INDOZONE.ID - Air berkarbonasi atau sparkling water, kini semakin populer sebagai alternatif minuman manis. Sensasi segar tanpa tambahan gula dan kalori, membuat minuman ini banyak dipilih.
Terlebih, minuman ini dinilai dapat menjaga hidrasi hingga membantu pengelolaan berat badan. Namun, muncul pertanyaan, apakah air berkarbonasi benar-benar sehat?
Memahami dampaknya terhadap tubuh menjadi penting. Mulai dari efek pada pencernaan, gigi, hingga kesehatan tulang. Berikut penjelasan lengkap berdasarkan berbagai temuan ilmiah.
Apa Itu Air Berkarbonasi?
Dikutip dari Medical Daily, air berkarbonasi adalah air yang diberi tambahan gas karbon dioksida, sehingga menghasilkan gelembung.
Proses ini membentuk asam karbonat yang memberikan rasa sedikit asam tanpa menambah kalori.
Baca juga: Minuman Sparkling Water Bisa Membahayakan Gigi dan Tulang
Jenisnya beragam, seperti:
- Seltzer (air berkarbonasi murni)
- Air mineral berkarbonasi (mengandung mineral alami)
- Club soda (ditambah mineral seperti natrium)
Secara fungsi, air berkarbonasi dan air putih biasa sama-sama mampu menghidrasi tubuh dengan baik. Perbedaannya lebih pada sensasi rasa dan efek kenyang yang ditimbulkan.
Efek pada Hidrasi dan Pencernaan
Banyak yang meragukan kemampuan hidrasi air berkarbonasi. Namun, penelitian menunjukkan bahwa efeknya setara dengan air biasa.
Tubuh tetap menyerap air, sementara gas karbon dioksida akan dikeluarkan melalui pernapasan.
Dalam hal pencernaan, air berkarbonasi bahkan dapat memberikan manfaat tambahan.
Menurut National Library of Medicine, air berkarbonasi dapat membantu meningkatkan kemampuan menelan dan meredakan sembelit, terutama pada lansia.
Selain itu, sensasi penuh setelah minum juga dapat membantu mengontrol nafsu makan, sehingga mendukung manajemen berat badan.
Apakah Berbahaya untuk Gigi dan Tulang?
Salah satu kekhawatiran utama adalah, dampaknya terhadap gigi dan tulang. Air berkarbonasi memang sedikit asam (pH sekitar 3–4), namun tingkat keasamannya jauh lebih rendah dibandingkan soda atau jus manis.
Berdasarkan studi di PubMed Central, air berkarbonasi dapat menyebabkan erosi enamel ringan, tetapi dampaknya jauh lebih kecil dibandingkan minuman bersoda.
Sementara itu, tidak ada bukti kuat yang mengaitkan air berkarbonasi dengan penurunan kepadatan tulang. Berbeda dengan minuman cola, air berkarbonasi tidak mengandung asam fosfat yang berisiko bagi tulang.
Baca juga: Bisakah Air Berkarbonasi Membantu Menurunkan Berat Badan? Ini Penjelasannya
Efek Samping yang Perlu Diperhatikan
Meski umumnya aman, air berkarbonasi dapat menimbulkan efek samping ringan pada sebagian orang, terutama terkait pencernaan.
Menurut National Institutes of Health, minuman berkarbonasi dapat meningkatkan tekanan dalam lambung, dan memicu gejala refluks pada individu sensitif.
Beberapa efek yang mungkin muncul antara lain:
- Kembung dan gas: Gelembung karbonasi dapat menyebabkan perut terasa penuh atau begah.
- Refluks asam (GERD): Dapat memperburuk rasa panas di dada (heartburn) pada penderita tertentu.
- Sensitivitas pencernaan: Pada penderita gangguan seperti IBS, efek kembung bisa lebih terasa.
Selain itu, varian berperisa yang mengandung asam sitrat, pemanis buatan, atau kafein dapat meningkatkan risiko iritasi lambung.
Pilih yang Tepat untuk Konsumsi Harian
Tidak semua air berkarbonasi sama. Beberapa jenis seperti tonic water mengandung gula tambahan, sehingga kurang ideal untuk dikonsumsi rutin.
Pilihan terbaik adalah, air berkarbonasi polos tanpa tambahan gula atau pemanis. Membaca label produk, menjadi langkah penting untuk memastikan kandungan yang aman.
Namun, konsumsi tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh. Jika muncul keluhan seperti kembung atau refluks, mengurangi konsumsi atau kembali ke air putih bisa menjadi solusi.
Secara keseluruhan, air berkarbonasi aman dikonsumsi dalam jumlah wajar, terutama jika memilih varian tanpa gula dan bahan tambahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily