INDOZONE.ID - Tanpa disadari, mata kita hampir tak pernah benar-benar beristirahat. Sejak pagi membuka ponsel, bekerja di depan laptop, hingga malam ditemani cahaya lampu dan layar, semuanya menjadi bagian dari gaya hidup modern. Di tengah rutinitas ini, istilah blue light kerap dianggap sebagai ancaman kesehatan. Padahal, dampaknya tidak selalu seburuk yang dibayangkan asal kita paham cara kerjanya dan tahu bagaimana menyikapinya.
Kenapa blue light bisa memicu sakit kepala?
Bagi sebagian orang, terutama yang memiliki riwayat migrain, blue light memang bisa menjadi pemicu. Penyebabnya bukan sekadar kelelahan mata, melainkan adanya jalur saraf khusus yang menghubungkan mata dan otak, yang sangat peka terhadap spektrum cahaya tertentu.
Saat terpapar dalam intensitas tertentu, respons nyeri di otak dapat meningkat. Inilah alasan mengapa sakit kepala terasa lebih tajam, disertai gejala seperti pusing, mual, rasa berdenyut, hingga ketidaknyamanan saat melihat cahaya terang.
Baca juga: Melihat Handphone di Bawah Sinar Matahari Berisiko Tinggi Sebabkan Kebutaan
Mata terasa perih dan berat? Bisa jadi karena blue light dari HP kamu
Terlalu lama menatap layar sering berujung pada mata kering, panas, dan cepat lelah. Kondisi ini dikenal sebagai computer vision syndrome dan cukup umum dialami, terutama oleh pekerja digital dan pengguna gawai aktif.
Blue light memang bukan satu-satunya penyebab, tetapi dapat memperparah kondisi saat mata dipaksa fokus terlalu lama. Kurangnya waktu istirahat dan jarangnya berkedip membuat keluhan ini makin terasa.
Hubungan blue light dengan kualitas tidur
Efek lain yang sering tidak disadari adalah gangguan tidur. Paparan blue light di malam hari dapat membuat otak “terkecoh” seolah hari masih siang, sehingga produksi melatonin, hormon yang membantu kita terlelap menjadi berkurang. Akibatnya, meskipun durasi tidur cukup, tubuh tetap terasa lelah saat bangun. Fokus menurun, emosi lebih sensitif, dan energi terasa cepat terkuras sepanjang hari.
Apakah blue light benar-benar merusak mata?
Soal dampak jangka panjang, riset masih terus berkembang. Beberapa penelitian mengaitkan paparan cahaya berenergi tinggi dengan risiko gangguan retina dan penuaan mata. Namun, risiko ini lebih berkaitan dengan paparan yang sangat intens dan berlangsung lama, bukan penggunaan layar sehari-hari yang masih dalam batas wajar.
Baca juga: 5 Hal Berbahaya Akibat Radiasi Handphone terhadap Anak-anak yang Kamu Harus Tahu!
Langkah sederhana untuk melindungi mata
Alih-alih menghindari teknologi, mengatur kebiasaan justru jauh lebih efektif. Beberapa cara mudah yang bisa diterapkan:
- Gunakan kacamata pelindung blue light jika sering menatap layar atau mudah silau.
- Aktifkan night mode agar tampilan layar terasa lebih nyaman.
- Batasi penggunaan gawai menjelang waktu tidur.
- Pilih pencahayaan ruangan bernuansa hangat dan manfaatkan cahaya alami di siang hari.
- Sisipkan waktu istirahat mata dan biasakan berkedip lebih sering.
Di era digital, blue light bukanlah musuh yang harus ditakuti. Dengan pemahaman yang tepat dan kebiasaan yang lebih seimbang, kita tetap bisa menikmati teknologi tanpa mengorbankan kesehatan mata maupun kualitas tidur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Theraspecs.com