Ilustrasi batu empedu. (Freepik)
INDOZONE.ID - Kanker empedu merupakan salah satu jenis kanker paling agresif dan berisiko tinggi, namun masih belum banyak dikenal masyarakat luas.
Kanker empedu dibagi menjadi dua jenis, yaitu kanker kantong empedu (gallbladder cancer) dan kanker saluran empedu (cholangiocarcinoma).
Kanker kantong empedu terjadi pada organ kecil yang menyimpan empedu untuk pencernaan dan menyalurkannya ke organ-organ saluran cerna dan sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal.
Baca juga: Segera Hindari! Ini 3 Makanan yang Dapat Memicu Gejala Kantong Empedu
Hal ini menyebabkan diagnosis cenderung terlambat, ketika penyakit telah menyebar ke organ lain dan peluang kesembuhan semakin menurun. Sementara itu, kanker saluran empedu terjadi pada saluran empedu, yaitu tabung-tipis yang menghubungkan hati, kantong empedu, dan usus kecil.
Kanker saluran empedu dapat dibagi lagi menjadi tiga jenis berdasarkan lokasinya: perihilar (di dekat persimpangan saluran empedu), distal (di dekat usus kecil), dan intrahepatik (di dalam hati), di mana sebanyak 15-20% penyebab dari kanker hati disebabkan oleh kanker saluran empedu (kolangiokarsinoma) intrahepatik.
Terdapat 60-70% pasien kanker empedu didiagnosis pada stadium lanjut yang tidak bisa dilakukan tindakan operasi metastatik.
Kejadian kanker kandung empedu secara global adalah 2.2/100.000 pada pria dan 2.4/100.000 pada wanita, serta untuk kanker saluran empedu adalah kurang dari 2/100.000 orang. Dari seluruh pasien kanker empedu, survival rate dalam 5 tahun hanya kisaran 5-15%.
Prof. Dr. dr. Ikhwan Rinaldi. (INDOZONE/Nadya Mayangsari) (INDOZONE/Nadya Mayangsari)
Prof. Dr. dr. Ikhwan Rinaldi mengatakan bahwa gejala awal kanker empedu kerap disalahartikan atau tidak disadari. Gejala tersebut meliputi nyeri di perut kanan atas, penyakit kuning, urin gelap, tinja pucat, mual, penurunan berat badan tanpa sebab, hingga gatal-gatal.
Adapun faktor risikonya meliputi batu empedu, infeksi parasit, kelainan saluran empedu, penyakit hati kronis seperti sirosis dan hepatitis, usia lanjut, obesitas, riwayat keluarga, serta paparan bahan kimia tertentu.
"Penting untuk dipahami bahwa memiliki satu atau lebih faktor risiko bukan berarti pasti terkena kanker, namun kewaspadaan dan pemeriksaan rutin sangat disarankan," ujar Prof. Ikhwan saat jumpa pers di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (8/7/2025).
Operasi/Tindakan bedah yang bertujuan untuk kesembuhan adalah pilihan pengobatan utama untuk kanker empedu yang masih bisa dioperasi.
Setelah dioperasi, terapi tambahan/adjuvant dengan obat-obatan direkomendasikan berdasarkan guidelines internasional untuk mengurangi risiko kekambuhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung