Selasa, 14 OKTOBER 2025 • 18:00 WIB

Mitos atau Fakta: Tidur Terlalu Lama Bisa Bikin Otak Lemot?

Author

ilustrasi pria tertidur pulas (Freepik.com/yanalya)

INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu rebahan lama di kasur, niatnya cuma mau istirahat, tapi tiba-tiba muncul pikiran, “Jangan-jangan otakku jadi lemot gara-gara tidur kebanyakan?" 

Pertanyaan kayak gini sering banget muncul di media sosial. Tapi, bener nggak sih kalau tidur terlalu lama bisa bikin otak jadi lambat mikir? Yuk, kita bahas faktanya!

Baca juga: Kenapa Tidur Jam 10 Malam Bisa Bikin Hidupmu Lebih Produktif? Ini Penjelasannya!

Apa yang Disebut Tidur Terlalu Lama?

Sebelum bahas efeknya, kamu perlu tahu dulu definisinya. Kalau kamu tidur malam lebih dari 9 jam, itu sudah termasuk kategori long sleep duration alias tidur panjang. Sementara durasi ideal tidur orang dewasa ada di kisaran 7–8 jam per malam, tergantung usia dan kondisi tubuh.

Menariknya, bukan cuma tidur lama yang bisa berdampak ke otak. Tidur kurang dari 6 jam juga bisa bikin fungsi otak terganggu. Jadi, polanya mirip huruf “U” terbalik, kurang tidur atau kebanyakan tidur sama-sama punya risiko buat otakmu.

Hasil Riset: Ada Hubungan dengan Penurunan Fungsi Otak

Beberapa penelitian menunjukkan, durasi tidur yang terlalu panjang bisa berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif, terutama pada orang tua.

  • Penelitian di China menemukan, orang yang tidur lebih dari 9 jam per malam punya risiko lebih tinggi mengalami gangguan kognitif.
  • Studi CLHLS (China Longitudinal Healthy Longevity Survey) menyebut, tidur ≥10 jam per hari bisa meningkatkan risiko gangguan kognitif dalam 3 tahun ke depan.
  • Penelitian di Belanda juga menemukan, tidur 9 jam atau lebih bisa menurunkan kemampuan memori dan kecepatan berpikir pada usia 40–75 tahun.
  • Pada pasien dengan mild cognitive impairment (MCI), tidur malam lebih dari 9 jam atau tidur siang panjang (lebih dari 2 jam) bahkan dikaitkan dengan risiko demensia lebih cepat.

Jadi, buat kelompok usia lanjut atau yang sudah punya masalah kognitif, tidur terlalu lama memang sering berkaitan dengan penurunan fungsi otak.

Tapi, Bukan Berarti Langsung Bikin “Otak Lemot”

Ilustrasi otak. (Freepik)

Meski banyak penelitian menemukan korelasi, bukan berarti tidur lama otomatis bikin otak rusak. Sebagian besar riset bersifat observasional, alias cuma menemukan hubungan, bukan sebab-akibat.

Bisa jadi, justru orang yang sudah mengalami gangguan saraf atau penurunan fungsi otak jadi sering tidur lebih lama. Artinya, oversleeping bukan penyebab, tapi gejala awal dari gangguan otak yang sudah terjadi.

Selain itu, tidur yang nggak konsisten misalnya jam tidurnya berubah-ubah tiap malam, juga bisa bikin fungsi otak terganggu.

Jadi, Ini Mitos atau Fakta?

Klaim bahwa “tidur terlalu lama bikin otak lemot” itu belum sepenuhnya benar. Belum ada bukti kuat yang menunjukkan tidur lama bisa langsung merusak otak. Tapi, banyak penelitian menunjukkan hubungan antara tidur panjang dengan penurunan kognisi pada lansia atau orang dengan kondisi kesehatan tertentu.

Kalau kamu tidur lama tapi tetap segar dan fokus, kemungkinan besar masih aman. Yang perlu diperhatikan justru kualitas dan konsistensi tidur, bukan cuma durasinya.

Baca juga: Bahaya Tidur Terlalu Lama, Risiko Kesehatan yang Mengancam dan Solusinya

Tips Biar Tidur Tetap Sehat dan Nggak “Kebablasan”

Biar tidur nggak jadi bumerang buat otakmu, coba ikuti beberapa langkah ini:

  • Tidur 7–8 jam per malam sesuai kebutuhan tubuh.
  • Pastikan kualitas tidur bagus, nggak sering kebangun atau ngorok berat.
  • Tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari biar ritme tubuh stabil.
  • Waspadai perubahan durasi tidur, apalagi kalau kamu tiba-tiba jadi sering tidur lama tapi masih ngantuk.
  • Cek kondisi kesehatan, termasuk stres, depresi, atau gangguan tidur seperti sleep apnea.

Tidur terlalu lama belum tentu bikin otak lemot, tapi bisa jadi tanda ada gangguan kesehatan yang perlu diperhatikan.
Kalau kamu merasa tidur lama tapi tetap lelah atau sering lupa, nggak ada salahnya konsultasi ke dokter spesialis tidur atau neurolog.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: PubMed, Cambridge.org

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU