Ilustrasi seseorang mengalami migrain dengan aura. (Freepik)
INDOZONE.ID - Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa yang hilang dengan tidur atau obat pereda nyeri. Banyak orang tidak sadar bahwa pemicunya sering kali berasal dari tekanan sehari-hari seperti rasa cemas, tuntutan pekerjaan, atau situasi serba buru-buru yang memicu peningkatan hormon stres dan membuat otak lebih sensitif terhadap nyeri hingga akhirnya memicu serangan migrain.
Penelitian menunjukkan stres, baik fisik maupun emosional, menjadi pemicu paling umum bagi penderita migrain dan sering berkaitan dengan kondisi seperti kecemasan atau depresi. Lebih kompleks lagi, stres dan migrain dapat membentuk siklus berulang: stres memicu migrain, dan migrain memperburuk stres. Jika tidak dikelola, kondisi ini bisa berdampak pada kualitas tidur, mood, dan respons tubuh terhadap rasa sakit.
Baca juga: Migrain Kronis Bisa Lumpuhkan Aktivitas, Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya!
Migrain sangat terkait dengan sistem saraf, sehingga tidak mengherankan jika stres memiliki peran besar dalam memicunya. Saat tubuh mengalami tekanan, hormon stres dapat meningkat dan membuat otak lebih sensitif terhadap rasa sakit. Jika stres berlangsung lama, perubahan pada sistem saraf dapat memengaruhi cara tubuh memproses nyeri, sehingga serangan migrain lebih mudah muncul.
Selain itu, ada fenomena yang disebut let-down headache, yaitu migrain yang justru muncul setelah masa sibuk, seperti setelah ujian, event besar, atau deadline pekerjaan. Faktor lain seperti perubahan hormon, kualitas tidur yang berantakan, dan tekanan emosional juga dapat meningkatkan risiko migrain muncul lebih sering.
Gejala migrain akibat stres sebenarnya mirip dengan migrain pada umumnya. Beberapa ciri yang paling sering muncul meliputi:
Karena gejalanya mirip tipe sakit kepala lain, pemeriksaan medis tetap disarankan untuk memastikan penyebabnya.
Mengatasi migrain bukan hanya soal minum obat ketika serangan datang, tetapi juga mencegahnya sejak awal. Strategi yang bisa membantu antara lain:
Dengan kebiasaan yang konsisten, intensitas dan frekuensi migrain biasanya bisa berkurang.
Baca juga: Tips untuk Mengurangi Migrain dan Meningkatkan Kualitas Tidur
Jika migrain muncul lebih sering, durasinya semakin panjang, atau gejalanya berbeda dari biasanya, segera konsultasikan ke tenaga medis. Penanganan tepat sejak awal dapat membantu mencegah kondisi makin berat.
Setiap orang punya pemicu migrain yang berbeda. Ada yang sensitif terhadap stres, ada yang dipicu hormon, makanan tertentu, atau kurang tidur. Membuat jurnal kecil tentang kapan migrain muncul dan apa yang kamu lakukan sebelumnya bisa membantu menemukan polanya.
Semakin kamu paham sinyal tubuhmu, semakin mudah kamu mencegah serangan sebelum terjadi. Migrain mungkin tidak bisa hilang sepenuhnya, tetapi dengan strategi yang tepat, kamu bisa mengontrolnya bukan sebaliknya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Brisbanemigraine.com.au