Ilustrasi sembelit. (Instagram)
INDOZONE.ID - 1 dari 3 anak toddler mudah mengalami konstipasi atau sembelit. Penyebabnya sangat beragam, namun tidak banyak orangtua yang memahaminya.
Anak sembelit disebabkan karena banyak faktor, seperti pergerakan ususnya yang lambat, perubahan pola makan, menunda buang air besar karena sedang bermain, hingga keseringan sengaja menahan buang air besar (holding-on behavior) karena punya pengalaman buruk toilet.
Dokter Anak Konsultan Gastrohepatologi dr. Ezy Barnita Sp.A(K) mengatakan, kurangnya asupan serat prebiotik membuat anak mengalami sembelit.
Kalau kurang serat, membuat feses yang dihasilkan oleh saluran pencernaan menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan oleh tubuh.
“Sayangnya, 9 dari 10 anak tidak mampu memenuhi asupan serat prebiotik hariannya. Orang tua sering mengasumsikan kalau konstipasi akan menghilang dengan sendirinya,” ujarnya saat peringatan Constipation Awareness Month bersama Bebelac di Jakarta.
Lebih lanjut, menurut studi, prevalensi konstipasi tidak berkurang secara signifikan seiring beranjak dewasa. Banyak anak-anak yang masih mengalami konstipasi hingga remaja dan dewasa.
Baca Juga: Benarkah Bawang Merah dapat Mengatasi Sembelit? Ini Penjelasannya
Ilustrasi anak sembelit. (Freepik)
Penting sekali mencukupi asupan harian serat prebiotik si kecil agar kesehatan pencernaannya terjaga dan mencegahnya dari masalah gangguan pencernaan. Perlu kamu ketahui bahwa serat prebiotik bisa dikonsumsi.
Makanan berasal dari buah-buahan, sayur-mayur, kacang-kacangan, serta beberapa jenis sayuran akar seperti umbi-umbian dan wortel. Prebiotik juga bisa diperoleh dari susu pertumbuhan yang terfortifikasi khusus dengan rasio prebiotik yang tepat.
dr. Ezy Barnita Sp.A(K) menegaskan, konstipasi pada anak-anak tidak dapat dianggap sepele. Saat awal keluhan konstipasi menimbulkan gejala seperti sakit perut, anak menolak makan, tidur terganggu karena anak lapar, selain menjadi lebih rewel.
Kondisi ini juga dapat memicu perubahan perilaku seperti mudah tersinggung, agresif, kasar, bahkan tantrum akibat anak tidak lancar buang air besar. Masalah ini juga dapat menyebabkan gejala fisik seperti kelesuan serta nafsu makan yang buruk pada anak.
“Monitoring pup si Kecil secara rutin akan membuat orangtua menyadari saat ada gejala mendekati konstipasi, misalnya tekstur pupnya mulai keras meskipun masih BAB rutin, atau BAB mulai jarang meskipun tekstur pupnya masih lunak,” tambahnya.
Baca Juga: Kerap Dibikin Ribet sama Sembelit? Berikut 11 Makanan Terbaik untuk Mengatasinya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung