Psikolog Sebut Ledakan di SMA 72 Jadi Alarm Serius: Sekolah Harus Peduli Kesehatan Mental Siswa
INDOZONE.ID - Insiden ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta yang terjadi beberapa waktu lalu kembali membuka luka lama, yakni masalah bullying dan kesehatan mental remaja di sekolah
Lebih mengejutkan lagi, pelaku yang diduga memicu ledakan ternyata juga merupakan korban perundungan di lingkungan sekolahnya.
Psikolog Tika Bisono menilai peristiwa itu bukan sekadar kasus tunggal, melainkan potret kegagalan sistem pendidikan dalam melindungi kesejahteraan psikologis siswa.
Baca juga: Tanda Anak Stres Bisa Terlihat dari Kamarnya, Ini Penjelasan Psikolog
"Setiap manusia punya batas daya tampung emosi," ujar Psikolog Tika Bisono kepada Indozone, Selasa (11/11/2025).
Menurut Tika, tindakan ekstrim seperti ini biasanya terjadi karena seseorang sudah tidak sanggup lagi menahan tekanan yang terus menumpuk tanpa penyaluran yang sehat.
"Manusia itu punya semacam reservoir untuk menampung hal-hal negatif. Tapi kalau terus diisi tanpa ada penyaluran, akhirnya luber," jelasnya.
Ia menggambarkan kondisi mental manusia seperti gelas yang terus diisi air. Ketika penuh dan tidak segera dikosongkan, air akan meluap, begitu juga dengan emosi.
"Yang sehat mental itu justru mereka yang tahu kapan dan bagaimana menyalurkan isi gelasnya sebelum luber," tambahnya.
Jika tekanan itu dibiarkan tanpa outlet yang sehat, maka emosi negatif akan masuk ke alam bawah sadar dan menjadi trauma tak terselesaikan.
Ketika daya tahan mental seseorang runtuh, tindakan ekstrim seperti melukai diri sendiri atau orang lain bisa terjadi.
Remaja Butuh Pendampingan, Bukan Penghakiman
Tika menekankan bahwa masa remaja adalah fase paling rentan dalam perkembangan manusia, fase transisi antara anak-anak dan dewasa, di mana identitas diri sedang terbentuk.
"Remaja itu lagi butuh banget penerimaan, pengertian, dan pendampingan. Tapi seringkali, justru yang mereka dapat adalah tekanan dan penghakiman," jelas Tika.
Menurutnya, banyak orang tua lupa bahwa mereka dulu juga pernah mengalami fase kebingungan yang sama.
Akibatnya, hubungan orang tua dan anak menjadi renggang, dan remaja merasa tak punya tempat untuk bersandar.
"Kalau remaja tidak punya satu orang pun yang bisa dia percaya, dia merasa sendirian. Dari situ, hal-hal ekstrem bisa muncul," ungkap Tika.
Pelaku Juga Korban, Berhak Mendapat Pendampingan
Menanggapi kasus SMA 72, Tika menegaskan bahwa pelaku yang ternyata korban bullying tetap membutuhkan bantuan psikologis, bukan hanya hukuman.
"Tidak ada remaja yang bercita-cita ingin jadi pelaku ledakan. Semua anak ingin dihargai, diterima, dan dianggap," tegasnya.
Ketika penghargaan dan rasa aman itu hilang, banyak remaja akhirnya mencari cara ekstrim untuk menunjukkan diri atau meluapkan amarah yang tak tertampung.
"Pilihan mereka cuma dua; membalas atau menghancurkan diri sendiri. Dan ini harusnya jadi peringatan keras buat semua pihak," ungkapnya.
Baca juga: Psikolog: Kamar Tidur Bisa Pengaruhi Tumbuh Kembang dan Kemandirian Anak
Sekolah Harus Punya Psikolog Tetap, Bukan Sekadar Guru BK
Tika juga mengkritik keras sistem sekolah di Indonesia yang menurutnya kurang peduli pada kesehatan mental siswa.
"Sekolah di luar negeri besar-besar, tapi mereka peduli. Di sini, sekolah malah abai. Makanya kasus kayak gini bakal terus terulang," ujarnya dengan nada tegas.
Ia menilai, keberadaan guru BK di sekolah masih belum cukup, apalagi jika tidak memiliki latar belakang pendidikan psikologi.
"Bayangkan dua-tiga guru BK harus ngurus 300 siswa. Mana mungkin? Bahkan banyak guru BK bukan lulusan BK atau psikologi. Ini bahaya," tegasnya.
Tika menyarankan agar setiap sekolah wajib memiliki psikolog tetap dan sistem pendampingan yang profesional untuk siswa, terutama bagi mereka yang terindikasi korban perundungan atau mengalami tekanan berat.
Lebih jauh, Tika menegaskan bahwa tragedi ini seharusnya menjadi momentum refleksi nasional.
"Kalau sekolah masih menganggap perundungan itu hal sepele, ya kasus seperti ini akan terjadi lagi. Sekolah dan pemerintah harus bertanggung jawab," ujarnya tegas.
Bagi Tika, setiap pelaku kekerasan di sekolah adalah cermin dari sistem yang gagal membentuk rasa aman bagi siswa.
"Kalau anak sampai melakukan tindakan ekstrim, berarti dia sudah berteriak lama, tapi tidak ada yang mau mendengar," tandasnya.
Kasus ledakan di SMA 72 bukan sekadar persoalan individu, tapi krisis empati dan kegagalan sistem pendidikan dalam melindungi kesehatan mental remaja.
Seperti yang ditekankan Tika Bisono, anak-anak itu tidak lahir untuk menjadi pelaku kekerasan. Mereka hanya butuh tempat aman untuk didengar, dipahami, dan diterima.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung