INDOZONE.ID - Memasuki usia 60 tahun ke atas, perubahan pada penglihatan merupakan hal yang wajar terjadi. Meski demikian, perubahan tersebut tidak harus membatasi aktivitas maupun kualitas hidup.
Dengan memahami apa saja yang perlu diwaspadai, serta kapan harus mencari bantuan profesional, kesehatan mata tetap dapat terjaga dengan optimal.
Pada usia lanjut, risiko gangguan mata terkait penuaan, terus meningkat. Sayangnya, banyak penyakit mata berkembang tanpa gejala awal.
Kondisi ini sering berlangsung tanpa rasa nyeri, dan baru terdeteksi ketika gangguan penglihatan sudah cukup parah.
Oleh karena itu, pemeriksaan mata secara rutin dan deteksi dini, menjadi kunci penting dalam menjaga fungsi penglihatan di usia senior.
Baca juga: Waspadai Perubahan Penglihatan Usia 41–60 Tahun: Mata Mulai Kehilangan Fokus
Misal, menerapkan gaya hidup sehat, pemeriksaan mata berkala, serta penanganan lebih awal terhadap penyakit mata.
Hal tersebut terbukti dapat meningkatkan peluang seseorang mempertahankan penglihatan yang baik, seiring bertambahnya usia.
Penyakit Mata yang Perlu Diwaspadai Setelah Usia 60 Tahun
Dikutip dari American Optometric Association, ada sejumlah penyakit mata dapat muncul setelah usia 60 tahun, dan berpotensi menyebabkan gangguan penglihatan permanen, jika tidak ditangani sejak dini.
Beberapa di antaranya meliputi:
1. Degenerasi Makula Terkait Usia (AMD)
AMD merupakan penyakit yang menyerang makula, bagian tengah retina yang berfungsi untuk melihat detail dan warna.
Kondisi ini menyebabkan gangguan penglihatan sentral, sehingga aktivitas seperti membaca, mengemudi, menonton televisi, dan mengenali wajah menjadi sulit.
Meski penglihatan tepi biasanya tetap normal, penurunan penglihatan sentral dapat sangat memengaruhi kualitas hidup.
2. Katarak
Katarak ditandai dengan keruhan pada lensa mata, yang normalnya bening. Kondisi ini umumnya terjadi pada kedua mata, meski tingkat keparahannya bisa berbeda.
Katarak dapat menyebabkan penglihatan buram, warna tampak pudar, sensitivitas terhadap cahaya meningkat, serta kesulitan melihat dalam kondisi cahaya redup, seperti saat berkendara di malam hari.
3. Retinopati Diabetik
Penyakit ini terjadi akibat kerusakan pembuluh darah kecil di retina pada penderita diabetes. Pembuluh darah yang rusak dapat bocor, dan menyebabkan pembengkakan retina, sehingga penglihatan menjadi kabur.
Baca juga: Kenali Retinitis Pigmentosa: Penyakit Keturunan yang Perlahan Kikis Penglihatan
Risiko retinopati diabetik meningkat, seiring lamanya seseorang menderita diabetes dan buruknya kontrol kadar gula darah. Pada tahap lanjut, kondisi ini dapat menyebabkan kebutaan.
4. Mata Kering
Mata kering terjadi ketika produksi air mata tidak mencukupi atau kualitasnya buruk. Kondisi ini umum dialami lansia, dan dapat menyebabkan mata terasa perih, kering, serta mengganggu kejernihan penglihatan.
5. Glaukoma
Glaukoma merupakan kelompok penyakit mata yang ditandai dengan kerusakan saraf optik, dan hilangnya penglihatan tepi secara bertahap.
Penyakit ini sering berkembang tanpa gejala, dan dapat menyebabkan kebutaan total jika tidak diobati.
Lansia, individu dengan riwayat keluarga glaukoma, serta kelompok etnis tertentu, memiliki risiko lebih tinggi.
6. Lepas Retina
Lepas retina terjadi ketika retina terpisah dari jaringan di bawahnya. Kondisi ini dapat muncul secara tiba-tiba, akibat perubahan pada cairan vitreus di dalam mata, trauma, atau penyakit tertentu seperti diabetes lanjut.
Tanpa penanganan segera, lepas retina dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen.
Pentingnya Pemeriksaan Mata Rutin
American Optometric Association menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan mata tahunan, bagi setiap individu berusia di atas 60 tahun.
Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi perubahan penglihatan sejak dini, memastikan resep kacamata atau lensa kontak tetap sesuai, serta memungkinkan penanganan cepat bila ditemukan gangguan mata.
Individu dengan diabetes, hipertensi, atau yang mengonsumsi obat-obatan dengan efek samping pada mata, disarankan lebih waspada. Sebab, mereka memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan penglihatan.
Tantangan Mengemudi di Usia Lanjut
Perubahan penglihatan akibat usia, dapat memengaruhi kemampuan berkendara, bahkan sebelum gejalanya disadari.
Kesulitan melihat rambu lalu lintas, menilai jarak dan kecepatan, beradaptasi terhadap cahaya terang atau silau, serta berkurangnya penglihatan tepi merupakan masalah yang sering dialami lansia.
Untuk menjaga keselamatan, lansia disarankan lebih berhati-hati di persimpangan, mengurangi kecepatan, membatasi berkendara pada siang hari, serta melakukan pemeriksaan mata secara rutin.
Mengikuti pelatihan mengemudi khusus lansia, juga dapat membantu menyesuaikan diri dengan perubahan fisik yang terjadi.
Menghadapi Gangguan Penglihatan di Usia Senior
Sebagian lansia mengalami penurunan penglihatan yang melebihi perubahan normal akibat penuaan. Dalam kondisi ini, layanan rehabilitasi low vision dapat membantu individu mempertahankan kemandirian dan kualitas hidup.
Rehabilitasi low vision mencakup penggunaan alat bantu seperti kaca pembesar, teleskop mini, alat pembesar digital, serta berbagai perangkat pendukung lainnya.
Selain itu, tersedia pula produk seperti buku huruf besar, buku audio, jam bicara, dan alat bantu aktivitas sehari-hari.
Dokter optometri berperan penting dalam merancang program rehabilitasi yang sesuai dengan kondisi masing-masing individu. Sehingga, lansia tetap dapat menjalani aktivitas secara aman, efektif, dan mandiri.
Menjaga Penglihatan untuk Kualitas Hidup yang Lebih Baik
Penuaan tidak harus identik dengan kehilangan penglihatan. Dengan kesadaran, pemeriksaan rutin, serta penanganan yang tepat, kesehatan mata dapat dipertahankan hingga usia lanjut.
Mengenali tanda-tanda awal gangguan mata, dan mengambil langkah pencegahan sejak dini, menjadi investasi penting untuk menjaga kualitas hidup di masa senior.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: American Optometric Association