Minggu, 19 JULI 2026 • 14:05 WIB

Dokter Ingatkan Gaya Hidup Modern Jadi Pemicu Pergeseran Kanker pada Perempuan

Author

Ilustrasi kanker payudara (Freepik/diana.grytsku)

INDOZONE.ID - Kanker pada perempuan kini menjadi perhatian serius, seiring perubahan gaya hidup modern yang semakin minim aktivitas fisik.

Senior Consultant Medical Oncologist Parkway Cancer Centre, Singapura Dr. See Hui Ti, menyebut, dalam 20 tahun terakhir, terjadi pergeseran jenis kanker dari serviks ke payudara. Tapi tak menutup kemungkinan, kanker rahim juga akan meningkat.

“Alasan kenapa meningkat, karena berbeda dengan pendahulu kita ya, kakek nenek kita, itu semuanya aktif, mereka bekerja di ladang. Sekarang di kantor, duduk, scrolling-scrolling, itu menyebabkan kurangnya aktivitas fisik yang bisa menyebabkan meningkatnya jumlah kasus kanker pada wanita,” ujarnya dalam Exclusive Media Roundtable & Interview di Jakarta, baru-baru ini. 

Namun dari sekian banyak jenis kanker yang rentan diidap wanita, kanker serviks sebenarnya paling mudah dicegah. Para perempuan disarankan untuk melakukan vaksinasi HPV karena cara ini disebut yang paling paten. 

Baca juga: Pria Wajib Tahu! Ini Hasil Studi Terbaru tentang Manfaat dan Risiko Terapi Testosteron

“Tidak ada cara yang lebih efektif selain vaksinasi. Sebagai orang Indonesia, jika Anda memiliki anak baik laki-laki maupun perempuan, maka vaksinasi HPV sesuai anjuran pemerintah yang kini sudah digulirkan sejak usia sekolah adalah cara yang paling benar," katanya.

Dr. See menegaskan, dengan adanya intervensi dari pemerintah yang memberikan vaksin HPV itu merupakan salah satu cara paling ampuh untuk menanggulangi kanker serviks. 

“Jadi kita mengharapkan kanker serviks akan terus dikurangi setiap tahun, setiap dekade, dan bisa menjadi risiko yang sangat rendah bagi wanita di Indonesia selama 20 tahun.”

“Dengan adanya penanggulangan tadi, kita akan bisa melihat pertahunnya juga makin menurun dalam 10 tahun dan diharapkan akan mencapai angka yang sangat-sangat rendah dalam jangka waktu 20 tahun,” paparnya. 

Baca juga: Perhatian! Vitamin C Ternyata Tidak Efektif Turunkan Asam Urat

Untuk diketahui, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyediakan vaksin HPV secara gratis bagi anak perempuan kelas 5 dan 6 SD. 

Vaksin ini wajib untuk mencegah kanker serviks dan diberikan melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang rutin dilaksanakan setiap bulan Agustus dan November.

Program nasional ini menyasar anak usia 11 dan 12 tahun, serta diberikan sebanyak dua dosis. Pemberian vaksin HPV dinilai sangat penting dan efektif untuk menekan angka kematian akibat kanker leher rahim yang angkanya masih cukup tinggi di Indonesia.

Kemenkes menargetkan cakupan vaksin HPV tersebut sebanyak 90 persen pada anak perempuan usia 15 tahun di tahun 2030. 

Baca juga: Gejala Darah Rendah yang Kerap Dianggap Sepele, Perlu Diwaspadai!

Pencapaian ini akan menjadi tonggak penting dalam upaya pencegahan kanker leher rahim, yang merupakan ancaman kesehatan serius pada perempuan.

Karena itu, Dr. See menegaskan bahwa peluang kesembuhan akan jauh lebih besar apabila kanker ditemukan pada stadium awal. Karena itulah, deteksi dini tetap menjadi hal paling penting. 

Contohnya saja dalam penanggulangan kanker serviks, dengan cara perluasan program vaksinasi HPV memberikan optimisme baru. 

WHO menargetkan eliminasi kanker serviks melalui strategi 90-70-90, yakni 90% anak perempuan menerima vaksin HPV sebelum usia 15 tahun, 70% perempuan menjalani skrining pada usia 35 dan 45 tahun, serta 90% perempuan yang terdiagnosis lesi prakanker maupun kanker serviks memperoleh pengobatan atau penanganan yang sesuai.

Baca juga: Sugar Craving Bikin Diet Gagal? Atasi dengan Cara Ini

"Semakin dini kanker ditemukan, semakin besar peluang pasien memperoleh pengobatan yang efektif sekaligus mempertahankan kualitas hidup yang baik,” ucapnya. 

Sementara itu, untuk kanker payudara biasanya berkembang dalam waktu yang cukup lama. Prosesnya dimulai saat sel abnormal tumbuh di dalam jaringan payudara. 

Seiring waktu, sel-sel ini dapat menginvasi jaringan sekitarnya dan akhirnya menyebar ke tempat yang lebih jauh. Terlebih jika gaya hidupnya tidak dijaga sejak muda, bisa memperbesar peluang mengidap kanker payudara.

Dr. See menjelaskan, kanker payudara tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Penyakit ini berkembang melalui kombinasi predisposisi genetik, pengaruh hormonal, dan faktor gaya hidup.

Baca juga: Batuk Tak Kunjung Sembuh? Kenali Bedanya Batuk TBC dan Batuk Biasa

“Kita melihat beberapa faktor risiko penting, termasuk kerentanan genetik, paparan estrogen dalam jangka panjang, menopause yang terlambat, tidak pernah melahirkan, obesitas, merokok, dan konsumsi alkohol,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa di era saat ini, teknologi berperan sebagai alat bantu penting dalam dunia medis. 

Namun, keputusan terapi tetap harus didasarkan pada penilaian klinis dokter serta kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.

Ia juga mengatakan bahwa kemajuan terapi target, imunoterapi, teknologi diagnostik, dan teknik operasi telah mengubah harapan hidup pasien kanker secara signifikan dibandingkan satu hingga dua dekade lalu.

Baca juga: Ingin Penglihatan Tetap Tajam? Ikuti Tips Menjaga Mata Ini

Selain meningkatkan peluang keberhasilan terapi, berbagai inovasi tersebut juga membantu menjaga kualitas hidup pasien. 

"Bagi pasien, yang paling diingat bukanlah nama obat yang diberikan, melainkan apakah mereka merasa didengar, dipahami, dan didukung dalam lingkungan yang suportif," tutupnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU