Rabu, 14 JANUARI 2026 • 16:30 WIB

Trauma Child Grooming: Luka Psikologis yang Bisa Terbawa sampai Seumur Hidup

Author

Ilustrasi trauma child grooming (Freepik)

INDOZONE.ID - Kasus child grooming yang dialami Aurelie Moeremans kini ramai menjadi sorotan publik.

Kasus ini pertama kali terungkap, setelah Aurelie merilis buku memoar berjudul 'Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth' pada Oktober 2025.

Dalam buku tersebut, ia menceritakan pengalaman traumatisnya menjadi korban manipulasi dan kekerasan oleh pria dewasa, yang disamarkan dengan nama "Bobby" sejak ia berusia 15 tahun.

Lantas apa sebenarnya child grooming dan apa dampak trauma yang dialami oleh korban? Simak penjelasannya berikut.

Baca juga: Mengenal Child Grooming: Definisi, Tanda, Ciri Pelaku, dan Dampaknya Bagi Korban

Apa Itu Child Grooming?

Child grooming adalah proses manipulatif yang dilakukan pelaku dewasa untuk membangun kedekatan emosional dengan anak sebelum melakukan eksploitasi atau pelecehan seksual.

Proses ini sering sulit dideteksi karena pelaku bertindak secara halus, bertahap, serta membangun hubungan yang membuat anak merasa aman terlebih dahulu.

Child grooming merupakan bentuk perilaku pelaku yang:

  • Mencari anak yang rentan
  • Membangun hubungan atau kepercayaan
  • Mengisolasi anak dari lingkungan dekatnya
  • Selanjutnya mengeksploitasi secara psikologis maupun seksual

Trauma Psikologis Akibat Child Grooming

Trauma akibat child grooming bukan sekadar efek emosional sementara. Penelitian ilmiah menunjukkan dampak jangka pendek dan jangka panjang yang serius terhadap kesehatan mental korban.

Berikut beberapa trauma child grooming yang dialami korban:

1. Gejala Kecemasan dan Depresi

Studi menunjukkan bahwa anak yang menjadi korban grooming berpeluang mengalami gejala kecemasan, depresi, dan perasaan bersalah yang tinggi dalam jangka panjang. Gejala ini bisa menetap bahkan setelah kejadian berakhir.

2. Perasaan Malu, Takut, dan Harga Diri Rendah

Penelitian terhadap remaja yang menjadi korban menunjukkan mereka memiliki rasa malu dan harga diri rendah yang berkepanjangan, faktor yang berkaitan dengan perkembangan PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).

3. Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD)

Studi terhadap orang dewasa yang pernah mengalami seksual abuse yang dimulai dengan grooming menemukan bahwa beberapa bentuk grooming terutama yang bersifat memaksa atau mengancam, sangat memprediksi gejala trauma psikologis yang berat di kemudian hari.

4. Sekuel Emosional Jangka Panjang

Beberapa studi juga menunjukkan bahwa trauma tersebut dapat memengaruhi hubungan interpersonal hingga dewasa, seperti kesulitan mempercayai orang lain atau membangun hubungan sehat emosional.

Baca juga: Penyuluh dan Pendamping Bantu Korban Bencana Sumatera, Trauma Healing Jadi Tahap Lanjutan

Bagaimana Grooming Mengubah Perspektif Anak?

Menurut penelitian yang memetakan fase grooming, pelaku sering:

  • Menggunakan perhatian berlebihan
  • Menawarkan hadiah atau pujian
  • Mengisolasi anak dari keluarga/teman
  • Secara bertahap memperkenalkan topik yang tidak pantas

Perilaku-perilaku ini, meskipun tampak ringan pada awalnya, dapat menyebabkan anak merasa bingung dan terhubung secara emosional dengan pelaku.

Ini yang membuat trauma semakin kompleks karena korban sering merasa konflik antara hubungan emosional yang telah terbentuk dan pengalaman pelecehan itu sendiri.

Mengapa Trauma Grooming Perlu Diwaspadai?

Berikut beberapa hal yang menjadi alasan kenapa trauma child grooming harus diwaspadai:

1. Mudah Tersembunyi

Child grooming sering terjadi melalui percakapan online yang tampak biasa, sehingga sulit bagi orang tua atau guru untuk mendeteksi tanda awalnya.

2. Trauma Bisa Tersimpan Lama

Korban bisa membawa dampak psikologis ini hingga dewasa, termasuk gangguan relasi intim, rendahnya self-esteem, dan kecenderungan psikologis lain seperti isolasi sosial.

3. Pengaruh pada Perilaku

Banyak korban menunjukkan perubahan perilaku, seperti penarikan diri dari suasana sosial, ketakutan berlebihan terhadap sentuhan atau hubungan, hingga sulit mengelola emosi dengan sehat.

Baca juga: Demi Pulihkan Trauma para Korban Banjir Sumatera, Polda Aceh Kirim Tim Pemulihan Kesehatan Mental ke Lokasi Bencana

Child grooming bukan sekadar tindakan pendahuluan menuju pelecehan, tapi meninggalkan jejak psikologis yang mendalam pada korban.

Bukti penelitian menunjukkan bahwa korban child grooming berisiko tinggi mengalami gejala PTSD, depresi dan kecemasan kronis, rasa bersalah dan malu, serta tantangan dalam hubungan sosial dewasa.

Itu kenapa penanganan trauma child grooming ini memerlukan dukungan profesional seperti psikolog atau terapis trauma anak yang memahami dinamika psikologis korban grooming.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pubmed.ncbi.nlm.nih, Mdpi.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU