Ilustrasi Puasa Ramadan. (Foto: Freepik)
INDOZONE.ID - Bulan Ramadan selalu menjadi momen spesial bagi umat Muslim di seluruh dunia.
Selama sekitar 30 hari, umat Islam menahan diri dari makan, minum, dan berbagai kebutuhan fisik sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.
Selain bernilai ibadah, banyak orang juga percaya puasa membawa dampak positif bagi kesehatan.
Lalu, secara ilmiah, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh ketika kita berpuasa?
Baca juga: 7 Tips Membawa Bayi Bepergian Jauh Naik Mobil Anti Rewel
Dalam dunia medis, pola puasa Ramadan sering dibandingkan dengan metode intermittent fasting, yaitu pola makan yang membatasi waktu konsumsi makanan.
Ketika tubuh tidak menerima makanan selama sekitar 12–16 jam, cadangan energi dari glukosa mulai berkurang dan tubuh beralih menggunakan lemak sebagai bahan bakar.
Namun ada perbedaan penting. Selama Ramadan, seseorang juga tidak minum pada siang hari.
Hal ini membuat potensi dehidrasi sedikit lebih tinggi, terutama jika aktivitas fisik berat dilakukan atau cuaca sedang panas.
Selain itu, perubahan jadwal tidur yang sering terjadi selama Ramadan juga dapat memengaruhi ritme metabolisme tubuh.
Ketika cadangan energi berupa glikogen mulai menipis, tubuh secara otomatis menyesuaikan diri.
Produksi hormon insulin menurun, sementara proses pembakaran lemak meningkat.
Pada tahap ini, tubuh juga mulai memproduksi keton, yaitu zat yang dihasilkan dari pemecahan lemak dan digunakan sebagai sumber energi alternatif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Universityofcalifornia.edu