Rabu, 06 MEI 2026 • 17:15 WIB

Kasus DBD Dewasa Terus Meningkat, Dokter Ingatkan Pentingnya Vaksin dan Gaya Hidup Sehat

Author

Ilustrasi dengue. (Freepik)

INDOZONE.ID - Sering kali dengue atau DBD dianggap sebagai penyakit yang lebih banyak menyerang anak-anak. Padahal pada kelompok usia dewasa risikonya tetap tinggi dan dapat berdampak luas. 

Tak sedikit pasien dewasa harus menjalani rawat inap akibat DBD. Hingga akhirnya mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, sampai ke produktivitas keluarga. 

Selain itu, pada kelompok usia dewasa, khususnya yang memiliki kondisi penyerta atau komorbiditas seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan kesehatan lainnya, risiko terjadinya komplikasi akibat dengue dapat menjadi lebih tinggi. 

Kondisi ini dapat memperberat perjalanan penyakit dan meningkatkan kebutuhan perawatan medis yang lebih intensif. Padahal, pencegahan yang dilakukan sejak awal dapat membantu mengurangi risiko kondisi yang lebih serius.

Baca juga: Dirut BPJS Kesehatan Tegaskan Tak Ada Aturan Pasien DBD Pulang Setelah 3 Hari: Laporkan!

Hal itu diutarakan oleh Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Dr. dr. Sukamto Koesnoe. SpPD, K-AI, FINASIM. Ia mengajak masyarakat untuk melindungi diri dari dengue karena memberikan dampak negatif bagi orang dewasa.

“Kami mengajak masyarakat untuk lebih proaktif dalam melindungi diri dan keluarga, termasuk dengan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai opsi pencegahan yang tersedia, seperti imunisasi, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing,” katanya di Jakarta. 

dr Soekamto juga mengingatkan masyarakat untuk memulai hidup sehat demi mencegah berbagai macam penyakit. Mulai dari menjaga lingkungan hingga mempertimbangkan langkah perlindungan tambahan sebagai bagian dari pendekatan yang komprehensif. 

Momen edukasi kesehatan mengenai pentingnya vaksin dengue. (Dewi/Z Creators)

Lebih lanjut, Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K) menambahkan, DBD memiliki karakteristik yang unik karena perjalanan penyakitnya tidak selalu dapat diprediksi. Ia menyebutkan, sekitar 75% kasus DBD terjadi pada kelompok usia 5–44 tahun, dengan proporsi kematian terbesar, yaitu sekitar 41%, terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun.

“DBD dapat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh yang masih berkembang serta keterlambatan dalam mengenali gejala,” katanya.

Prof. Hartono juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan dan perlindungan diri. Sejalan dengan persetujuan BPOM terbaru, ia menyarankan imunisasi DBD yang direkomendasikan bagi anak-anak usia 4 hingga 18 tahun.

“Dengan langkah sederhana namun konsisten, kita dapat melindungi diri sendiri sekaligus orang-orang terdekat dari bahaya infeksi DBD,” imbuhnya.

Baca juga: Indonesia Hadapi Krisis Ganda: DBD dan Kekerasan Perempuan yang Harus Dicegah

Penekanan pada pencegahan ini juga sejalan dengan upaya berbagai pihak dalam memperluas edukasi dan akses perlindungan terhadap dengue. Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menjelaskan bahwa dengue merupakan penyakit yang dapat berkembang menjadi kondisi serius dan mengancam jiwa. 

Ia menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung target global “Nol Kematian Akibat Dengue pada Tahun 2030” melalui peningkatan pemahaman masyarakat bersama dengan Halodoc.

“Kami melihat kesamaan ini bisa meningkatkan literasi publik terkait dengue, terutama dalam hal pencegahan dan edukasi tersebut perlu diperluas,” katanya. 

Senada dengan hal tersebut, CEO & Co-founder Halodoc Jonathan Sudharta, menambahkan bahwa sebagai ekosistem kesehatan digital, ia menggencarkan edukasi hingga langkah preventif seperti vaksinasi. 

“Mengingat besarnya beban penyakit ini, kami ikut memperkuat edukasi medis yang akurat sekaligus memperluas proteksi bagi masyarakat,” paparnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa kolaborasi ini telah menunjukkan dampak positif. Akses layanan vaksinasi DBD tercatat meningkat hampir dua kali lipat pada kuartal I 2026 dibandingkan kuartal IV 2025. Ke depan, Jonathan berharap dapat menjangkau lebih banyak masyarakat Indonesia melalui edukasi yang berkelanjutan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU