Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 17 JULI 2025 • 19:30 WIB

Kunci Kemakmuran Pertanian Bali: Subak, Sistem Pertanian Tradisional yang Menjadi Warisan Nusantara

Kunci Kemakmuran Pertanian Bali: Subak, Sistem Pertanian Tradisional yang Menjadi Warisan NusantaraPertanian Subak di Bali (sumber: kemenpar)

INDOZONE.ID - Kamu mungkin pernah lihat sawah bertingkat di Bali yang cantiknya kayak lukisan, tapi tahu nggak sih, di balik semua itu ada sistem pengairan tradisional yang super keren dan filosofis banget, namanya Subak.

Bukan sekadar cara ngalirin air ke sawah, Subak itu adalah warisan budaya dunia yang diakui UNESCO karena menggabungkan teknologi, budaya, dan spiritualitas jadi satu kesatuan yang harmonis.

Apa Itu Subak?

Secara sederhana, Subak adalah sistem irigasi tradisional yang digunakan masyarakat Bali buat ngatur air ke lahan pertanian mereka, khususnya sawah. Tapi jangan salah, Subak bukan cuma soal teknis. Sistem ini udah ada sejak hampir seribu tahun lalu dan terbukti mampu bertahan hingga sekarang karena nilai-nilai luhur yang dikandungnya.

Ada dua jenis Subak yang dikenal di Bali:

  • Subak sawah untuk lahan basah
  • Subak abian untuk lahan kering seperti kebun atau ladang

Uniknya, Subak bukan sistem irigasi yang individual. Semuanya dilakukan bareng-bareng berdasarkan kesepakatan sosial, budaya, dan spiritual.

Baca juga: Smart Farming Berbasis IoT: Solusi Pertanian Modern yang Cerdas dan Berkelanjutan

Filosofi di Balik Subak: Tri Hita Karana

Subak berdiri di atas filosofi Tri Hita Karana, yang artinya tiga penyebab kebahagiaan. Ini prinsip hidup masyarakat Hindu Bali yang percaya bahwa keseimbangan hidup itu datang dari tiga hubungan:

  1. Parahyangan – hubungan manusia dengan Tuhan
  2. Pawongan – hubungan manusia dengan sesama
  3. Palemahan – hubungan manusia dengan alam

Prinsip ini diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari petani Bali. Misalnya, sebelum musim tanam, mereka akan melakukan persembahyangan di Pura Subak, memohon berkah dari Dewi Sri, dewi kesuburan dan kemakmuran.

Pekaseh: Pemimpin Spiritual di Balik Irigasi

Kunci Kemakmuran Pertanian Bali: Subak, Sistem Pertanian Tradisional yang Menjadi Warisan NusantaraPertanian Subak Bali/Freepik

Nggak kalah penting dari sistemnya adalah sosok Pekaseh, pemimpin subak yang punya tanggung jawab bukan cuma soal distribusi air, tapi juga menjaga keselarasan antar petani dan alam.

Pekaseh juga yang menentukan kapan waktu terbaik menanam atau panen, dan jadi penghubung antara urusan teknis dengan upacara keagamaan. Jadi, dia bukan cuma semacam “ketua RT sawah”, tapi juga semacam spiritual manager.

Subak Berarti Gotong Royong, Adil, dan Berkelanjutan

Hal paling keren dari Subak adalah pembagian air yang adil dan transparan. Nggak ada tuh yang curi-curi air. Semua petani punya hak yang sama, dan semuanya berdasarkan musyawarah.

Sistem ini nggak cuma menjamin keberlangsungan pertanian, tapi juga jadi bentuk nyata dari keadilan sosial dan pelestarian alam. Nggak heran kalau UNESCO menetapkan Subak sebagai Warisan Budaya Dunia pada tahun 2012.

Baca juga: Sistem Irigasi Subak di Bali Jadi Kebanggaan Indonesia di World Water Forum ke-10

Jadi, Kenapa Kita Harus Peduli?

Karena Subak itu bukti bahwa kearifan lokal Indonesia bisa jadi solusi modern buat isu lingkungan, ketimpangan sosial, sampai spiritualitas. Di era yang serba instan dan individualis kayak sekarang, sistem Subak ngajarin kita pentingnya hidup selaras dengan alam dan sesama manusia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Kemenparekraf.go.id, Catalogue.nla.gov.au, Unhi.ac.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kunci Kemakmuran Pertanian Bali: Subak, Sistem Pertanian Tradisional yang Menjadi Warisan Nusantara

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!