Senin, 09 MARET 2026 • 17:00 WIB

Sering Merasa Burnout? Hati-Hati, Bisa Jadi Itu Tanda High Functioning Depression

Author

Ilustrasi burnout. (freepik)

INDOZONE.ID - Di usia muda, banyak orang berlomba menjadi versi terbaik dari dirinya. Mulai dari mengejar nilai bagus di sekolah atau kampus, aktif di organisasi, hingga menjaga citra di media sosial. Semua terasa seperti kompetisi yang tidak pernah berhenti.

Sayangnya, di balik kesibukan tersebut, ada kondisi yang sering tidak disadari: burnout. Seseorang bisa terlihat baik-baik saja di luar, tetap berprestasi, bahkan terlihat sangat produktif. Namun, di dalam dirinya ada rasa lelah emosional yang terus menumpuk.

Burnout jarang muncul secara mendadak. Biasanya tubuh dan pikiran sudah memberikan berbagai tanda lebih dulu. Jika sinyal ini terus diabaikan, kondisi mental bisa semakin menurun.

Baca juga: Sering Dianggap Sama, Ini Perbedaan Burnout dan Post Holiday Blues

Tanda-Tanda Burnout yang Sering Tidak Disadari

Burnout sering muncul lewat perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang menganggapnya hal biasa, padahal bisa menjadi alarm dari tubuh.

Beberapa tanda yang sering muncul antara lain rasa cemas berlebihan hingga mengganggu aktivitas, sulit tidur meskipun tubuh sudah sangat lelah, serta perubahan mood yang cepat dan tidak stabil.

Selain itu, ada juga gejala fisik seperti pola makan yang tidak teratur, sakit kepala yang datang berulang, atau tubuh yang terasa pegal tanpa alasan jelas. Semua ini bisa menjadi sinyal bahwa tubuh sedang mengalami kelelahan mental.

Pada remaja dan mahasiswa, burnout juga sering berkaitan dengan kondisi yang dikenal sebagai High-functioning depression. Dalam kondisi ini, seseorang masih mampu menjalani tanggung jawabnya dengan baik, nilai tetap bagus, kegiatan tetap aktif, dan terlihat produktif. Namun, sebenarnya ia merasa kosong, lelah, dan kehilangan kebahagiaan.

Cara Mengatasi Burnout Sebelum Semakin Parah

Ilustrasi pekerja burnout. (Pexels/Nataliya Vaitkevich)

Menghadapi burnout tidak selalu membutuhkan langkah besar. Hal sederhana pun bisa membantu menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental.

Belajar Membuat Batasan: tidak semua kesempatan harus diambil. Terlalu banyak aktivitas justru bisa menguras energi. Menentukan prioritas dan berani mengatakan “tidak” adalah cara penting untuk menjaga diri tetap sehat.

Sisihkan Waktu untuk Diri Sendiri: istirahat bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Gunakan waktu luang untuk melakukan hal yang menenangkan, seperti olahraga ringan, menulis jurnal, mendengarkan musik, atau sekadar beristirahat tanpa merasa bersalah.

Bangun Support System: berbagi cerita dengan orang lain dapat membantu meringankan beban pikiran. Teman dekat, keluarga, atau guru bisa menjadi tempat untuk bercerita. Jika diperlukan, berkonsultasi dengan tenaga profesional juga bisa menjadi langkah yang bijak.

Mulai Biasakan Digital Detox: media sosial memang seru dan sering jadi hiburan, tetapi penggunaan yang berlebihan bisa membuat mental semakin lelah. Banyak orang tanpa sadar mengalami Fear of Missing Out (FOMO), kebiasaan scrolling tanpa henti, tekanan untuk selalu memperbarui kehidupan, hingga terjebak membandingkan diri dengan orang lain. Karena itu, penting memberi jeda dari dunia digital dengan mengurangi waktu bermain media sosial, terutama menjelang tidur, agar pikiran lebih tenang dan kualitas istirahat menjadi lebih baik.

Ubah Cara Memandang Kesuksesan: setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Daripada terus membandingkan diri dengan orang lain, cobalah fokus pada perkembangan pribadi dan menghargai setiap kemajuan kecil yang dicapai.

Temukan Aktivitas yang Membuat Bahagia: hobi dapat menjadi cara efektif untuk meredakan stres. Melukis, memasak, bermain musik, atau aktivitas kreatif lainnya bisa menjadi ruang untuk mengekspresikan emosi dan mengembalikan energi positif.

Baca juga: Anti Burnout! 8 Tips Work Life Balance yang Bikin Kerja Lebih Santai Sekaligus Produktif

Jangan Menyimpan Semua Beban Sendirian

Burnout bukanlah masalah sepele, tetapi juga bukan sesuatu yang harus dihadapi sendiri. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

Jika kelelahan emosional mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, memengaruhi hubungan dengan orang lain, atau bahkan memicu pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari dukungan dari orang terpercaya atau tenaga profesional.

Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Karena sukses bukan hanya tentang terlihat kuat di luar, tetapi juga merasa baik-baik saja di dalam diri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Satupersen.net

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU