Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 12 NOVEMBER 2025 • 14:10 WIB

Psikolog Sebut Ledakan di SMA 72 Jadi Alarm Serius: Sekolah Harus Peduli Kesehatan Mental Siswa

Psikolog Sebut Ledakan di SMA 72 Jadi Alarm Serius: Sekolah Harus Peduli Kesehatan Mental SiswaIlustrasi psikolog sebut ledakan di SMA 72 jadi alarm serius. (ANTARAFOTO/Muhammad Rizky Febriansyah/app/bar)

INDOZONE.ID - Insiden ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta yang terjadi beberapa waktu lalu kembali membuka luka lama, yakni masalah bullying dan kesehatan mental remaja di sekolah

Lebih mengejutkan lagi, pelaku yang diduga memicu ledakan ternyata juga merupakan korban perundungan di lingkungan sekolahnya.

Psikolog Tika Bisono menilai peristiwa itu bukan sekadar kasus tunggal, melainkan potret kegagalan sistem pendidikan dalam melindungi kesejahteraan psikologis siswa.

Baca juga: Tanda Anak Stres Bisa Terlihat dari Kamarnya, Ini Penjelasan Psikolog

"Setiap manusia punya batas daya tampung emosi," ujar Psikolog Tika Bisono kepada Indozone, Selasa (11/11/2025).

Menurut Tika, tindakan ekstrim seperti ini biasanya terjadi karena seseorang sudah tidak sanggup lagi menahan tekanan yang terus menumpuk tanpa penyaluran yang sehat.

"Manusia itu punya semacam reservoir untuk menampung hal-hal negatif. Tapi kalau terus diisi tanpa ada penyaluran, akhirnya luber," jelasnya.

Ia menggambarkan kondisi mental manusia seperti gelas yang terus diisi air. Ketika penuh dan tidak segera dikosongkan, air akan meluap, begitu juga dengan emosi.

"Yang sehat mental itu justru mereka yang tahu kapan dan bagaimana menyalurkan isi gelasnya sebelum luber," tambahnya.

Jika tekanan itu dibiarkan tanpa outlet yang sehat, maka emosi negatif akan masuk ke alam bawah sadar dan menjadi trauma tak terselesaikan. 

Ketika daya tahan mental seseorang runtuh, tindakan ekstrim seperti melukai diri sendiri atau orang lain bisa terjadi.

Remaja Butuh Pendampingan, Bukan Penghakiman

Psikolog Sebut Ledakan di SMA 72 Jadi Alarm Serius: Sekolah Harus Peduli Kesehatan Mental SiswaIlustrasi remaja atau siswa dengan isu kesehatan mental. (Freepik)

Tika menekankan bahwa masa remaja adalah fase paling rentan dalam perkembangan manusia, fase transisi antara anak-anak dan dewasa, di mana identitas diri sedang terbentuk.

"Remaja itu lagi butuh banget penerimaan, pengertian, dan pendampingan. Tapi seringkali, justru yang mereka dapat adalah tekanan dan penghakiman," jelas Tika.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Psikolog Sebut Ledakan di SMA 72 Jadi Alarm Serius: Sekolah Harus Peduli Kesehatan Mental Siswa

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!