INDOZONE.ID - Bayi yang sering gumoh masih sering dianggap sepele.
Padahal orangtua perlu waspada karena bisa jadi itu tanda si bayi alami regurgitasi, GER, ataupun GERD.
Perbedaan regurgitasi, GER, ataupun GERD ini perlu dikenali. Karena gejala dan penanganannya tidak sama.
Bahkan pada bayi, siapa sangka kalau dia bisa mengalami GERD. Namun kondisinya berbeda dengan orang dewasa.
Dijelaskan Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi RS Premier Bintaro, Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), Regurgitasi dan GER itu sering dan umumnya tidak berbahaya, sedangkan GERD jarang.
Baca juga: Manfaat Edamame untuk Wanita 40 Tahun, Bantu Hormon Tetap Seimbang hingga Tulang Lebih Kuat
“GERD perlu dicurigai bila terdapat tanda bahaya atau alarm sign, seperti gagal tumbuh, bercak darah pada regurgitasi, nyeri hebat, atau gangguan neurologis. Tanpa tanda alarm, pemeriksaan lanjutan biasanya tidak diperlukan,” kata Prof Hegar dalam acara Media Gathering dan Health Talk di Dharmawangsa, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Penyebab Bayi Gumoh
Prof Hegar menambahkan, bayi kerap gumoh karena kondisi sistem perncernaannya masih dalam tahap pematangan.
Kondisi ini umum terjadi pada bayi sehat dan tidak disertai usaha muntah yang kuat.
“Gumoh atau disebut regurgitasi adalah keluarnya kembali isi lambung bayi melalui mulut. Secara anatomi dan fungsi, saluran cerna bayi memang belum matang, dan regurgitasi itu adalah refluks yang keluar lewat mulut," ujarnya.
Baca juga: Cara Hitung Saldo JHT BPJS, Mudah Dipahami untuk Karyawan
Prof Hegar menegaskan bahwa gumoh pada bayi wajar terjadi. Karena sang bayi justru lebih banyak mengonsumsi cairan (susu) dibandingkan makanan padat.
“Bayi itu minumnya banyak. Dibandingkan makanan padat, cairan lebih banyak, jadi lebih mudah dia kembali,” katanya.
Kata Prof Hegar lagi, gumoh paling sering terjadi pada enam bulan pertama kehidupan. Setelah itu, bayi tak akan lagi mengalami gumoh pada usia 12-18 bulan
Beda Regurgitasi atau Kondisi GER pada Bayi
Sementara itu, bayi juga dapat mengalami GER atau gastroesophageal reflux.
Baca juga: Daftar Makanan yang Bisa Menyebabkan Bayi Sembelit
Pada saat bayi mengalami GER, refluks tidak selalu terlihat karena tidak selalu keluar dari mulut.
Bahkan, bayi dengan GER tumbuh kembangnya tidak terganggu. Di samping juga, kabar baiknya, seiring bertambahnya usia, fungsi saluran cerna si kecil akan matang dengan sendirinya.
“Dari reflux yang normal pada bayi, sebagian besar akan membaik dengan sendirinya,” ujar Prof Hegar.
Data juga menunjukkan sekitar 30 persen bayi mengalami GER, sedangkan GERD hanya terjadi pada sekitar 3 hingga 8 persen kasus.
Prof. Hegar pun menegaskan bahwa secara epidemiologis, GER jauh lebih sering terjadi dibanding GERD.
Baca juga: Mindful Living: Cara Sederhana Menikmati Hidup Tanpa Overthinking
"Hanya sekitar 3 persen sampai 8 persen yang berkembang menjadi gastroesophageal reflux disease,” paparnya.
Bagaimana Kondisi GERD pada Bayi?
Dalam kesempatan ini, Prof Hegar juga menjelaskan kondisi GERD pada bayi. GERD merupakan kondisi patologis yang memicu asam lambung naik.
“Kalau kita ngomong GERD berarti kita pakai disease. Disease itu berarti isi lambung yang ada di kerongkongan terlalu lama atau terlalu sering sehingga merusak dinding esofagus,” jelasnya.
Untuk penyebabnya, diawali dengan imaturitas dari fungsi saluran cerna pada seorang bayi. Akibatnya sering terjadi iritasi atau kerusakan pada dinding kerongkongan.
Baca juga: Sering Makan Wortel Bikin Kulit Jadi Oranye? Ini Penjelasan Medisnya
“Tapi seiring bertambah besar dia akan bagus, karena akan matang sesuai dengan pertambahan usianya. Tapi sebagian kecil, daya pertahan tubuhnya kurang dibandingkan serangan asamnya. Nah itulah yang membuat dia GERD,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan