Ilustrasi buka puasa Ramadhan (Freepik)
INDOZONE.ID - Selama lebih dari 1.400 tahun, sekitar 1,8 miliar umat Muslim di berbagai belahan dunia menjalani puasa dari terbit fajar hingga matahari terbenam selama bulan Ramadan.
Bagi umat Islam, ini adalah ibadah penuh makna spiritual. Namun di sisi lain, praktik ini juga menarik perhatian para ilmuwan.
Banyak peneliti melihat Ramadan sebagai semacam “laboratorium alami” berskala besar.
Pasalnya, jutaan orang dengan usia, pola makan, kondisi kesehatan, dan lingkungan yang berbeda menjalani pola puasa yang sama secara bersamaan.
Hal ini memberikan peluang unik bagi dunia medis untuk memahami bagaimana tubuh manusia bereaksi terhadap pola makan terbatas waktu.
Baca juga: Alami Pendarahan hingga Jalani Empat Prosedur Operasi Sekaligus, Chelsea Olivia Sakit Apa?
Sejumlah penelitian pun mulai mengungkap berbagai efek puasa Ramadan terhadap kesehatan, mulai dari pengendalian gula darah, kadar kolesterol, berat badan, hingga proses peradangan dalam tubuh.
Salah satu hal yang sering diteliti adalah dampak puasa Ramadan terhadap kadar gula darah.
Beberapa studi menemukan bahwa selama jam puasa, kadar gula darah harian bisa sedikit meningkat.
Namun setelah Ramadan berakhir, kontrol gula darah jangka panjang justru cenderung membaik.
Pada penelitian terhadap orang yang berisiko penyakit jantung, misalnya, kadar gula harian sempat naik selama Ramadan.
Baca juga: Bahaya Obesitas bagi Kesehatan, Faktor Penyebab, dan Cara Mencegahnya
Meski begitu, setelah bulan puasa selesai, kadar HbA1c — indikator rata-rata gula darah jangka panjang—justru menurun.
Puasa juga diketahui dapat meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga tubuh lebih efisien menggunakan gula sebagai energi dan berpotensi menurunkan risiko diabetes.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: En.hespress.com