INDOZONE.ID — Di tengah gaya hidup serba cepat dan tekanan hidup yang kian tinggi, stres kini bukan hanya menjadi beban emosional, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan jantung. Terlebih, bagi mereka yang berada di usia 30–40 tahun.
Bahkan, tanpa gejala khas seperti nyeri dada, banyak orang berisiko mengalami serangan jantung secara diam-diam.
Dalam wawancaranya bersama Hindustan Times, Konsultan Senior Bedah Kardiovaskular dan Aorta di Indraprastha Apollo Hospital, New Delhi, dr. Niranjan Hiremath, mengungkap, stres kronis dan pola hidup yang tidak sehat saat ini, menjadi pemicu utama gangguan jantung di usia produktif.
Stres Kronis dan Dampaknya yang Tidak Terlihat pada Jantung
Stres yang berkepanjangan, membuat tubuh terus berada dalam kondisi siaga. Hormon seperti kortisol dan adrenalin, yang semestinya aktif hanya dalam keadaan darurat, tetap tinggi dalam waktu lama.
Akibatnya, detak jantung meningkat, tekanan darah naik, dan peradangan di pembuluh darah mulai terbentuk secara perlahan.
Gejala awal penyakit jantung tidak selalu jelas. Banyak orang tampak sehat, namun mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan jantung. Bahkan, fenomena silent heart attack atau serangan jantung tanpa gejala khas semakin sering terjadi.
Keluhan ringan seperti rasa tidak nyaman di perut, kelelahan, atau gangguan pencernaan sering diabaikan.
Baca juga: Ganti Duduk Selama 30 Menit dengan Aktivitas Fisik, Bisa Cegah Serangan Jantung Kedua
Usia Muda Bukan Jaminan Bebas dari Penyakit Jantung
Dulu, penyakit jantung dianggap sebagai penyakit orang lanjut usia. Namun kini, dengan pola tidur yang buruk, konsumsi makanan cepat saji, kurang olahraga, serta tekanan kerja yang tinggi, risiko penyakit jantung dapat menyerang lebih awal.
Sayangnya, banyak anak muda yang memilih jalan pintas untuk mengatasi tekanan, seperti konsumsi kafein berlebih, merokok, atau makan makanan tinggi gula dan lemak. Kebiasaan ini, justru memperburuk kondisi jantung secara perlahan.
Kebiasaan Kecil yang Punya Dampak Besar
Menurut dr. Hiremath, menjaga kesehatan jantung tidak harus melalui perubahan drastis. Langkah sederhana seperti konsumsi makanan seimbang, olahraga minimal 30 menit setiap hari, tidur teratur, dan mengurangi paparan layar, dapat memberikan manfaat besar.
Aktivitas seperti yoga, pernapasan dalam, hingga berjalan kaki saat jeda kerja, terbukti mampu menurunkan kadar stres.
Ia juga menegaskan, pentingnya deteksi dini. Banyak pasien menyesal, karena menunggu hingga muncul nyeri dada atau sesak napas untuk memeriksakan diri.
Padahal, pemeriksaan jantung rutin, terutama bagi penderita diabetes, hipertensi, atau kolesterol tinggi, sangat disarankan sejak usia 30-an.
Pemeriksaan Rutin Lebih Baik dari Penyesalan
Penyakit jantung seringkali memberikan sinyal halus sebelum menyerang. Melewatkan pemeriksaan atau mengabaikan rasa tidak nyaman di dada, bisa berakibat fatal.
Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya pemeriksaan dini, menjadi kunci utama dalam pencegahan.
Pemeriksaan sederhana seperti EKG, tes darah, profil lipid, hingga treadmill test, dapat mengungkap potensi masalah jantung. Teknologi terbaru seperti coronary calcium scoring dan high-sensitivity troponin juga kini semakin mudah diakses.
Baca juga: Hati-Hati, Ini 7 Tanda Jantung Bermasalah pada Wanita yang Sering Diabaikan
Bahkan, jam tangan pintar sudah mampu mendeteksi detak jantung tidak beraturan, termasuk risiko atrial fibrillation, penyebab umum stroke. Bagi yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung atau mengidap kondisi metabolik, pemeriksaan tahunan harus dimulai lebih awal.
Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
Penyakit jantung, kini menjadi penyebab kematian nomor satu di India, dan sebagian besar negara berkembang, termasuk Indonesia. Data menunjukkan, hampir satu dari empat kematian terkait dengan gangguan jantung, dan jumlah kasus pada usia muda terus meningkat.
Oleh karena itu, penting untuk tidak menunggu gejala muncul. Deteksi dini dan perubahan gaya hidup dapat menyelamatkan nyawa. Dalam dunia yang terus bergerak cepat, melambat dan menjaga keseimbangan hidup bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Hindustan Times