INDOZONE.ID - Osteoartritis merupakan jenis radang sendi yang paling umum, dan memengaruhi sekitar 33 juta orang di Amerika Serikat. Penyakit ini menyebabkan nyeri dan kekakuan pada sendi, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Penanganannya selama ini berfokus pada pengendalian gejala melalui fisioterapi, obat-obatan oral, hingga operasi untuk kasus berat.
Namun kini, suatu penelitian terbaru dari Korea Selatan menunjukkan, terapi radiasi dosis rendah berpotensi menjadi alternatif non-invasif, untuk meredakan nyeri osteoartritis. Terlebih, pada penderita dengan tingkat keparahan ringan hingga sedang.
Penelitian Ungkap Efektivitas Radiasi Dosis Rendah
Studi yang dipimpin oleh Asisten Profesor Onkologi Radiasi di Seoul National University College of Medicine, Dr. Byoung Hyuck Kim, menunjukkan, hasil menjanjikan.
Dalam uji klinis terkontrol secara acak, pasien dengan osteoartritis lutut ringan hingga sedang yang menerima satu kali terapi radiasi dosis rendah, mengalami perbaikan nyeri.
Baca juga: Kabar Baik! Perubahan Kecil dari Cara Berjalan Bisa Redakan Nyeri Osteoartritis
Lalu, dapat melakukan mobilitas yang signifikan dalam waktu empat bulan, dibandingkan kelompok yang hanya menerima perawatan palsu (sham treatment).
“Pasien dengan osteoartritis sering dihadapkan pada pilihan sulit antara risiko efek samping obat penghilang rasa sakit dan risiko operasi penggantian sendi,” ujar Dr. Kim, dikutip dari Medical News Today.
“Kami melihat adanya kebutuhan klinis untuk intervensi moderat di antara keduanya, dan terapi radiasi mungkin bisa menjadi solusi, terutama bagi pasien yang tidak toleran terhadap obat atau suntikan,” sambungnya.
Hasil penelitian ini dipresentasikan dalam Konferensi American Society for Radiation Oncology di San Francisco, dan masih menunggu proses tinjauan sejawat.
Bagaimana Terapi Radiasi Bekerja untuk Osteoartritis
Osteoartritis terjadi akibat kerusakan bertahap pada jaringan sendi, menyebabkan nyeri, pembengkakan, dan penurunan mobilitas. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, namun pengobatan bertujuan memperlambat kerusakan serta mengurangi gejala.
Biasanya, terapi awal melibatkan penggunaan NSAID (obat antiinflamasi non-steroid) baik secara oral maupun topikal, atau injeksi kortikosteroid langsung ke sendi.
Namun, penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan efek samping seperti, gangguan pencernaan dan peningkatan risiko penyakit jantung.
Sebagai alternatif, terapi radiasi dosis rendah menawarkan pendekatan yang lain. Berbeda dari terapi kanker yang menggunakan dosis tinggi untuk membunuh sel ganas, pada osteoartritis radiasi digunakan dalam dosis kecil, yang bersifat antiinflamasi dan membantu mengurangi nyeri.
Walau sudah digunakan di Eropa, penerapan terapi ini di Amerika menurun sejak 1980-an, setelah munculnya berbagai obat baru.
Data ilmiah dari uji klinis acak mengenai efektivitasnya pun masih terbatas, sehingga penelitian Dr. Kim menjadi salah satu yang paling relevan saat ini.
Hasil Penelitian: 70 Persen Pasien Alami Perbaikan
Dalam uji klinis tersebut, sebanyak 114 pasien dengan osteoartritis lutut ringan hingga sedang dibagi menjadi tiga kelompok. Di antaranya kelompok kontrol tanpa radiasi, kelompok dengan paparan 0,3 Gray, dan kelompok dengan paparan 3 Gray (satuan dosis radiasi).
Setelah empat bulan, 70 persen peserta yang menerima dosis 3 Gray menunjukkan perbaikan signifikan terhadap nyeri, kekakuan, dan fungsi sendi.
Baca juga: Lutut Mulai Nyeri? Kenali Osteoartritis dan Jenis Perawatannya
Sementara dibandingkan dengan 41 persen pada kelompok kontrol, tidak ditemukan efek samping terkait radiasi selama penelitian.
Pasien akan terus dipantau selama 12 bulan untuk menilai ketahanan efek terapi. Peneliti juga berencana melakukan pemindaian tambahan untuk mempelajari bagaimana radiasi memengaruhi struktur dan peradangan pada sendi.
Tunda Kebutuhan Operasi Penggantian Sendi
Dr. Kim menjelaskan, terapi radiasi paling bermanfaat bagi pasien dengan osteoartritis ringan hingga sedang, selama struktur sendi masih utuh.
“Untuk osteoartritis berat, di mana sendi sudah rusak total, terapi ini tidak akan menumbuhkan jaringan baru. Namun bagi pasien dengan kondisi ringan, pendekatan ini bisa menunda kebutuhan operasi penggantian sendi,” ujarnya.
Ia menambahkan, kombinasi antara terapi radiasi, fisioterapi, dan pengobatan konvensional dapat memberikan hasil yang lebih baik, serta meningkatkan kepuasan pasien.
Meski terapi radiasi punya potensi risiko jangka panjang seperti peningkatan kemungkinan kanker, penelitian sejauh ini belum menemukan peningkatan signifikan dalam kejadian tersebut pada dosis rendah.
Dr. James Yu, ahli onkologi radiasi dari Dartmouth Cancer Center, yang tidak terlibat dalam studi ini, menekankan, terapi tersebut sebaiknya diberikan pada pasien berusia di atas 60 tahun untuk meminimalkan risiko.
Ia juga menambahkan, pasien yang tidak merespons terapi pertama, bisa mempertimbangkan sesi radiasi kedua setelah tiga hingga empat bulan.
Harapan Baru bagi Penderita Osteoartritis
Meski masih perlu penelitian lanjutan, hasil ini membuka peluang baru bagi pengobatan osteoartritis tanpa operasi. Terapi radiasi dosis rendah, dapat menjadi opsi aman dan efektif.
Hal itu untuk membantu pasien meredakan nyeri, meningkatkan kualitas hidup, dan menunda tindakan invasif seperti operasi penggantian sendi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical News Today