INDOZONE.ID - Menjadi ibu adalah momen berharga yang penuh makna bagi setiap perempuan. Namun, bagi mereka yang pernah melawan kanker payudara, muncul pertanyaan besar, apakah menyusui setelah kanker payudara aman dilakukan?
Apakah aktivitas ini bisa memicu kekambuhan atau membahayakan kondisi tubuh?
Kabar baiknya, hasil dua penelitian besar yang dipresentasikan dalam Kongres European Society for Medical Oncology (ESMO) 2024 menunjukkan, menyusui aman bagi penyintas kanker payudara.
Terlebih bagi mereka yang memiliki mutasi gen BRCA1/2 atau kanker dengan reseptor hormon positif.
Ilustrasi wanita kena kanker payudara (Freepik/diana.grytsku)
Penelitian pertama, POSITIVE Trial, melibatkan 518 perempuan penyintas kanker payudara stadium I–III dengan reseptor hormon positif.
Peserta berusia di bawah 42 tahun dan telah menjalani terapi endokrin selama 18-30 bulan, sebelum menghentikan sementara untuk hamil dan menyusui.
Baca juga: 8 Ciri Kanker Payudara yang Sering Diabaikan Perempuan, Waspada!
Dari 317 perempuan yang berhasil melahirkan, sebanyak 196 di antaranya mampu menyusui dengan durasi rata-rata 4,4 bulan.
Hasil penelitian ini menunjukkan, menyusui setelah kanker payudara tidak meningkatkan risiko kekambuhan kanker.
Dalam masa pemantauan selama 41 bulan, angka kekambuhan antara kelompok yang menyusui dan yang tidak hampir sama, yakni 1,1 persen vs 1,9 persen setelah satu tahun, serta 3,6 persen vs 3,1 persen setelah dua tahun.
Profesor Fedro Peccatori dari European Institute of Oncology di Italia menjelaskan, sebagian besar pasien yang ingin menyusui ternyata bisa melakukannya, dan hasilnya membuktikan hal itu aman.
Penelitian kedua, BRCA BCY Collaboration, melibatkan 4.904 perempuan penyintas kanker payudara yang memiliki mutasi gen BRCA1 atau BRCA2, semuanya didiagnosis sebelum usia 40 tahun.
Temuan ini menunjukka,n tidak ada perbedaan signifikan dalam risiko kekambuhan kanker maupun tingkat kesintasan antara ibu yang menyusui dan yang tidak selama tujuh tahun pengamatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Betterhealthfacts.com