INDOZONE.ID - Ubi jalar dan kentang, kerap dibandingkan dalam pola makan sehat. Terlebih, bagi mereka yang sedang berupaya menurunkan berat badan.
Keduanya merupakan sumber karbohidrat yang banyak dikonsumsi di berbagai belahan dunia. Namun, pertanyaannya tetap sama, mana yang lebih baik untuk diet dan pengelolaan berat badan?
Menurut ahli gizi Prernna Kalra, seperti dikutip Health Shots, baik ubi jalar maupun kentang memiliki keunggulan masing-masing.
“Kentang sangat fleksibel dan mudah diolah dalam berbagai resep,” ujar Kalra.
Sementara ubi jalar, dikenal sebagai pangan bergizi tinggi, berkat warna oranyenya yang khas dan rasa manis alami.
Baca juga: Bolehkah Mengganti Nasi dengan Ubi Jalar dalam Menu Sehari-hari? Ini Penjelasannya
Kandungan Gizi Ubi Jalar dan Kentang
Sekilas, ubi jalar dan kentang tampak serupa. Dalam satu porsi ukuran sedang, keduanya mengandung sekitar 150 kalori. Namun, profil gizinya berbeda.
Dikutip Hindustan Times, ubi jalar kaya akan beta-karoten, antioksidan yang berperan penting dalam menjaga kesehatan mata, sistem imun, dan kulit. Kandungan inilah yang memberi ubi jalar warna oranye cerah.
Sementara itu, kentang unggul dalam kandungan kalium. Satu kentang ukuran sedang, mengandung sekitar 620 miligram kalium, lebih tinggi dibandingkan ubi jalar yang mengandung sekitar 450 miligram.
Kalium begitu penting untuk fungsi otot, keseimbangan cairan tubuh, serta mencegah kram otot.
Dampak terhadap Gula Darah
Keduanya sama-sama tinggi karbohidrat, sumber energi utama tubuh. Namun, ubi jalar memiliki indeks glikemik (IG) lebih rendah, dibandingkan kentang.
Artinya, ubi jalar menyebabkan kenaikan gula darah yang lebih lambat dan stabil.
Hal ini menjadikan ubi jalar pilihan yang lebih aman, bagi mereka yang memantau kadar gula darah. Termasuk penderita diabetes atau orang yang sedang menjalani program penurunan berat badan.
Di sisi lain, kentang memiliki nilai IG yang bervariasi tergantung cara pengolahan. Kentang rebus memiliki IG lebih rendah dibandingkan kentang yang dipanggang atau digoreng.
Mengombinasikannya dengan protein atau lemak sehat juga dapat membantu menekan lonjakan gula darah.
Kandungan Serat dan Rasa Kenyang
Dalam hal serat, ubi jalar memiliki keunggulan. Satu ubi jalar ukuran sedang, mengandung sekitar 4 gram serat, sementara kentang hanya sekitar 2 gram.
Serat berperan penting dalam meningkatkan rasa kenyang, membantu pencernaan, dan menjaga kesehatan usus.
Makanan tinggi serat cenderung membutuhkan waktu cerna lebih lama, sehingga membantu mengontrol nafsu makan dan mendukung penurunan berat badan.
Oleh karena itu, ubi jalar sering dipilih oleh mereka yang ingin merasa kenyang lebih lama setelah makan.
Baca juga: 7 Manfaat Kentang untuk Kesehatan yang Jarang Diketahui
Antioksidan dan Manfaat Tambahan
Ubi jalar juga unggul dalam kandungan antioksidan, terutama beta-karoten. Varian berwarna ungu bahkan mengandung antioksidan yang lebih tinggi.
Antioksidan membantu melawan stres oksidatif dan berpotensi menurunkan risiko penyakit kronis.
Sementara kentang, memiliki kandungan antioksidan lebih rendah, tapi tetap mengandung fitonutrien yang bermanfaat bagi kesehatan secara umum.
Pengaruh Cara Memasak
Cara memasak sangat memengaruhi nilai gizi kentang maupun ubi jalar. Menggoreng dapat menambah kalori dan lemak, sehingga mengurangi manfaat kesehatannya.
Metode yang lebih dianjurkan adalah merebus, mengukus, atau memanggang tanpa tambahan lemak berlebih.
Baik ubi jalar maupun kentang, sama-sama fleksibel untuk diolah menjadi berbagai hidangan sehat, mulai dari lauk hingga sup.
Jadi, Mana yang Lebih Sehat untuk Diet?
Tidak ada jawaban tunggal. Pilihan antara ubi jalar dan kentang sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan gizi, kondisi kesehatan, dan selera masing-masing.
Jika menginginkan asupan serat dan antioksidan lebih tinggi serta kontrol gula darah yang lebih baik, ubi jalar bisa menjadi pilihan utama.
Namun, jika membutuhkan asupan kalium tinggi dan menyukai tekstur lembut kentang, bahan ini tetap aman dikonsumsi dalam jumlah wajar.
Para ahli menyarankan, untuk mengombinasikan keduanya dalam menu harian. Penurunan berat badan yang berkelanjutan, tidak hanya bergantung pada satu jenis makanan.
Tapi, juga pengaruh pada pola makan seimbang, cara memasak yang sehat, dan hubungan dengan makanan yang positif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Hindustan Times