Ilustrasi penyiksaan. (Freepik)
"Tolong saya, saya disiksa majikan saya," ungkap Meriance pilu.
Meriance, seorang pekerja migran Indonesia yang mencari nafkah di Malaysia, kisah pilunya viral. Meriance seperti tinggal di "neraka", lantaran hampir setiap hari ia disiksa majikannya.
"Aku akan memperjuangkan keadilan sampai saya mati," kata Meriance.
"Saya hanya ingin bisa bertanya kepada mantan majikan, kenapa kamu menyiksa saya?."
Baca Juga: Bentrok Maut Antar Pekerja WNI dengan WNA di Sulteng, Belasan Orang Jadi Tersangka!
Umur 32 tahun, WNI ini memutuskan untuk mencari pekerjaan di luar negeri agar hidup anak-anaknya makmur dan sejahtera.
Meriance ekonominya sulit. Keluarganya hidup di Timor Barat, salah satu desa di NTT.
Di desanya listrik atau air bersih tak ada. Gaji suaminya sebagai buruh harian enggak cukup buat makan.
Meriance menerima tawaran pekerjaan di Malaysia dan bermimpi membangun rumah untuk keluarganya.
Ketika tiba di Kuala Lumpur pada April 2014, yayasan telah menyerahkan paspor dan identitas ke majikan.
Tugasnya "menjaga nenek", ibu majikannya, Serene, yang saat itu berusia 93 tahun.
Setelah 3 minggu mulai bekerja, hidupnya seperti di neraka.
Suatu malam, Serene ingin memasak ikan tetapi tidak menemukannya di lemari es karena Meriance salah memasukkannya ke dalam freezer. Tiba-tiba, Meriance berkata bahwa kepalanya dipukul ikan beku sampai berdarah.
Setelah itu, katanya, dia dipukuli setiap hari.
Meri mengaku enggak pernah boleh keluar dari "neraka". Gerbang apartemen digembong dengan besi plat.
Ada saat-saat Meri ingin mengakhiri hidupnya. Tapi mikirin anak di rumah yang makin tumbuh besar.
"Saya juga berpikir untuk melawan. Tapi kalau aku lawan, aku akan mati."
Kejadian pilu ini puncaknya di akhir 2014. Hidup Meriance selalu enggak tenang berbulan-bulan.
Namun ia tak pernah melawan majikannya, walau tubuhnya disakiti. Dibuat lebam, luka dan berdarah-darah.
Meriance satu dari sekian banyak pekerja rumah tangga yang masuk perangkap majikan. Tiada hari tanpa tangan melayang ke tubuhnya.
Penderitaan Meriance cukup mengerikan. Disebutkan bahwa majikan telah melakukan penyiksaan kejam, memukulinya dengan kejam, mematahkan hidungnya dalam satu kejadian, dan sering menyiksanya dengan besi panas, pinset, palu, tongkat, dan tang.
Delapan tahun berlalu, masih ada bekas luka yang dalam di bibir atasnya, empat giginya hilang dan satu telinganya cacat. Memilukan!
Tapi sekuat apapun, Meriance tidak meninggalkan apartemen neraka itu. Suatu hari, tepatnya 20 Desember 2014, polisi Malaysia mendatangi apartemen suram, tempat tinggal Meriance.
"Polisi berkata 'Jangan takut kami di sini. Saat ada polisi, saya serasa bisa bernapas," ungkapnya pilu.
Baca Juga: Terkuak! Pilot WNI yang Ditangkap di Filipina Rupanya Ingin Pasok Senpi ke KKB
Suaminya Karvius, suami Meriance terkejut dengar kabar istrinya disakiti. Ia hampir sulit mengenali setelah Meriance diselamatkan.
"Saya sangat terkejut ketika mereka menunjukkan foto Meri di rumah sakit."
Pada 2015, polisi mendakwa majikan Meriance, Ong Su Ping Serene, dengan tuduhan menyebabkan luka parah, percobaan pembunuhan, perdagangan manusia, dan pelanggaran imigrasi. Namun majikan kejam itu mengelak, mengaku tidak bersalah.
Meriance pun bersaksi di pengadilan sebelum kembali ke pelukan keluarga tercinta. Dua tahun berlalu, Meriance baru dapat kabar dari kedutaan Indonesia.
Sayang, kabar buruk yang diterimanya. Disebut bahwa jaksa membatalkan hukuman ke majikan keji itu karena alasan enggak cukup bukti.
"Majikan bebas, di mana keadilannya?" tanya duta besar negara untuk Malaysia, Hermono yang bertemu Meriance pada Oktober.
Mencari pembelaan untuk Meriance, kedutaan bahkan melobi penasihat hukum untuk melanjutkan kasus ini.
"Bukannya 5 tahun waktunya cukup. Apalagi Meriance sudah kembali ke rumah."
Artikel Menarik Lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: