INDOZONE.ID - Beberapa tahun belakangan, isu kesehatan mental anak muda makin sering banget dibahas. Bentuknya juga beragam, mulai dari burnout, cemas berlebihan, sampai perasaan sedih tanpa alasan jelas.
Ternyata, fenomena ini bukan cuma karena anak muda zaman sekarang aware sama kesehatan mental. Menurut data, ada peningkatan jumlah mental health yang makin memburuk dari tahun ke tahun.
Lalu, sebenarnya apa penyebabnya ya? Yuk, kita bahas bareng kenapa kesehatan mental anak muda makin buruk di era sekarang!
Alasan Utama Kesehatan Mental Anak Muda Memburuk
1. Tekanan Hidup yang Terlalu Berat
Salah satu alasan kenapa kesehatan mental anak muda memburuk adalah tekanan hidup yang terlalu berat. Bukan berarti generasi zaman dulu nggak punya tuntutan ya, tapi emang skalanya beda.
Di era seperti sekarang, anak muda punya banyak tuntutan. Mulai dari sekolah, pergaulan, masa depan, ditambah isu global seperti perubahan iklim, pandemi, dan kondisi politik. Semua ini bikin banyak dari mereka merasa kewalahan.
Dilansir dari Psychologytoday, selama pandemi saja, 40 persen pelajar di AS melaporkan kesehatan mental yang buruk. Lebih dari setengahnya merasa takut bahwa dunia akan hancur.
Sementara berdasarkan data dari Kemenkes RI per 2023, 20% penduduk Indonesia (54 juta orang) mengalami gangguan mental emosional. 9,8% di antaranya terdiri dari remaja yang pernah berpikir untuk bunuh diri.
Baca juga: 5 Cara Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Kesibukan Kerja
2. Layar Digital: Bermanfaat tapi Juga Menjebak
Smartphone sekarang seperti bagian dari hidup kita. Generasi muda tumbuh besar di dunia online. Psikolog Jonathan Haidt menyebut ini sebagai perombakan besar pada cara kerja otak anak muda.
Menurutnya, terlalu banyak menatap layar bisa mengganggu tumbuh kembang, meningkatkan stres, kebiasaan membandingkan diri, sampai ekspektasi yang nggak realistis.
Penelitian juga menunjukkan, remaja yang main media sosial lebih dari tiga jam sehari punya risiko dua kali lipat mengalami masalah kesehatan mental.
Banyak anak muda menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling, main game, membandingkan diri, dan menyerap konten yang sengaja dibuat bikin emosi naik turun.
Semakin lama bermain media sosial, otak kita kewalahan. Tapi, hal itu tetap dilakukan karena tergoda. Apalagi, scrolling terasa jauh lebih mudah daripada melakukan hal yang butuh usaha.
Baca juga: 5 Manfaat Berbuat Baik untuk Kesehatan Mental yang Jarang Diketahui
3. Harga Mahal dari Hidup Serba Mudah
Kemudahan teknologi bikin kita gampang terdistraksi dan malas bergerak. Gaya hidup modern yang serba instan, kurang gerak, makanan olahan, dan kenyamanan berlebihan, pelan-pelan menggerus ketahanan fisik dan mental.
Padahal, manusia dirancang untuk aktif bergerak, memecahkan masalah, dan terhubung dengan keluarga serta komunitas.
Namun kenyataannya, sekarang hidup kita lebih banyak diisi dengan duduk, scrolling, dan ngemil. Tanpa sadar, kita mengonsumsi asupan buruk bukan cuma untuk tubuh, tapi juga untuk pikiran.
4. Tekanan Keluarga dan Pola Asuh yang Terlalu Ketat
Perubahan juga terjadi di dalam keluarga. Orang tua makin sibuk dan terdistraksi, tekanan hidup meningkat, dan interaksi keluarga makin berkurang.
Anak-anak sekarang lebih sering menghabiskan waktu di dalam rumah dengan layar, daripada bermain bebas di luar. Orang tua pun cenderung lebih protektif.
Menurut peneliti Peter Gray, berkurangnya kebebasan anak untuk bermain dan menjelajah sendiri berkontribusi besar pada naiknya kecemasan dan depresi.
Padahal, waktu di luar ruangan terbukti membantu menurunkan stres dan meningkatkan fokus. Ini adalah sesuatu yang makin jarang didapat anak muda sekarang.
5. Kesepian di Tengah Dunia yang Serba Cepat
Ironisnya, di era serba online, rasa kesepian justru makin meningkat. Selama ini, kesepian sering dikaitkan dengan orang lanjut usia, tapi sekarang anak muda juga mengalaminya.
Survei tahun 2021 menunjukkan 61 persen dewasa muda merasa sering dan hampir kesepian sepanjang waktu. Banyak yang merasa terasing, baik di lingkungan pertemanan maupun di keluarga.
Anak muda yang nggak punya hubungan dekat dengan teman atau keluarga berisiko 10 kali lebih besar mengalami masalah kesehatan mental.
6. Lebih Sadar, tapi Juga Terlalu Mudah Melabeli Diri
Sisi positifnya, sekarang anak muda lebih terbuka membicarakan kesehatan mental. Media sosial membantu meningkatkan kesadaran dan membuat banyak orang berani mencari bantuan.
Namun, ada juga dampak sampingannya. Karena istilah kesehatan mental sering muncul di mana-mana, sebagian orang jadi terlalu cepat melabeli.
Ada kecenderungan mendiagnosis diri sendiri, apalagi jika dapat penguatan dari media sosial. Padahal, diagnosis harus dilakukan oleh ahlinya.
Nah, itulah 6 alasan kenapa kesehatan mental anak muda makin memburuk di era sekarang. Buat yang merasa butuh bantuan, segera cari pertolongan profesional ya!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychology Today