Nah, stres juga bisa menyebar dengan cara yang mirip, tapi lewat emosi dan suasana hati, bukan virus.
Ini ada hubungannya sama yang namanya emotional contagion, alias penularan emosi. Jadi, tanpa sadar, kita bisa “menyerap” emosi orang lain lewat ekspresi wajah mereka, nada bicara, bahasa tubuh, bahkan lewat chat atau postingan mereka di medsos. Misalnya, teman kamu lagi curhat soal kerjaannya yang bikin stres. Meskipun kamu nggak ngalamin hal yang sama, tapi karena kamu melihat dia lelah, ngomongnya cepat, atau nadanya tinggi, kamu jadi ikut merasa tegang juga. Bahkan ada penelitian yang bilang, otak kita bisa bereaksi cuma dari mencium bau keringat orang yang lagi stres. Gila, nggak, tuh? Jadi bukan cuma perasaan aja, tapi memang ada reaksi nyata dari tubuh dan otak kita.
Baca juga: Cowok vs Cewek Kalau Lagi Stres: Siapa yang Lebih Jago Ngadepin?
Daripada menahan serangan panik, biarkan tubuh anda untuk merespons gejalanya. (freepik.com)
Otak kamu sebenarnya punya fitur bawaan yang keren banget, namanya mirror neurons atau “neuron cermin”. Fungsinya? Neuron ini bikin kamu otomatis meniru apa yang kamu lihat dari orang lain, entah itu ekspresi wajah, nada suara, bahkan emosi. Jadi kalau kamu lihat orang lain lagi tegang atau panik, otak kamu bisa ikut nge-copy suasana itu tanpa kamu sadari. Inilah salah satu alasan kenapa stres bisa begitu gampang menular, apalagi kalau kamu termasuk orang yang peka atau gampang terbawa suasana.
Di era sekarang, media sosial bisa jadi ladang subur buat second-hand stress berkembang. Bayangin, kamu scroll timeline, terus isinya curhatan galau, keluhan hidup, atau orang yang panik karena kerjaan. Tanpa sadar, otak kamu menyerap semua itu. Padahal kamu awalnya lagi chill, tapi lama-lama mood kamu bisa ikut keracunan juga.
Menariknya, ada eksperimen dari Facebook yang nunjukin kalau jumlah postingan negatif dikurangi dari timeline seseorang, jumlah postingan negatif yang dia buat juga ikut berkurang. Artinya, emosi yang kita lihat di medsos bisa banget memengaruhi emosi kita sendiri. Jadi bukan cuma interaksi langsung yang bisa bikin stres menular, tapi juga interaksi digital yang kelihatannya sepele.
Kadang tanpa disadari, kita suka susah bedain mana stres yang benar-benar dari diri sendiri dan mana yang “dipinjam” dari orang lain. Misalnya, kamu bangun pagi sebenarnya nggak ada masalah, tapi setelah ngobrol sama teman yang lagi pusing sama hidupnya, tiba-tiba kamu ngerasa capek, sedih, dan nggak semangat. Nah, itu bisa jadi karena kamu nggak punya batas emosional yang kuat.
Kalau batas emosional kamu lemah, kamu bakal gampang banget nyerap perasaan orang di sekitar. Kamu jadi semacam “spons emosi” yang menyerap semua vibes negatif, padahal itu bukan beban kamu. Lama-lama bisa bikin kamu ngerasa capek sendiri, bahkan tanpa tahu alasannya kenapa. Makanya penting banget buat punya self-awareness, biar kamu bisa sadar: “Ini stres aku, atau stres orang lain yang lagi aku tanggung tanpa sadar?”
Kalau kamu pernah ada di situasi kayak kantor yang lagi hectic banget, atau grup chat yang isinya keluhan terus, pasti terasa deh gimana vibes negatif itu menyebar cepat banget. Sekali ada satu-dua orang yang panik, ngomel, atau tegang, suasana langsung terasa berat. Nah, ini yang disebut sebagai “zona infeksi stres,” di mana stres menyebar kayak virus ke semua orang dalam kelompok.
Fenomena ini sering terjadi di lingkungan kerja, kelas, bahkan dalam keluarga. Kalau satu orang mulai stres, orang lain yang tadinya biasa aja bisa ikut-ikutan merasa tertekan. Ini karena kita secara alami punya kecenderungan untuk menyesuaikan diri dengan emosi di sekitar, apalagi dalam situasi sosial yang intens. Jadi bukan cuma individu yang bisa bikin kita stres, tapi keseluruhan suasana juga bisa “nularin” emosi negatif ke kita semua.
Kalau nggak disadari dan dibiarkan, second-hand stress bisa menyebabkan:
Jadi bisa dibilang, kamu nggak stres karena kerjaanmu secara langsung, tapi karena beban emosional orang lain ikut nempel padamu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pubmed.ncbi.nlm.nih.gov, Pnas.org, Irishtimes.com