INDOZONE.ID - Di tahun 2025 ini, hidup makin sibuk, dunia makin cepat, dan layar makin dominan. Bangun tidur langsung cek HP, kerja di depan laptop, istirahat sambil scroll TikTok, malamnya Netflix-an.
Tanpa sadar, kita ngabisin lebih dari setengah hari cuma buat mantengin layar.
Pertanyaannya, masih bisa nggak sih kita lepas dari semua itu? Atau jangan-jangan digital detox sekarang bukan cuma tren iseng, tapi emang udah jadi kebutuhan mendesak?
Baca juga: Kapan Sebaiknya Pasien Gagal Ginjal Boleh Tranplantasi? Ini Jawaban Dokter
Sederhananya, digital detox adalah jeda sementara dari layar dan dunia digital. Tujuannya? Biar kita bisa istirahat dari notifikasi, konten nonstop, dan tekanan buat selalu “online”.
Detox ini bisa sesingkat 30 menit tanpa HP sampai liburan full tanpa internet. Intinya, ngasih ruang buat diri sendiri dari hiruk-pikuk digital yang terus-terusan jalan.
Riset terbaru nunjukin kalau rata-rata orang sekarang habisin lebih dari 9 jam sehari di depan layar. Ini belum termasuk yang multitasking! Akibatnya?
Banyak. Mulai dari kelelahan mata, gangguan tidur, sampai stres yang numpuk diam-diam.
Baca juga: Dokter Marwan Direktur RS Indonesia di Gaza Meninggal Dibom Israel, Parahnya Lagi Pakai AI
Pernah ngerasa susah fokus? Bisa jadi karena terlalu sering lompat dari satu notifikasi ke yang lain.
Multitasking digital bikin otak capek, dan ini nyeret produktivitas turun drastis. Digital detox bisa bantu otak kita reset dan balik fokus ke hal-hal penting.
Medsos emang seru, tapi juga bisa jadi sumber kecemasan. Terlalu sering ngeliat “hidup sempurna” orang lain bisa bikin kita merasa kurang, minder, bahkan depresi.
Dengan rehat dari dunia maya, kita bisa balik terhubung sama diri sendiri—bukan algoritma.
Baca juga: Terjebak dalam Hubungan Tidak Sehat? Ini Cara Mengenali dan Menyembuhkan Luka dari Hubungan Toxic
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Glaziang.com, Itp.net