INDOZONE.ID - Buat sebagia orang, istilah keratokonus mungkin begitu asing didengar. Padahal, kondisi tersebut merupakan gangguan penglihatan yang terjadi ketika kornea mata—bagian depan mata yang biasanya berbentuk bulat—menjadi tipis dan membentuk kerucut.
Perubahan bentuk ini, menyebabkan cahaya yang masuk ke mata tidak dapat difokuskan secara tepat ke retina. Sehingga, penglihatan menjadi buram dan terdistorsi.
Dikutip dari American Optometric Association, ada beberapa faktor yang berperan dalam berkembangnya keratokonus antara lain:
Baca juga: Hati-hati! Kopi Instan Dianggap Bisa Tingkatkan Risiko Gangguan Penglihatan hingga Tujuh Kali Lipat
Pada tahap awal, keratokonus dapat menimbulkan gejala seperti:
Gejala biasanya mulai muncul pada usia remaja akhir atau awal 20-an. Kondisi ini dapat terus memburuk selama 10 hingga 20 tahun, sebelum akhirnya melambat.
Keratokonus bisa memengaruhi kedua mata secara berbeda. Seiring perkembangan penyakit, kornea semakin menonjol dan bentuknya semakin tidak beraturan, yang menyebabkan gangguan penglihatan makin parah.
Ilustrasi mata yang mengalami tanda keratokonus. (photo/istock/VladimirFLoyd)
Dalam beberapa kasus, kornea bisa membengkak secara tiba-tiba akibat pecahnya jaringan tipis akibat tekanan bentuk kerucut. Pembengkakan ini dapat berlangsung selama beberapa minggu atau bulan, sebelum akhirnya sembuh dan digantikan jaringan parut.
Jika hal tersebut terjadi, dokter dapat meresepkan obat tetes mata untuk mengurangi ketidaknyamanan sementara.
Pemeriksaan rutin ke dokter optometri sangat penting, untuk mengukur kelengkungan kornea dan mendeteksi adanya astigmatisme tidak beraturan sejak dini.
Baca juga: Waspadai Keratitis, Peradangan Kornea yang Dapat Ganggu Penglihatan
Penanganan keratokonus tergantung pada tingkat keparahan kondisi:
Oleh karena itu, keratokonus bukanlah kondisi yang dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, gejala dapat dikendalikan, dan kualitas penglihatan dapat ditingkatkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: American Optometric Association