Ilustrasi penyakit mata. (Foto oleh cottonbro dari Pexels)
INDOZONE.ID – Gangguan penglihatan akibat penyakit retina kini menjadi perhatian serius di Indonesia. Banyak penyakit mata yang menyerang retina namun belum populer dan jarang disadari.
Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan, sekitar 5 hingga 6 juta orang mengalami gangguan penglihatan, dengan target penurunan kasus retinopati diabetik sebesar 25% pada tahun 2030.
Dalam ajang Roche Retina Summit, para ahli mata dunia memaparkan hasil studi terbaru yang menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengobatan penyakit retina, terutama lewat terapi Faricimab.
Obat ini dinilai efektif memperpanjang interval pengobatan hingga empat bulan sekali bagi lebih dari 60% pasien. Karena dapat mengurangi frekuensi kunjungan ke rumah sakit dan beban biaya jangka panjang.
Spesialis Bedah Retina dari Universitas Nasional Uveitis Singapura Dr. Yuen Yew Sen
Spesialis Bedah Retina dari Universitas Nasional Uveitis Singapura Dr. Yuen Yew Sen menjelaskan bahwa penanganan dini sangat penting bagi pasien dengan RVO atau stroke mata.
“Menunda pengobatan bisa menyebabkan kerusakan penglihatan permanen, atau hasil pemulihan yang tidak optimal meski bengkaknya sembuh,” katanya di Jakarta.
Ia menambahkan, Faricimab yang kini sudah disetujui untuk pengobatan RVO di Indonesia, terbukti efektif memperbaiki penglihatan, mengurangi pembengkakan retina, dan menurunkan frekuensi suntikan mata dalam jangka panjang.
Menambahkan perspektif lokal, Ketua Vitreo-Retina Service dan Chief Medical Director di JEC Eye Hospitals & Clinics Dr. dr. Elvioza, SpM(K) memaparkan hasil Studi SALWEEN yang dilakukan di Asia dan dipublikasikan di Kongres Retina EURETINA di Paris, September 2025 lalu.
“Studi SALWEEN menyediakan bukti kuat dalam menangani PCV, yaitu benjolan polip pada pembuluh darah di sekitar retina,” ujar dr. Elvioza.
Menurutnya, hasil studi tersebut menunjukkan Faricimab mampu menghilangkan polip (regresi polip) hingga 61%, dan sekitar 83% pasien bisa memperpanjang interval injeksi hingga tiga bulan atau lebih.
Dengan hasil ini, pasien berpeluang mendapatkan penglihatan yang lebih baik tanpa harus sering bolak-balik ke rumah sakit.
“Dengan data terbaru ini, kami berharap pasien mendapat hasil optimal dengan beban pengobatan yang lebih ringan,” tambahnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan