Sabtu, 03 JANUARI 2026 • 11:05 WIB

Membedah Fenomena Keurupan dari Kacamata Medis dan Psikologi

Author

Ilustrasi orang yang kesurupan (Pixabay/chainatp)

INDOZONE.ID - Kesurupan merupakan fenomena yang masih sering dijumpai dalam kehidupan masyarakat dan terus dikaitkan dengan hal-hal mistis. 

Banyak orang menganggapnya sebagai kondisi ketika seseorang dirasuki makhluk gaib dan kehilangan kendali atas dirinya. 

Pandangan ini muncul karena gejala kesurupan sering tampak ekstrem, seperti berteriak, bergerak tidak terkendali, atau berbicara dengan suara yang berbeda. 

Namun, dunia medis dan psikologi memiliki penjelasan yang lebih rasional dan ilmiah mengenai fenomena ini.

Baca juga: Tren Wellness 2026: Rumah Sakit Jadi Pusat Gaya Hidup Sehat Terintegrasi

Penjelasan Medis tentang Kesurupan

Dalam ilmu kedokteran, kesurupan tidak dikaitkan dengan unsur supranatural. 

Fenomena ini dijelaskan sebagai bagian dari gangguan disosiatif, yaitu gangguan pada kesadaran, ingatan, dan identitas seseorang. 

World Health Organization (WHO) melalui International Classification of Diseases edisi ke-11 (ICD-11) menyebut kondisi ini sebagai Dissociative Trance Disorder (DTD).

DTD terjadi ketika seseorang mengalami perubahan kesadaran sementara sehingga tidak betul-betul menyadari tindakan, pikiran, atau lingkungannya. 

Pada fase ini, individu dapat memperlihatkan perilaku yang berbeda dari biasanya dan sulit mengontrol respons tubuh maupun emosinya.

Baca juga: Sering Tertekan Ekspektasi Keluarga? Ini Cara Mengatasi Pressure dari Orang Tua

Faktor Pemicu Terjadinya Kesurupan

Kesurupan umumnya dipicu oleh tekanan psikologis yang berat. 

Stres emosional, konflik batin, trauma masa lalu, serta tekanan akademik atau pekerjaan dapat menjadi faktor utama. 

Selain itu, kondisi fisik seperti kelelahan ekstrem, kurang tidur, dan daya tahan tubuh yang menurun juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan ini.

Lingkungan sekitar turut memengaruhi. Dalam situasi tertentu, seperti di sekolah atau tempat kerja, kesurupan dapat terjadi secara massal. 

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai mass psychogenic illness, yaitu keadaan ketika respons psikologis menyebar di antara sekelompok orang tanpa adanya penyebab medis atau fisik yang jelas. 

Fenomena ini biasanya dipicu oleh stres kolektif dan sugesti yang dialami, sehingga gejala yang dirasakan terasa nyata meskipun tidak disebabkan oleh penyakit fisik.

Baca juga: Bersama Melawan Stunting: Program Penanganan Stunting di Desa Ngabab Tahun 2025

Gejala yang Tampak Secara Klinis

Secara medis, orang yang mengalami kesurupan dapat menunjukkan penurunan kesadaran, gerakan tubuh yang tidak terkontrol, perubahan ekspresi wajah atau suara, serta ketidakmampuan merespons rangsangan normal. 

Setelah gejalanya berakhir, penderita seringkali tidak mengingat apa yang telah terjadi. 

Meskipun tampak dramatis, gejala tersebut merupakan respons psikologis otak dalam menghadapi tekanan yang berlebihan.

Pendekatan Penanganan Menurut Medis

Penanganan kesurupan secara medis menekankan pada ketenangan dan keamanan penderita. 

Lingkungan sebaiknya dibuat kondusif, tanpa kerumunan dan tanpa sugesti yang dapat memperparah kondisi. 

Baca juga: Terobosan Dunia Medis, Bionic Eye Pertama Siap Kembalikan Penglihatan Tunanetra

Jika kesurupan terjadi berulang, pemeriksaan oleh psikolog atau psikiater sangat dianjurkan untuk mengidentifikasi gangguan disosiatif atau masalah kesehatan mental yang mendasarinya. 

Pendekatan terapi psikologis dan manajemen stres menjadi langkah yang direkomendasikan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: WHO, Cleveland Clinic

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU