Diskusi kolaboratif program DFAT (Indozone/Salsabila Az Zahra)
INDOZONE.ID - Kolaborasi platform kemitraan Australia dan Indonesia, KONEKSI, INOVASI, SKALA, dan INKLUSI, mengadakan seminar bertajuk “A Safe and Inclusive Digital Ecosystem for Women, Girls, and Children”.
Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 10 Desember 2025 di Jakarta Library and HB Jassin Literacy Document Center, Taman Ismail Marzuki.
Baca juga: Ali Hadji Dorong Inovasi Pengelolaan Sampah Indonesia Lewat Kolaborasi dan Teknologi
Berangkat dari penggunaan ranah digital yang terus berkembang, mempersempit ruang aman bagi perempuan dan anak, sehingga mereka mudah rentan terhadap ancaman, acara ini berfokus pada dukungan penguatan keamanan digital.
Asisten Deputi Penyediaan Layanan Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus, Kemen PPA, Ciput Eka Purwianti, menjadi salah satu narasumber dalam acara tersebut.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan kasus kekerasan seksual non-kontak yang dialami remaja, menjadi sorotan utama dalam upaya perlindungan anak di ranah digital saat ini.
Berdasarkan survei nasional terbaru, tren stigma yang menyebut anak perempuan sebagai korban utama mulai tergeser, menuntut kewaspadaan kolektif dari masyarakat dan pemerintah.
Baca juga: Jaga Kesehatan Mental di Era Digital: 5 Tips Jitu Detoks dari Gadget
Ciput menyoroti hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak-anak Remaja yang telah dilakukan sebanyak tiga kali, dengan data terakhir yang diambil pada tahun 2024.
Survei tersebut berfokus pada anak remaja usia 13 hingga 17 tahun dan mengukur indikator kekerasan seksual non-kontak.
“Gambaranya antara sedih dan enggak sedih. Jadi kalau anak perempuan turun, tetapi ternyata anak laki-laki naik,” ujarnya.
Data tahun 2024 menunjukkan adanya keseimbangan yang memprihatinkan. Persentase anak remaja laki-laki dan anak remaja perempuan yang mengaku pernah mengalami kekerasan seksual non-kontak sama-sama mencapai angka 4 persen.
Baca juga: Kisah Erin Merryn: Dari Penyintas Kekerasan Seksual Jadi Penggerak Hukum Perlindungan Anak
Ciput mengungkapkan bahwa angka ini menunjukkan peningkatan signifikan pada anak laki-laki dibandingkan data tahun 2021, di mana anak perempuan tercatat 6% dan anak laki-laki hanya 2 persen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan