Ilustrasi bayi sembelit (Sumber: gettyimage)
INDOZONE.ID - Kamu sebagai orang tua pasti pernah galau saat bayi yang baru mulai makan MPASI tiba-tiba susah BAB atau sembelit. Sembelit pada bayi adalah kondisi saat si kecil jarang buang air besar, atau tinjanya keras dan sulit keluar, sehingga membuat bayi rewel atau bahkan menangis saat mencoba BAB. Sebenarnya, ini bukan cuma soal frekuensi, tetapi juga soal konsistensi tinja yang terlalu keras dan tubuh yang kesulitan mendorongnya keluar.
Ada banyak faktor yang bisa membuat bayi sembelit, mulai dari perubahan pola makan, kurang cairan, sampai jenis makanan yang diperkenalkan saat MPASI. Nah, artikel ini akan mengupas tuntas daftar makanan yang bisa menyebabkan bayi sembelit dan alasan mengapa makanan-makanan tersebut dapat membuat pencernaan bayi menjadi kurang lancar.
Sebelum membahas makanan apa saja, kita perlu memahami dulu kenapa bayi bisa sembelit setelah mulai makan MPASI. Sistem pencernaan bayi masih dalam tahap belajar. Saat bayi baru mengenal makanan padat setelah sebelumnya hanya mengonsumsi ASI atau susu formula, ususnya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.
Peralihan dari makanan cair ke padat membuat tekstur tinja menjadi lebih keras. Jika usus belum terbiasa, gerakan pencernaan bisa menjadi lebih lambat dan akhirnya membuat bayi susah BAB.
Baca juga: Toodler Rentan Alami Sembelit, Kenali Penyebabnya yang Jarang Dipahami
Selain itu, ada juga makanan tertentu yang rendah serat atau agak sulit dicerna oleh bayi sehingga dapat memperparah sembelit. Ditambah lagi jika asupan cairannya kurang, misalnya kurang minum setelah mulai MPASI, tinja bisa semakin keras dan sulit dikeluarkan.
Salah satu makanan yang paling sering masuk daftar penyebab sembelit pada bayi adalah bubur sereal beras atau rice cereal. Banyak orang tua memberikan rice cereal sebagai makanan MPASI pertama karena rasanya netral dan mudah dikunyah. Sayangnya, rice cereal rendah serat sehingga tinja bisa menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan.
Karena rendah serat, rice cereal dapat memperlambat kerja usus bayi yang masih belajar mencerna makanan padat. Itulah sebabnya beberapa ahli menyarankan untuk mengganti atau mencampur rice cereal dengan sereal lain yang lebih tinggi serat, seperti oat atau barley, jika bayi mengalami sembelit.
Pisang memang kaya nutrisi dan sering menjadi pilihan buah MPASI. Namun, pisang—terutama yang belum matang—justru bisa menyebabkan sembelit. Pisang mentah mengandung lebih banyak pati yang sulit dicerna, sehingga tekstur tinja bisa menjadi lebih keras dan membuat bayi susah BAB.
Banyak orang tua baru menyadari setelah si kecil mulai mengonsumsi pisang yang dihaluskan, frekuensi BAB menurun dan tinjanya lebih padat dari biasanya. Dalam jumlah kecil mungkin masih aman, tetapi jika sering dan berlebihan, pisang bisa menjadi salah satu penyebab sembelit.
Apel memang dikenal sehat, tetapi tidak semua olahan apel baik untuk pencernaan bayi. Justru yang sering menyebabkan sembelit adalah applesauce atau apel yang dihaluskan tanpa kulit. Kulit apel merupakan sumber serat, sedangkan applesauce biasanya sudah dibuang kulitnya sehingga kandungan seratnya jauh lebih sedikit. Akibatnya, pencernaan bisa menjadi lebih lambat.
Prinsip ini sebenarnya berlaku untuk banyak buah. Semakin tinggi seratnya, semakin lancar pencernaan. Karena itu, apel utuh yang dikukus lalu dihaluskan bersama kulitnya jauh lebih baik untuk membantu BAB dibandingkan apel tanpa kulit atau applesauce siap pakai.
Produk susu seperti keju atau yoghurt juga bisa berkontribusi pada sembelit pada beberapa bayi. Susu sapi dan produk olahannya cenderung rendah serat dan lebih berat dicerna, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar.
Selain itu, susu sapi sebaiknya tidak diperkenalkan sebelum bayi berusia satu tahun karena sistem pencernaan mereka belum siap menangani protein kompleks dari susu sapi. Susu formula berbasis susu sapi juga dapat membuat tinja bayi lebih padat dibandingkan bayi yang hanya mendapat ASI, meski bukan berarti formula selalu menyebabkan sembelit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline