Selasa, 28 JULI 2026 • 17:05 WIB

Prevalensi Stunting NTT Capai 37 Persen, Dokter Anak Tekankan Pentingnya Deteksi Dini

Author

Ilustrasi stunting. (Freepik)

INDOZONE.ID - Permasalahan stunting masih menjadi tantangan kesehatan yang dihadapi anak Indonesia. Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menjadi salah satu daerah dengan angka stunting yang tinggi dan perlu dituntaskan.

Data Kemenkes menunjukkan bahwa 19,8% atau sekitar 1 dari 5 anak di Indonesia masih mengalami stunting. Sementara di NTT disebut memiliki angka prevalensi stunting tertinggi kelima di Indonesia, yaitu sebesar 37,0% atau 214.143 anak. 

Kepala Dinas DP3AP2KB Provinsi NTT, drg. Iien Adriany, M.Kes mengungkapkan, salah satu akar masalah stunting di NTT adalah rendahnya pemahaman orang tua mengenai pentingnya 1000 HPK, serta terbatasnya akses terhadap produk nutrisi khusus untuk anak-anak yang menunjukkan gejala gagal tumbuh (pre-stunting). 

Di sinilah pentingnya intervensi gizi spesifik menggunakan Pangan Olahan untuk Kondisi Medis Khusus (PKMK) dan Pangan Diet Khusus (PDK). 

Baca juga: Ancaman Nyata Rokok Bagi Kesehatan Organ Internal

“Kami melihat, PKMK dan PDK bukanlah sekadar susu formula biasa. Namun merupakan pangan yang diformulasikan secara khusus di bawah pengawasan medis untuk mencegah dan mengatasi malnutrisi energi protein dan kalori pada anak yang mengalami risiko tinggi stunting,” paparnya dikutip dari keterangan resmi Dinas DP3AP2KB Provinsi NTT, Selasa (28/7/2026).

Ia menambahkan, untuk mengatasi stunting membutuhkan kerja sama lintas sektor dan menjadikan penurunan stunting sebagai prioritas utama pembangunan pemerintah daerah NTT. 

Di Indonesia, salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) saat ini adalah stunting. 

“Sebagai salah satu provinsi dengan tantangan geografis dan sosio-ekonomi yang unik, NTT kerap mencatatkan angka prevalensi stunting yang cukup tinggi di tingkat nasional,” terangnya. 

Baca juga: Kuku Lepas Sendiri? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Kondisi ini, tambah drg. Lien, bukan sekadar masalah sektor kesehatan,  namun menjadi sebuah ancaman eksistensial terhadap masa depan pembangunan NTT. 

Para orangtua pun mengikuti edukasi pencegahan stunting pada anak, dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2026. 

Pemerintah daerah NTT bersama Sari Husada dan Apotek K-24 pun melaksanakan ‘Festival Sehat Ceria Si Kecil: Anak Sehat Indonesia Hebat' di Kota Kupang.

Lebih lanjut, Dokter Spesialis Anak, dr. Diana Nubatonis, Sp.A menjelaskan, stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis serta infeksi berulang. 

Baca juga: Jangan Sampai Salah Makan! Ini Pantangan bagi Penderita Penyakit Ginjal

Dampaknya tidak hanya mempengaruhi tinggi badan anak, tetapi bisa mengganggu perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitas anak di masa depan. 

“Orangtua diimbau untuk secara rutin memantau tinggi dan berat badan anak, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan guna memastikan tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya,” ujar dr Diana.

Ia menekankan bahwa edukasi secara langsung kepada orang tua menjadi langkah strategis dalam mempercepat pencegahan stunting di tingkat keluarga. 

Menurut sang dokter, deteksi sejak dini menjadi kunci penting agar permasalahan gizi dapat segera ditangani sebelum terlambat. 

Baca juga: Fungsi Hati dan Perannya dalam Menjaga Kesehatan Tubuh

“Bagi orangtua perlu meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya peran mereka dalam menjaga tumbuh kembang optimal anak. Sebab, setiap langkah kecil yang dilakukan orang tua, akan memberikan dampak besar bagi masa depan anak,” tambahnya. 

Dalam kesempatan yang sama, Sales Director Sarihusada, Rizki Imam Ardhi, mengatakan pihaknya terus memantau status gizi dan kesehatan anak di berbagai daerah di Indonesia karena percaya setiap anak berhak tumbuh sehat dan berkembang secara optimal. 

Dalam rangkaian kegiatan, skrining untuk memantau status gizi anak di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pun dilakukan. 

Menurut Rizki, persoalan gizi di Indonesia perlu ditangani melalui pendekatan yang kolaboratif, berbasis ilmu pengetahuan, dan berkelanjutan agar upaya perbaikan gizi dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi tumbuh kembang anak Indonesia.

Baca juga: Kerap Dianggap Tanaman Biasa, Ternyata Ini Manfaat Daun Ungu yang Luar Biasa!

“Kami ingin terus membantu orang tua memahami memantau pertumbuhan anak, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, dan memberikan nutrisi yang tepat, sebagai upaya mencegah stunting pad anak,” ucap Rizki.

Senada, Founder dan CEO Apotek K-24, dr. Gideon Hartono, menegaskan komitmennya dalam mendukung upaya penurunan angka stunting di Indonesia. 

Ia mengingatkan para orangtua untuk memahami pentingnya pemenuhan gizi seimbang, hingga turut deteksi dini untuk mencegah terjadinya stunting.

“Kami ingin meningkatkan pemahaman orangtua tentang pentingnya gizi seimbang, pemantauan tumbuh kembang, dan deteksi dini agar setiap anak memiliki kesempatan tumbuh sehat dan optimal,” tutupnya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dinkes NTT

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU