INDOZONE.ID - Pertemanan seharusnya jadi ruang aman—tempat merasa diterima, dihargai, dan punya sandaran saat butuh dukungan.
Tapi kalau isinya merendahkan, suka ngomongin di belakang, manipulatif, atau cuek, hubungan itu bukan lagi sumber semangat, melainkan beban yang menguras energi, menurunkan percaya diri, dan merusak kesehatan mental maupun fisik.
Jika dibiarkan terlalu lama, pertemanan yang toxic bukan hanya membuat mental lelah, tetapi juga mempengaruhi kondisi tubuh.
Lebih parahnya, Kamu bisa kehilangan keberanian untuk membuka diri pada orang-orang yang sebenarnya tulus dan peduli.
Baca juga: Gen Z Rentan Burnout? Cari Tahu Penyebab dan Solusinya Di sini!
Lalu, apa saja dampak lain dari pertemanan yang toxic?
1. Merasa kesepian walau berada di tempat ramai
Dalam pertemanan sehat, Kamu merasa diterima apa adanya. T
api dengan teman toxic, keberadaanmu sering diabaikan, chat tak dibalas, ajakan ditolak, atau baru dicari saat mereka butuh. Akhirnya,
Kamu merasa seperti orang asing di lingkaranmu sendiri.
2. Merasa tidak nyaman saat berada bersama mereka
Ngobrol dengan teman seharusnya membuat hati terasa lebih lega dan bisa tertawa lepas.
Tetapi jika setiap pertemuan justru membuatmu stres, gelisah, atau gampang emosi, artinya pertemanan itu lebih banyak menguras energimu daripada memberimu ketenangan.
Baca juga: Orang dengan Ingatan Terlalu Kuat Justru Rentan Overthinking, Ini Buktinya!
3. Saat Kamu membutuhkan mereka, justru mereka menghilang
Sahabat sejati mungkin tidak selalu bisa memberi solusi, tapi mereka setidaknya mereka mau mendengarkanmu.
Sedangkan, teman yang toxic berbeda — curhatanmu bisa saja dianggap remeh, bahkan diabaikan begitu saja.
4. Hilangnya rasa percaya diri
Kalimat merendahkan yang terus diulang akan membuat Kamu mulai percaya bahwa itu benar.
Lambat laun, keyakinan terhadap diri sendiri akan ikut terkikis.
Baca juga: 7 Manfaat Jus Wortel, Tomat, dan Seledri untuk Kesehatan Tubuh
5. Kebiasaan menyalahkan diri sendiri
Teman toxic akan membuat Kamu selalu merasa bersalah. Padahal sudah jelas mereka yang berulah, dan pada akhirnya Kamu yang meminta maaf.
6. Emosi menjadi tidak stabil
Akibat sikap dan perlakuan mereka terhadap Kamu, akhirnya Kamu pun menjadi sering was-was berlebihan, mudah cemas, dan akhirnya lelah secara mental.
Baca juga: Gen Z, Hati-hati! Kecanduan Main Game Online Bisa Percepat Risiko Stroke dan Diabetes
7. Hubungan lainnya ikut terganggu
Efek domino dari pertemanan yang toxic sering merembet ke hubungan lain. Saat kepercayaan dirimu rusak, Kamu bisa menarik diri dari orang-orang yang sebenarnya tulus.
Akhirnya? Kamu semakin merasa kesepian dan sendirian.
Cara menghadapi dan melepaskan pertemanan yang toxic
Pertemanan seharusnya bisa membuat hidup lebih hangat, penuh tawa, dan saling mendukung.
Tapi kenyataannya, tidak semua teman datang dengan niat baik. Ada yang justru bikin hati kecewa, memanipulasi, bahkan meremehkanmu.
Jika terus dibiarkan, hubungan seperti ini dapat merusak mental dan membuat Kamu sulit berkembang. Lalu bagaimana cara melepaskan hubungan pertemanan yang tidak sehat?
Mari simak tips dibawah ini:
Baca juga: 5 Tanda Kamu Butuh Healing, Bukan Malas: Psikolog Ungkap Alasannya
1. Mulai dari diri sendiri
Keluar dari pertemanan toksik dimulai dengan menghargai diri sendiri.
Jangan biarkan luka orang lain jadi alasanmu bertahan—jadilah sahabat terbaik bagi diri sendiri dengan berani berkata “cukup” pada perlakuan yang menyakiti.
2. Belajar melepaskan dengan ikhlas
Melepaskan bukan berarti benci, tapi menerima kenyataan dan belajar memaafkan agar bisa move on dari “versi ideal” yang tak pernah nyata.
Putus hubungan dengan teman toksik memang berat, tapi sering kali itu jadi awal ruang baru untuk orang-orang yang lebih tulus dan peduli.
Baca juga: Ternyata Ini Alasan Ilmiah Mengapa Kita Sering Déjà Vu
3. Pilih kebahagiaanmu sendiri
Bahagia datang dari diri sendiri, bukan orang lain. Nikmati hal kecil yang bisa membuat hati tenang, hargai dirimu, dan orang lain tak akan mudah meremehkanmu. Saat emosimu kuat, Kamu tahu siapa yang pantas bertahan dan siapa yang lebih baik pergi.
Ingat, Kamu berhak dikelilingi orang yang mendukung. Jika Kamu merasa kesepian, berbagi cerita dengan orang terpercaya bisa jadi langkah awal menuju persahabatan yang lebih sehat.
Pada akhirnya, pertemanan adalah tentang saling mendukung, bukan saling menjatuhkan.
Baca juga: Ternyata Ini Alasan Ilmiah Mengapa Kita Sering Déjà Vu
Jika hubungan yang Kamu jalani lebih sering membawa luka daripada kebahagiaan, itu tanda bahwa sudah saatnya mengambil langkah berani untuk menjaga diri sendiri.
Ingat, Kamu layak dikelilingi oleh mereka yang membuatmu merasa dihargai, bukan yang melemahkanmu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline