Minggu, 28 JUNI 2026 • 15:15 WIB

Enggak Cuma Merusak Hati, Alkohol Berlebihan Ternyata Bisa Mempercepat Penuaan Otak

Author

 Kebiasaan minum alkohol juga berdampak pada kesehatan otak. (Freepik)

INDOZONE.ID – Gaya hidup sehat berperan penting dalam menjaga kesehatan otak, dan menurunkan risiko demensia, termasuk penyakit Alzheimer

Selain mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, tidur cukup, tidak merokok, hingga membatasi konsumsi alkohol, menjadi salah satu langkah yang dianjurkan para ahli. 

Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan, konsumsi alkohol berat dalam jangka panjang, dinilai dapat mempercepat proses penuaan biologis otak, dan memicu perubahan yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer. 

Meski hasil penelitian ini masih berasal dari studi pada hewan, dan belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah yang telah melalui proses telaah sejawat (peer review), temuan tersebut menambah bukti mengenai dampak buruk alkohol terhadap kesehatan otak. 

Penelitian ini dipresentasikan dalam pertemuan ilmiah tahunan ke-49 Research Society on Alcohol (RSA), oleh tim peneliti dari University of Florida

Baca juga: Kebiasaan Minum Alkohol Bisa Memperpendek Umur!

Penuaan Tetap Faktor Risiko Utama, tetapi Gaya Hidup Sangat Berpengaruh 

Dikutip dari Medical News Today, penulis utama penelitian, Nagalakshmi (Lakshmi) Balasubramanian, PhD, menjelaskan, usia merupakan faktor risiko terbesar untuk penyakit Alzheimer. 

Namun, pilihan gaya hidup juga memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan otak. 

Menurutnya, memahami bagaimana alkohol, pola makan, aktivitas fisik, dan kualitas tidur memengaruhi proses penuaan otak, yang dapat membantu para peneliti menemukan strategi pencegahan efektif. 

Sehingga, seseorang dapat mempertahankan fungsi kognitif hingga usia lanjut. 

Ilustrasi orang minum alkohol berlebihan. (Freepik)

Alkohol Berat Diduga Memicu Perubahan Biologis pada Otak 

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menggunakan model tikus untuk mempelajari bagaimana konsumsi alkohol berat secara kronis, memengaruhi risiko Alzheimer. 

Balasubramanian mengatakan, konsumsi alkohol berlebihan merupakan faktor yang sering diabaikan. Padahal, kebiasaan itu berpotensi memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan otak. 

Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan, paparan alkohol kronis dapat mempercepat penuaan biologis, serta memicu sejumlah proses yang berkaitan dengan Alzheimer, antara lain: 

  • Peradangan kronis pada jaringan otak.
  • Gangguan metabolisme sel.
  • Penumpukan protein tau (protein yang secara alami bertugas menjaga kestabilan mikrotubulus) yang tidak normal. 

Protein tau yang menggumpal, merupakan salah satu ciri khas penyakit Alzheimer dan berperan dalam kerusakan sel-sel saraf. 

Selain itu, konsumsi alkohol juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko depresi, gangguan kecemasan, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. 

Gejala-gejala tersebut sering kali muncul pada tahap awal Alzheimer, bahkan sebelum gangguan daya ingat menjadi jelas. 

Senyawa Beracun Hasil Pemecahan Alkohol Diduga Berperan 

Penelitian ini juga menyoroti peran varian genetik ALDH2*2, yaitu gen yang memengaruhi kemampuan tubuh memecah asetaldehida. 

Asetaldehida merupakan senyawa beracun yang terbentuk saat tubuh memetabolisme alkohol. Normalnya, enzim ALDH2 akan menguraikan zat tersebut menjadi senyawa yang lebih aman. 

Baca juga: Minum Alkohol Muda Picu Penyakit Liver, Cegah dengan 4 Cara Ini

Namun, pada individu dengan varian genetik ALDH2*2, proses tersebut berlangsung kurang efisien. Sehingga, asetaldehida menumpuk di dalam tubuh. 

Varian gen ini sering dikaitkan dengan gejala wajah memerah setelah mengonsumsi alkohol, tapi penelitian terbaru menunjukkan dampaknya kemungkinan jauh lebih luas terhadap kesehatan otak. 

Perubahan Otak Berbeda pada Pria dan Wanita 

Hasil penelitian menemukan, penumpukan asetaldehida dapat mengubah struktur molekuler otak, dan berkontribusi terhadap munculnya perubahan yang menyerupai penyakit Alzheimer. 

Menariknya, para peneliti menemukan, perubahan tersebut tidak terjadi dengan pola yang sama pada jantan dan betina dalam model hewan. 

Perbedaan terlihat pada lokasi penumpukan protein tau, maupun jenis sel otak yang terdampak. Temuan ini menunjukkan, dampak metabolisme alkohol kemungkinan berbeda pada setiap individu, termasuk dipengaruhi oleh faktor biologis berdasarkan jenis kelamin. 

Saat ini, tim peneliti masih melanjutkan studi untuk memahami mekanisme metabolisme, dan perubahan molekuler yang menyebabkan perbedaan tersebut. 

Alkohol Merupakan Faktor Risiko yang Dapat Dikendalikan 

Menanggapi hasil penelitian ini, dokter penyakit dalam sekaligus Wakil Ketua Departemen Kedokteran di Hackensack Meridian Jersey Shore University Medical Center, Swapnil Patel, MD, mengatakan, penelitian tersebut memperkuat pengamatan para dokter bahwa, konsumsi alkohol berat meningkatkan risiko kerusakan otak dan demensia, termasuk Alzheimer. 

Menurut Patel, keunggulan temuan ini adalah mulai memberikan gambaran mengenai mekanisme biologis yang mendasarinya. 

Ia menilai, pembahasan mengenai konsumsi alkohol seharusnya menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan otak, sama seperti pengendalian tekanan darah, diabetes, dan aktivitas fisik. 

Patel juga menekankan, konsumsi alkohol merupakan faktor risiko yang dapat diubah, berbeda dengan faktor genetik. 

Berbagai penelitian memperkirakan, hampir separuh kasus demensia berkaitan dengan faktor-faktor yang sebenarnya dapat dicegah atau diperbaiki, termasuk konsumsi alkohol berlebihan. 

Penelitian Masih Terbatas pada Hewan 

Di sisi lain, internis sekaligus Chief Medical Officer Healthy Brain Clinic, Dung Trinh, MD, mengingatkan, agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan alkohol secara langsung menyebabkan penyakit Alzheimer. 

Menurutnya, penelitian ini masih bersifat praklinis karena dilakukan menggunakan model hewan. Sehingga, belum dapat membuktikan hubungan sebab akibat pada manusia. 

Meski demikian, hasilnya memperkuat bukti bahwa, konsumsi alkohol berat dalam jangka panjang kemungkinan mempercepat stres biologis pada otak, terutama pada individu yang memang memiliki kerentanan tertentu. 

Ilustrasi mengonsumsi alkohol. (freepik)

Trinh menilai, langkah berikutnya adalah melakukan penelitian jangka panjang pada manusia. 

Hal ini untuk melihat, apakah paparan alkohol kronis benar-benar berkaitan dengan perubahan biomarker Alzheimer, seperti penumpukan protein amiloid, protein tau, peradangan saraf, degenerasi neuron, maupun biomarker yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan darah. 

Selain itu, peneliti juga perlu mengetahui apakah mengurangi atau menghentikan konsumsi alkohol dapat memperlambat proses kerusakan otak. 

Menjaga Gaya Hidup Sehat Tetap Menjadi Kunci 

Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit Alzheimer. Oleh karena itu, upaya pencegahan melalui gaya hidup sehat tetap menjadi strategi terbaik. 

Membatasi konsumsi alkohol, menerapkan pola makan bergizi, rutin berolahraga, tidur yang cukup, mengendalikan tekanan darah dan diabetes, serta menjaga aktivitas sosial, diyakini dapat membantu mempertahankan fungsi otak seiring bertambahnya usia. 

Meskipun penelitian terbaru ini masih memerlukan konfirmasi melalui studi pada manusia, para ahli sepakat bahwa, mengurangi konsumsi alkohol berlebihan merupakan salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical News Today

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU