Ilustrasi alergi serbuk sari. (Freepik)
INDOZONE.ID - Para penderita alergi musiman di seluruh dunia mendapat pukulan ganda dari perubahan iklim.
Suhu yang naik menyebabkan musim serbuk sari (pollen) lebih panjang dan kadar serbuk sari di udara lebih tinggi.
Namun yang lebih mengkhawatirkan, pemanasan global juga memicu fenomena ekstrem yang disebut "asma badai petir" (thunderstorm asthma).
Pada 21 November 2016 di Melbourne, Australia, udara berubah mematikan.
Baca juga: Kapan Bayi Perlu Vaksin Campak? Simak Jadwal dan Efek Sampingnya
Saluran telepon darurat meledak, orang-orang yang kesulitan bernapas membanjiri rumah sakit, dan ambulans tak mampu menjangkau pasien yang terjebak di rumah.
Sepuluh orang tewas, termasuk seorang mahasiswa hukum berusia 20 tahun yang meninggal di halaman rumahnya sambil menunggu ambulans.
Apa Itu Asma Badai Petir?
Fenomena langka namun mematikan ini terjadi ketika jenis badai tertentu memecah butiran serbuk sari di udara menjadi fragmen yang sangat kecil.
Partikel-partikel ini kemudian tersebar dan terhirup oleh orang-orang di bawahnya. Yang berbahaya, reaksi alergi bisa terjadi bahkan pada mereka yang sebelumnya tidak memiliki asma.
Baca juga: Jangan Dipencet! Ini Cara Aman Mengobati Bisul agar Cepat Sembuh
Begitu banyak orang yang terkena dampak, ruang gawat darurat melihat delapan kali lipat lebih banyak orang datang dengan masalah pernapasan dibandingkan hari normal.
Di banyak wilayah, termasuk AS, Eropa, dan Australia, alergi musiman kini mempengaruhi lebih banyak orang, dalam musim yang lebih panjang, dengan gejala yang lebih parah.
Musim serbuk sari dimulai lebih awal dan berlangsung lebih lama karena suhu yang naik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BBC