ilustrasi suplemen minyak ikan (pixabay/Steve Buissinne)
Minyak ikan adalah sumber makanan yang kaya akan asam lemak omega-3.
Tubuh membutuhkan asam lemak omega-3 untuk berbagai fungsi, mulai dari aktivitas otot hingga pertumbuhan sel.
Asam lemak omega-3 berasal dari makanan dan tidak dapat diproduksi oleh tubuh.
Minyak ikan mengandung dua jenis omega-3 yang disebut asam docosahexaenoic (DHA) dan eicosapentaenoic (EPA).
Sumber makanan dari DHA dan EPA adalah ikan berlemak, seperti salmon, mackerel, dan trout, serta kerang, seperti kerang, tiram, dan kepiting.
Baca juga: Kemenkes Beri Tips Tubuh Gak Gampang Drop di Cuaca Panas Ekstrem
Beberapa jenis kacang, biji-bijian, dan minyak nabati mengandung jenis omega-3 lain yang disebut alpha-linolenic acid (ALA).
Minyak ikan biasanya tersedia dalam bentuk cairan, kapsul, dan pil.
Banyak orang mengonsumsi minyak ikan karena efek antiinflamasi yang dimilikinya.
Namun, penting untuk memahami efek sampingnya sebelum mengonsumsinya secara teratur.
Ilustrasi minyak ikan (Unsplash/Kayla Maurais)
Untuk kesehatan umum, banyak organisasi kesehatan merekomendasikan asupan minimal 250–500 miligram kombinasi EPA (asam eicosapentaenoic acid) dan DHA (asam docosahexaenoic acid) setiap hari, atau setara dengan 2 porsi ikan berlemak per minggu.
Baca juga: BMKG Ungkap Jam Krusial Hindari Sinar Matahari Langsung di Tengah Suhu Panas
Orang dengan kondisi kesehatan tertentu seperti penyakit jantung atau kadar trigliserida tinggi mungkin memerlukan dosis yang lebih tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline